Memandang Dekat atau Memandang Jauh?

683 total views, 1 views today

Oleh: Maurits Pardosi

Dalam sebuah percakapan yang tak disengaja alias jumpa di tempat angkringan, kami berlima berkumpul. Semua yang berkumpul di sana adalah mantan seminaris, frater dan ada juga seorang imam. Pertemuan ini menyoal masalah panggilan hidup. Masing-masing menuturkan dinamika hidupnya seturut profesinya. Bagi sebagian orang, panggilan itu adalah waktu untuk berbuah, kesempatan menunjukkan kasih kepada setiap orang di sekitar. Sebagian orang juga mengatakan bahwa panggilan itu adalah pemberian Tuhan secara cuma-cuma. Ada juga yang menyatakan bahwa panggilan tanda cinta Tuhan kepada manusia.

Seorang Bapak Keluarga yang berkerja di sebuah perusahaan besar mengatakan bahwa hidup berkeluarga amatlah susah. Kesusahannya bukan sebatas menafkahi hidup, yang paling berat adalah menjaga keharmonisan dalam keluarga – banyak godaan dan cobaan dalam sebauh keluarga, khususnya kesetiaan. Dia sampai pada kesimpulan bahwa lebih enak menjadi seorang biarawan daripada memilih berkeluarga. Tak mau kalah, si anak muda juga menuturkan persoalan hidupnya; susahnya mendapat pekerjaan yang menetap, mencari jodoh yang tepat, dan menikmati hidup di luar ini. Kisah ini berakhir dengan sebuah kesimpulan bahwa lebih tenang hidup menjadi seorang biarawan.

Ilustrasi dari Pexels.com

Setelah si anak muda dan si bapak keluarga bertutur perihal kesukaran-kesukaran hidupnya, si imam dan frater mulai bercerita seputar hidup mereka. Sang frater menceritakan perjuangan hidupnya menjadi seorang frater yang tak kalah serunya dibanding pengalaman kedua umat beriman tadi. Perjalanan menjadi seorang frater bukanlah gampang,selalu ada kerikil tajam dalam setiap tapak perjalanan mereka. Kesetiaan untuk hidup terikat pada ketiga kaul ternyata tidak seindah yang kita lihat manakala mereka tampil di depan umat. Begitu jugalah perjuangan seorang imam, mereka ternyata mengalami banyak pemurnian dalam setiap langkah mereka. Seluruh perjalanan mereka mengalami gangguan dan ancaman pabila mereka melangkah di luar garis ketiga kaul.

Di media sosial, sering kita melihat bagaiamana antara umat dan biarawan/wati saling bertukar informasi seputar panggilan hidup. Saat si biarawan/wati sedang dimabuk galau, si umat menyambangi sembari menguatkan, begitulah sebaliknya. Keduanya berinteraksi dan saling menguatkan satu sama lain. Hal ini bisa kita jumpai sendiri di status FB, Instagram, dan lain sejenisnya. Kisah haru, suka, duka, dan keterpurukan pun diumbar di media sosial yang kemudian mendapat sambutan dari para pelihat. Begitulah komunikasi terjadi. Yang paling penting adalah bagaimana perjalananan hidup masing-masing kita? Ternyata semuanya memiliki logikanya sendiri.

Tak Ada kata Mengeluh

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa mengeluh hanyalah pekerjaan orang malas. Wah, rasanya ini terlalu tajam bagi kami, pegiat malas. Pertemuan yang telah terjadi di atas adalah salah satu bentuk pertukaran informasi yang di dalamnya ada termuat unsur kemalasan, yakni kemalasan untuk menjalani hidup. Sepintas, ungkapan ini rasanya menusuk hingga sumsum tulang kita karena terlalu tajam, boleh juga kasar. Tapi, benarlah demikian; hanya orang malas yang paling doyan mengeluh.

Kita pernah mendengar nama Jack Ma, pendiri Alibaba.com – dalam sebuah aksi panggungnya sebagai motivator, dia menyatakan bahwa salah satu opium bagi orang yang suka mengeluh adalah rasa malas. Dalam hal ini, keluhan-keluhan yang kita lontarkan berasal dari rasa malas kita untuk menjalani sesuatu. Tidak bisa dipungkiri, hanya orang malaslah yang paling banyak mengeluh dalam hidupnya.

