KHOTBAH

Kematian Yesus Menarik Semua Orang Datang kepada-Nya

Loading

RD M. Marihot Simanjuntak
Ketua Komisi Komsos KAM

17 Maret 2024 | Hari Minggu V Masa Puasa – B | Yer 31:31-34; Ibr 5:7-9 ; Yoh 12:20-33

Pergantian musim sering mengingatkan kita akan perubahan yang sedang dan akan terjadi. Musim hujan dan musim kemarau bisa mempengaruhi pola dan perilaku hidup kita: cara kita bertani, cara bekerja, cara berpakaian. Perubahan dalam diri kita juga bisa menandakan bahwa saatnya kita untuk mengubah cara berpikir. Ketika kita masih muda, banyak hal yang bisa kita kerjakan karena merasa masih kuat. Saat kita sudah menua dan rambut mulai memutih, kita perlu menyersuaikan aktivitas dengan kemampuan tubuh kita. Kita mengubah pola makan dan pola hidup. Menyadari saat itu penting untuk mempersiapkan segala sesuatu.

Dalam Injil hari ini kita mendengar bahwa saatnya sudah tiba bahwa Anak Manusia akan dipermulikan. Saatnya dihubungkan dengan pemuliaanNya yang akan datang ketika Dia tergantung di salib. Kematian-Nya akan menarik semua orang datang kepada-Nya. Yesus adalah wujud tertinggi dari proyek pembaruan hidup manusia. Dia mulai dengan peristiwa inkarnasi. Dia menjadi manusia yang merasakan suka duka kehidupan kita. Penjelmaan itu disempurnakan dengan peniadaan total keberadaaan-Nya yakni menjadi “mati”. Namun, kematian Yesus bukanlah kematian yang diikuti oleh pembusukan dan menjadi tanah. Kematian Yesus adalah kematian gandum: jatuh dan dikubur dalam tanah, mati lalu bertumbuh dan berkembang serta berbuah. Yesus memang mati karena kemauan Allah dan karena pilihanNya. Kematian-Nya adalah sesuatu yang perlu terjadi sebab kematian itulah yang dapat “menarik semua orang datang kepada-Nya” (Yoh 12:33). Bisa dikatakan bahwa bahwa kematian suatu prinsip agar lewat hal duniawi manusia mencapai hal yang surgawi.

Baca juga  Lima Tahun Tahbisan Uskup Agung Medan: Akselerasi Pelayanan Umat di Keuskupan Agung Medan

Kematian Yesus menandai sesuatu yang baru, yang disimbolkan dengan “terbelahnya tabir Biat Allah dari atas sampai ke bawah”” (Mrk 15:38). Pengorbanan Yesus sungguh menakjubkan sehingga terciptalah kehidupan yang berahmat. Kematian itu akan dialami semua manusia. Namun kematian bukan lagi menjadi akhir segala-galanya. Kematian menjadi awal hidup abadi di surga.

Kematian juga dapat terjadi selagi kita masih hidup. Kematian yang menjadikan kita pribadi yang baru, segar, gembira dan dinamis. Masa prapaska ini dapat menjadi saatnya kita untuk mematikan segala keinginan dan kenikmatan daging serta kebiasaan-kebiasaan buruk seperti merokok, makan enak sepuas-puasnya, belanja tanpa batas, tontonan yang tidak senonoh, menghabiskan waktu dengan gadget. Kita bisa membatasi semua itu untuk kesehatan jasmani dan mental. Kita bisa menghentikannya untuk hidup normal dan tenang. Orang yang mencari pelarian dengan hal-hal duniawi ini akan menemukan kekosongan dalam dirinya.

Pertobatan yang telah kita bangun selama masa prapaska ini terutama adalah pemberian diri, hati, kemauan, pikiran, komitmen dan perhatian kepada Allah dan sesama. Kita diharapkan semakin mampu mendeteksi kehadiran Allah setiap hari. Bagaikan biji gandum, kita perlu mati terlebih dahulu, kemudian bertumbuh dan berkembang serta membawa pembaruan di lingkungan keluarga, masyarakat dan Gereja. Kita tidak takut lagi menderita untuk membahagiakan sesama dan siap memikul tanggung jawab yang telah diberikan. Semoga Tuhan memberkati segala niat baik dan usaha kita memuliakan Tuhan. Amin.

Facebook Comments

Leave a Reply