Kendala Vaksinasi Covid-19 Pada Ibu Rumah Tangga

 342 total views,  2 views today

Deliserdang – Pandemi Covid-19  yang kian melonjak dari tahun 2020 hingga saat ini belum tuntas, bahkan telah timbul virus varian baru yakni Omicron. Upaya untuk menekan lajunya penyebaran covid 19 tersebut adalah dengan vaksinasi. Namun hingga kini vaksinasi masih mengalami hambatan dan tantangan yang berasal dari dalam masyarakat.

Adanya persepsi dan pola pikir masyarakat yang berubah-ubah dan kurangnya pemahaman serta edukasi tentang pentingnya vaksinasi. Hal tersebut menjadi alasan bagi mereka yang tidak mau melakukan vaksinasi. Maka akibatnya petugas kesehatan tidak dapat memastikan orang tersebut mau divaksinasi atau tidak. Bahkan masih saja ada yang berstigma bahwasannya setelah divaksinasi akan menimbulkan penyakit baru.

Deliserdang adalah salah satu kabupaten dimana masih ada saja warga yang belum di vaksinasi.  Lebih tepatnya di daerah Tanjung Morawa Desa Bandar Labuhan. Berdasarkan observasi sederhana terdapat berbagai alasan dan stigma buruk tentang vaksin. Masyarakat khususnya Ibu Rumah Tangga termakan hoax terlebih dahulu sebelum mengetahui manfaat sesungguhnya vaksinasi tersebut.

Kurangnya edukasi pada Ibu Rumah Tangga tentang vaksinasi adalah salah satu rintangan yang belum terpecahkan sampai saat ini. Bahkan ada yang menilai bahwasannya vaksinasi dapat menimbulkan penyakit baru dalam tubuh.

Lita (34) adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki anak balita yang berumur 7 bulan yang sampai saat ini belum divaksin sama sekali. Ia menyatakan bahwa vaksin Covid 19 akan menimbulkan penyakit baru didalam tubuh. Selain itu adanya stigma-stigma buruk yang didengar atau dilihat melalui sosial media yang membuat rasa takut untuk divaksinasi.

Baca juga  Kesadaran Vaksin Rabies di Indonesia Masih Rendah

“Keluarga melarang saya untuk divaksinasi karena takut menimbulkan dampak buruk ataupun efek buruk pada anak saya. Terlebih anak saya yang baru berumur 7 bulan yang masih diberi Asi. Tidak ada informasi yang lengkap mengenai vaksinasi terhadap ibu hamil ataupun ibu yang masih memiliki balita. Ada juga yang bilang vaksin terbuat dari hewan yang diharamkan maka saya dan keluarga jelas menolak untuk divaksinasi’’, ungkap Lita (34) saat dijumpai di Bandar Labuhan (14/3/2022).

Selain itu malas mengantri masih menjadi penyebab ibu rumah tangga untuk tidak melakukan vaksinasi. Sebab hal tersebut bisa menunda segala pekerjaan ibu rumah tangga dirumah seperti beberes dan mengurus anak. Ditambah lagi harus membawa persyaratan vaksinasi seperti nomor antrian dari desa, fotocopy kartu keluarga dan KTP.

“Rasanya untuk syarat vaksin itu rumit dan membuat saya ribet dalam melakukan vaksinasi. Itu adalah salah alasan kenapa saya tidak mau divaksinasi’’ ujar Lita (34).

Di tempat yang sama Lisbet (40) seorang ibu rumah tangga juga sependapat dengan Lita. Meski demikian Lisbet telah melakukan vaksin dosis 1. Untuk vaksin kedua beliau belum bersedia.

“Saya masih takut untuk divaksin ke dua. Saya dengar-dengar selesai divaksin kok ada yang mati dan malah kena penyakit, padahal sebelumnya ga ada penyakit” tutur Lisbet (40).

Upaya Vaksinasi Oleh Kecamatan Tanjung Morawa

Kecamatan Tanjung Morawa sendiri selalu mengingatkan masyarakatnya untuk divaksinasi demi mencegah penyebaran virus Covid-19. Namun masih ada saja warga yang tidak taat bahkan melarikan diri saat divaksinasi.

Baca juga  Gereja Stasi Sunggal Bervaksinasi

Kito adalah salah satu tempat yang rutin menyelenggarakan vaksinasi kepada masyarakat yang berada di Tanjung Morawa. Setiap masyarakat yang melewati lajur itu akan diberhentikan oleh Bapak Polisi untuk ditanyakan apakah sudah melakukan vaksinasi atau belum.

Ada saja masyarakat yang jujur dan ada juga masyarakat yang kurang jujur. Jika masyarakat tersebut jujur maka harus menunjukan bukti vaksinasinya kepada pihak yang menanyakan. Jikalau dia belum vaksin maka masyarakat dianjurkan bersedia untuk divaksinasi ditempat tersebut.

Disamping itu untuk masyarakat yang kurang jujur maka ia akan melarikan diri dari tempat tersebut. Caranya adalah dengan putar balik dari tempat tersebut untuk menolak vaksinasi secara tidak langsung.

 

Laporan Jurnalis Warga : Yohana Trisintya Sinurat

 

 

 

 

Facebook Comments

Sri Lestari Samosir

Ibu Bahagia. Freelance Writer. Womanpreneur.

Leave a Reply