Komunikasi Persuasif Meningkatkan Penerimaan terhadap Vaksinasi COVID-19

 264 total views,  1 views today

Sikap masyarakat Indonesia terhadap Vaksin COVID-19 sangat beragam baik dari yang pro atau pun yang kontra. Kurangnya informasi seputar vaksin, ketakutan akan efek samping vaksin, beredarnya hoaks seputar vaksin, persoalan halal-haram vaksin, dan ketidakpercayaan akan efektivitas vaksin tersebut adalah sebagian besar dari respon yang ada di masyarakat. Hal ini tentunya memengaruhi tingkat cakupan vaksinasi yang diharapkan segera mencapai angka minimal 80% untuk menghasilkan ‘kekebalan kelompok’.

 

Perlu upaya yang berbasis bukti untuk meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mendapatkan vaksin. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah melalui komunikasi persuasive.

Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya mengikuti program vaksinasi ini dengan cara yang ringan namun ‘membujuk’  jauh lebih baik dan penting ketimbang menebarkan ancaman atau menjatuhkan sanksi semata.

Komunikasi Antarmanusia’  oleh De Vito
Komunikasi Antarmanusia Karya De Vito

Dalam buku ‘Komunikasi Antarmanusia’ yang dijelaskan oleh De Vito. De Vito mendefinisikan bahwa komunikasi persuasif merupakan komunikasi bertujuan untuk menengahkan pembicaraan yang sifatnya memperkuat. Kemudian, memberikan ilustrasi dan menyodorkan informasi kepada khalayak.

Tujuan pokoknya adalah menguatkan atau mengubah sikap dan perilaku, sehingga penggunaan fakta, pendapat dan himbauan motivasional harus bersifat memperkuat tujuan persuasifnya. Di dalam komunikasi persuasif, peran seorang komunikator sangatlah penting dan berpengaruh. Sehingga, ia harus memiliki nilai performa yang tinggi. 

Seorang komunikator yang memiliki nilai performa yang tinggi dapat dicirikan dari kesiapan, kesungguhan, ketulusan, kepercayaan, ketenangan, keramahan hingga kesederhanaannya dalam menyampaikan pesan.

Baca juga  Pentingnya Pendekatan Dalam Mempercepat Vaksinasi

Hal ini tentunya menjadi panduan yang penting bagi pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat serta pihak terkait yang bertugas di lapangan ketika berinteraksi dengan masyarakat dalam rangka meningkatkan cakupan keberhasilan vaksinasi.

 Selama perkembangan pesat dan peluncuran vaksin melawan COVID-19, para peneliti telah menyerukan pendekatan “transparansi radikal,” di mana informasi vaksin diungkapkan secara transparan kepada publik.

Konsisten dengan teori tentang psikologi keyakinan konspirasi, penelitian ini memprediksi bahwa kurangnya transparansi dapat mengurangi kepercayaan pada otoritas kesehatan dan dapat meningkatkan penyebaran teori konspirasi, yang dapat membatasi kemampuan jangka panjang otoritas kesehatan selama dan setelah pandemi.

Bukti menunjukkan bahwa komunikasi negatif yang transparan memang dapat membahayakan penerimaan vaksin, tetapi hal itu meningkatkan rasa percaya masayarakat terhadap otoritas kesehatan. Hal ini merupakan kesimpulan hasil penelitian Petersen, dkk (2021) yang dipublikasikan pada Jurnal Psychological and Cognitive Sciences.

Pentingnya penerapan komunikasi yang persuasive juga ditekankan oleh salah satu penerima manfaat vaksin yaitu TM (41).

TM (41) menyatakan bahwa selama ini dia takut untuk divaksin sebelum bertemu dengan petugas kesehatan yang mengedukasi dirinya dengan nyaman dan menjawab semua keraguan dan ketakutannya dengan bahasa yang sederhana dan jujur akan efek apa saja yang mungkin muncul (11/03/2022).

 “Kalau info yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti maka saya pun semakin terbuka untuk divaksin” ungkap TM.

Baca juga  TALKSHOW RADIO "PENTINGNYA VAKSINASI BAGI LANSIA"

Proses komunikasi persuasif ini harus dipraktekkan dengan baik, terlebih jika menjadi seorang otoritas kesehatan sehingga informasi yang disampaikan bisa mengangkau publik dengan baik dan tidak berujung kebingungan.

Seorang otoritas kesehatan harus benar-benar mempertimbangkan dampak perkataannya agar komunikasi bisa berjalan dengan baik dan efektif.

Penulis:

Frans Judea Samosir (Jurnalis Warga & Akademisi)

Facebook Comments

Sri Lestari Samosir

Ibu Bahagia. Freelance Writer. Womanpreneur.

Leave a Reply