Kita sendirilah yang mendefenisikan hidup kita. Pernyataan ini tidak bisa dibantah karena yang menjalani hidup kita, ya kita sendiri. Defenisi hidup belum bisa kita buat selama kita masih menjalaninya. Defenisi barulah ada setelah kita sudah berhneti menjalani hidup. Mengapa? Perjalanan setiap manusia adalah perjalanan kualitas. David T. Kearns menyatakan bahwa dalam lomba meraih kualitas, tidak ada yang namanya garis finis. Perjalanan hidup manusia adalah dinamis dan kualitas juga demikian adanya. Kualitas perjalanan hidup berarti bekerja keras melakukan yang terbaik. Kualitas adalah sesuatu yang paling dicari setelah sikap dan reputasi.

Fakta di lapangan, kita lebih sering melihat orang gembira berkutat dalam pembandingan dirinya terhadap orang lain. “Coba lihat dia, aku tidak seberuntung dia. Jadi, aku yakin bahwa dia lebih bahagia.” Dia duduk sambil merenung, bahkan menangisi dirinya. Dia merasa terpuruk dan mengatakan kepada dirinya bahwa dia adalah orang yang malang, tidak seberuntung orang lain. Terlelap dalam keluhan dan ratapan tidak akan menambah apa-apa, malah menambah beban di pundak yang membuat dia sulit bangkit dari keterpurukannya.

Memandang secara Objektif

Akhirnya sampailah pada titik akhir. Setelah kita mengulas mengenai cara pandang terhadap pilihan orang lain, kita semakin yakin bahwa hidup untuk dijalani, bukan disesali. Sejak awal, hidup kita bukanlah sesuatu yang kebetulan. Hidup itu adalah anugerah dari Allah. Kita terpilih dan lahir ke dunia dari sekian jutaan bahkan miliyaran calon. Kita terlahir sebagai pemenang dan peraih medali kehidupan.

Setelah kita lahir ke dunia ini, kita diselimuti kekuatiran dan kegundahan akan hari esok. Mengapa? Setiap orang tidak ada yang tahu akan hari esok. Itulah dasar kekuatiran dan kegalauan. Nah, kegalauan ini semakin menjalar hingga timbul sebuah pertanyaan, mengapa dia berbahagia, tidak seperti aku?” Penyesalan demi penyesalan silih berganti hari demi hari hingga sampai pada titik, yakni putus asa.

Dengan demikian, kita harus memilih memang hidup atau dari dekat atau dari jauh. Saya sendiri sangat tertarik dengan percakapan di atas. Waktu itu, kami sedang berada di sebuah angkringan, berhadapan langsung dengan Pusuk Buhit, Samosir. Sembari menyeruput kopi, kami mulai obrol dan berbagi info. Yang mau saya sampaikan bahwa kadangkala, manusia lebih sering memandang hidup dari jauh bak memandang gunung dari kejauhan, seperti kami di angkringan tersebut.

Dari jauh, Pusuk Buhit itu menyejukkan mata karena hutannya hijau dan luas serta indah, apalagi dibubuhi dengan keindahan Danau Toba di bawahnya. Begitulah cara kita memandang, lebih indah memandang dari jauh. Setelah kita mendekat ke sana, kebanyakan dari kita akan menyesal karena gunung itu tidak seindah dari pandangan jauh. Gunung itu telah gundul dan dipenuhi oleh ilalang serta semak belukar. Barangkali, begitu kita sampai di gunung tersebut, deretan ratapan dan putus asa akan mengalun indah dari mulut kita. Kita bakal cepat-cepat segera menyudahi perjalanan, segera turun dari gunung tersebut.

Dengan goretan atau ungkapan hati ini, kita sedang diajak untuk memandang hidup apakah dari dekat atau jauh. Memandang hidup dari jauh biasanya membawa kita pada pembandingan hidup kita dengan orang lain yang menghasilkan putus asa. Kita lahir bukan untuk putus asa melainkan bersyukur atas apa yang kita miliki.

Pada akhir catatan angkringan ini, kita sepakat dengan ungkapan John F. Kennedy, “jika kita tidak sanggup mengakhiri perbedaan kita sekarang, setidaknya kita akan dapat membuat dunia aman menerima keberagaman”.

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *