Jangan Lekas Berganti Haluan! Carilah Maka Kamu Mendapatkan

282 total views, 1 views today

“… Seharusnya Pastor itu begini!”
“Apa pantas seorang pastor seperti itu?”
Deretan kalimat penghakiman di atas, sangat akrab di telinga saya sejak kecil hingga sekarang. Bahkan, dulu saya sering mengutarakannya. Tetapi sejak hari itu, saya tak pernah lagi mengatakannya. Kalaupun terlontar sesekali, mungkin hanya keceplosan. Dan saya lupa, kapan terakhir kalinya berkata seperti itu.

Namun, saya ingat jelas hari itu. Ya, hari itu saya bertemu dengan seorang pastor yang sangat bersahabat – mungkin sebelumnya beberapa pastor bersahabat, tetapi bisa saja ‘chemistry’-nya t ak ketemu. Yah… tahu sendiri, anak muda kan banyak nanya dan gak mau kalah. Dan setiap pastor memiliki cara masing-masing menghadapi umatnya yang beragam karakter.“Kalian ngapain di situ,” begitu kira-kira sapaan pastor tersebut  memulai percakapan dalam pertemuan yang tak terduga itu.“mencari pastor, Pastor,” jawabku mewakili teman-teman yang lain.

“Wah.. di Eropa pastor yang mencari anak muda, di sini kalian mencari pastor.”
Simpel. Gak ada kata-kata yang menunjukkan pujian kepada kami yang menghadap pastor tersebut dengan wajah lusuh dan baju yang berkeringat setelah berkeliling mencari seorang imam. Tetapi mendengar kalimat itu, kelelahan kami terlunaskan. Seperti dahaga yang mendapat siraman segar air kelapa muda. Apalagi saat mendengar pastor bersedia memimpin misa keesokan harinya, rasanya… – ehm la terkataken.

Waktu itu kami memang mencari seorang pastor untuk memimpin misa menggantikan pastor yang – entah kenapa – tiba-tiba membatalkan kehadirannya. Untuk menyelamatkan wajah kami (para pengurus KMK) di hadapan orang-orang muda yang kritis, hampir semua paroki di kota Medan kami datangi. Di siang yang panasnya menyengat, kami memulai perjalanan dari Paroki Padang Bulan yang terdekat.

Terbayangkan perjalanan dari paroki ke paroki lain?
Di beberapa paroki, ada yang lagi jam istirahat dan pastor tidak bisa diganggu; lalu ada pastor yang jadwalnya padat; sebagian lagi sekretaris paroki menasehati kami agar jangan tiba-tiba mengundang pastor, tanpa mau mendengar dan memahami penjelasan bahwa sesungguhnya kesalahan bukan di tangan kami. Jadilah keadaan seperti yang biasa kita alami : membicarakan para pastor, dan menghakimi mereka.
“Kenapa niat baik tak selalu berjalan mulus, ya?”

Saya bisa saja mengutip ayat alkitab untuk menghibur diri saat itu. Atau untuk bersikap kuat seolah-olah tak terjadi apa-apa, saya bisa saja menganggapnya sebagai tantangan untuk iman yang lebih kokoh. Tetapi percayalah, ada saat kita jelak dengan kata-kata. Tak mau mendengar untaian kalimat seindah apapun. Tak membutuhkan apa-apa dan tak tahu berbuat apa-apa.

Semua orang mungkin mengalami peristiwa sejenis di dalam perjalanan imannya. Beberapa putus asa lalu menambatkan hati pada yang lain; sebagian lagi bergabung dengan barisan sakit hati; yang lain mungkin berserah pada penyelenggaraan Ilahi.
Dan di bawah pohon yang rindang di halaman rumahNya, di salah satu sore di tahun 2010, bersama rasa haus dan khawatir, iman – yang letaknya entah sudah dimana – nyaris patah. Sebelum benar-benar patah dan memilih sikap selanjutnya, seorang gembala menyapa domba-dombanya yang mulai lapar, untuk kemudian digiring ke padang rumput yang hijau.

Apa yang ingin saya sampaikan melalui cerita dari penggalan pengalaman ini?
Saya tak bermaksud menasihati orang muda untuk berhenti bertanya – bahkan bila maksudnya menghakimi sekalipun. Lagipula saya merasa belum pantas menasihati. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan mengajak orang muda agar tak lelah mencari. Bila belum ketemu apa yang menjadi kerinduan, jangan cepat menyerah. Apalagi langsung berganti haluan, lalu menjelek-jelekkan gereja.

Bagi saya, orang muda harus bertanya sebanyak-banyaknya. Terlibat dalam banyak kegiatan gereja. Bila dalam satu kegiatan tak terpuaskan, ikuti kegiatan selanjutnya dengan gairah positif. Jika tak cocok dengan suatu kelompok dengan fokus pelayanan tertentu, bergabunglah dengan kelompok pelayanan yang lain. Masa muda adalah masa untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Bila rasa lelah menghampiri dalam pencariaan, ingatlah kata-kata Sang Guru, “…carilah, maka kamu akan mendapat!”

Mikhael Natal Naibaho, Penulis Novel “Untuk Gie”

Jansudin Saragih

Carpe diem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *