Kotbah Uskup Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Minggu Biasa XII

Minggu, 21 Juni 2026

Yer 20:10-13; Mzm 69:8-10,14,17,33-35; Rom 5:12-15; Mat 10:26-33

“Jangan Takut, Sebab Kamu Sangat Berharga di Mata Allah”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Salah satu pengalaman paling manusiawi adalah rasa takut. Kita takut kehilangan kesehatan, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang kita cintai, kehilangan masa depan, kehilangan nama baik, bahkan kadang-kadang takut mempertahankan iman kita sendiri. Banyak orang tampak kuat di luar, tetapi menyimpan banyak ketakutan di dalam hati. Karena itu sangat menarik bahwa dalam Injil hari ini Yesus berulang kali mengucapkan kalimat yang sama: “Jangan takut.” Rupanya Tuhan tahu bahwa salah satu pertempuran terbesar manusia bukanlah melawan dunia di luar, melainkan melawan ketakutan di dalam dirinya sendiri.

Bacaan pertama memperlihatkan pengalaman Nabi Yeremia. Ia bukan nabi yang hidup nyaman. Ia diejek, ditolak, diawasi, bahkan dicari-cari kesalahannya. Orang-orang di sekelilingnya menunggu saat kejatuhannya. Secara manusiawi, Yeremia memiliki banyak alasan untuk takut. Namun yang mengagumkan, Yeremia tidak menyerahkan hidupnya kepada ketakutan itu. Ia menyerahkan perkaranya kepada Tuhan. Ia berkata bahwa Tuhanlah yang menyelidiki hati dan batin manusia. Yeremia mengajarkan kepada kita bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki ketakutan. Keberanian berarti membawa ketakutan itu kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan menjadi hakim terakhir atas hidup kita.

Pengalaman yang sama juga dialami oleh para murid Yesus. Ketika Yesus mengutus mereka, Ia tidak menjanjikan hidup yang mudah. Ia tidak mengatakan bahwa semua orang akan menerima mereka. Sebaliknya, mereka akan mengalami penolakan, ejekan, bahkan penganiayaan. Injil tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan bebas dari masalah. Yang dijanjikan Yesus adalah bahwa iman dapat bertahan di tengah masalah. Yang dijanjikan bukan hilangnya badai, melainkan kehadiran Tuhan di dalam badai itu.

Karena itu Yesus berkata:

«“Jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa.”»

Kalimat ini mengubah cara pandang kita. Sering kali kita terlalu takut kehilangan hal-hal yang sementara, tetapi kurang takut kehilangan hal-hal yang kekal. Kita takut kehilangan uang, tetapi tidak takut kehilangan integritas. Kita takut kehilangan jabatan, tetapi tidak takut kehilangan hati nurani. Kita takut ditolak manusia, tetapi tidak takut menjauh dari Tuhan. Yesus mengajak kita menata kembali urutan nilai hidup. Kebenaran Allah lebih besar daripada opini manusia. Keselamatan jiwa lebih berharga daripada kenyamanan sesaat.

Lalu Yesus memberikan gambaran yang sangat indah:

«“Bukankah dua ekor burung pipit dijual dengan satu duit? Namun seekor pun tidak akan jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan Bapamu.”»

Dan sesudah itu Yesus menambahkan:

«“Kamu jauh lebih berharga daripada banyak burung pipit.”»

Inilah dasar terdalam mengapa orang beriman tidak perlu hidup dalam ketakutan. Kita tidak hidup di dunia yang dikuasai nasib atau kebetulan. Kita hidup di bawah penyelenggaraan Bapa. Jika Tuhan memperhatikan burung pipit yang kecil, apalagi anak-anak-Nya. Jika Tuhan mengetahui rambut di kepala kita, apalagi air mata yang kita sembunyikan. Kita mungkin tidak selalu mengerti jalan Tuhan, tetapi kita dapat selalu mempercayai hati-Nya.

Bacaan kedua dari Surat Roma memperdalam keyakinan itu. Santo Paulus menjelaskan bahwa dosa memang masuk ke dalam dunia melalui manusia, dan bersama dosa datanglah penderitaan, ketakutan, dan kematian. Namun kasih karunia Kristus jauh lebih besar daripada dosa. Jika dosa mampu melukai manusia, rahmat Kristus mampu memulihkan manusia. Jika dosa membawa ketakutan, Kristus membawa pengharapan. Jika kematian tampak berkuasa, Kristus telah mengalahkannya melalui kebangkitan-Nya. Karena itu keberanian iman bukan lahir dari kekuatan kita sendiri, melainkan dari keyakinan bahwa Kristus telah menang.

audara-saudari terkasih, dunia kita hari ini dipenuhi oleh ketakutan. Orang takut akan masa depan ekonomi, takut akan konflik sosial, takut akan penyakit, takut akan kegagalan, bahkan takut untuk menyatakan imannya secara terbuka. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita berdiri teguh. Kebenaran Allah pada akhirnya akan muncul ke terang. Kasih Allah lebih kuat daripada ancaman manusia. Penyelenggaraan Allah lebih besar daripada kecemasan kita. Karena itu marilah kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan seperti Yeremia, mengakui Kristus di hadapan manusia dengan berani, dan percaya bahwa kita sangat berharga di mata Allah. Sebab orang yang menjadikan Tuhan sebagai pusat pengharapannya akan menemukan damai yang tidak dapat dirampas oleh ketakutan apa pun.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com