Hotman Sipayung & Rosa Tambunsaribu “Terharu Mendapat Kabar Putra-nya Jadi Uskup”

78 total views, 1 views today

Fransiskus Sipayung dan Rosa Tamsar (Copyright: Komsos KAM)

Fransiskus Hotman Sipayung & Hongmailim Rosa Tambunsaribu kerap disapa ‘Bapak dan Ibu Nelis’. Musababnya, itu adalah ringkasan nama putra sulung mereka, Kornelius Sipayung. Keduanya turut menjadi sorotan, tatkala sang putra sulung dipercaya sebagai Uskup Agung Medan. Dan merasa tak kaget, saat Menjemaat menyambangi rumahnya untuk wawancara di kolom ini.

“Kami merasa tidak pantas menjadi orang tua uskup,” ungkap Hotman, masih mengingat jelas dapat kabar Mgr.Kornelius Sipayung OFMCap ditunjuk sebagai Uskup Agung Medan, pada sore hari. “Sekira jam enam sore. Informasi tersebut, kami tahu pertama kali dari anak kami nomor tujuh dari linimasa Facebook.”

Hotman mengatakan, bersama Istri, anak dan beberapa cucu berdoa khusyuk di rumah usai mendengar kabar tersebut. Antara yakin dan tidak. “Kami pun akhirnya percaya, setelah diyakinkan oleh Pastor Jonam Sipayung (putranya) dan Pastor Kristinus Mahulae,” ujarnya.

***

Ibu Nelis atawa Rosa mengaku kabar tersebut merupakan rahmat dalam kehidupan keluarga mereka. “Perasaan saya, tak bisa kusampaikan dengan banyak tutur kata. Hanya perasaan terharu sekali.” Dia tak menyangka, putra yang dulu kerap membantunya untuk menggarap ladang kini telah menjadi gembala di ‘ladang Tuhan.’

“Saya mendidik anak-anak dengan keras, terutama Kornelius karena dia anak sulung. Jadi contoh buat adik-adiknya,” kata Rosa mengenang. “Pernah saya memaksa dia bantu memompa tanaman di ladang hingga dia pun terlambat untuk masuk sekolah. Meski demikian, setelah selesai memompa, kupaksa dia untuk pergi berjalan kaki cepat-cepat ke sekolahnya di Saribudolok. Pengalaman tersebut ternyata amat membekas di hatinya. Ketika misa perdana, Pastor Kornelius mengungkapkan lagi kisah tersebut. Aku pun sungguh merasa bersalah.”

Didikan keras dari bu Nelis diamini Hotman.  “Kalau Ibu mendidik dengan keras. Sementara saya lembek mendidik. Karena saya ini guru agama di sekolah dasar,” ujar pengurus di Paroki Saribudolok sejak tahun 1971 tersebut, sembari terkekeh. Dia menduga, militansi dan pelayanan di gereja turut mengilhami dua putranya untuk memilih hidup membiara di Ordo Saudara Dina Kapusin.

“Selain kegemaran di kegiatan gereja, saya dan anak laki-laki – termasuk Kornelius – juga punya hobi di dunia olahraga sepak bola. Pernah kami – saya, Kornelius dan adiknya — satu tim sepakbola dalam kompetisi Purba Hinalang Cup. Setelah tak bisa bermain lagi, saya terus diminta jadi wasit. Seorang pastor bahkan kerap berkelakar menyebut saya sebagai wasit FIFA. Hehehehe.”

Pengalaman iman Pasutri ini, sebelumnya pernah juga dimuat di Menjemaat edisi Januari 2005. Dalam liputan tersebut, keduanya bersyukur atas rahmat Tuhan karena bisa menapaki kota Roma dari hasil penjualan cabai. “Kami diminta oleh Pastor Kornelius untuk menyambangi dia saat studi di Roma. Mulanya kami menanggapi dengan dingin saja. Sebab merasa tak punya cukup uang untuk biaya perjalanan. Namun, ternyata hasil penjualan panen cabai kami bisa untuk menutupi biaya perjalanan ke Roma,” kenang Hotman.

Sebagai pengurus gereja yang masih aktif, Hotman mengatakan sering mendorong para pengurus gereja lainnya berlangganan Menjemaat, terutama untuk membaca khotbah mingguan. “Supaya mereka bisa lebih percaya diri jika diminta membawakan khotbah baik di Stasi maupun doa lingkungan,” pungkas bapak Nelis yang melanggani Menjemaat sejak edisi perdana sampai sekarang.

(Ananta Bangun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *