
Paus Leo XIV menerima balon berwarna-warni dari anak-anak di Basilika Immaculate Conception di Mongono, Afrika pada 22 April 2026
Oleh RP.Antonio Spadaro SJ
Perjalanan apostolik pertama Paus Leo XIV ke Afrika pada 13–23 April 2026 menjadi momen penting yang melampaui sekadar kunjungan pastoral. Selama 11 hari, Paus mengunjungi Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa, sekaligus menyampaikan pesan global tentang perdamaian, keadilan, dan tatanan dunia yang lebih manusiawi.
Sejak tiba di Aljir hingga meninggalkan Malabo, Paus Leo XIV merangkai pesan yang konsisten mengenai berbagai persoalan dunia, mulai dari konflik bersenjata, ketimpangan global, neo-kolonialisme, hingga eksploitasi sumber daya alam.
Aljazair: Ziarah Perdamaian dan Kritik Ketimpangan Global
Di Aljazair, Paus memperkenalkan dirinya sebagai “peziarah perdamaian”. Ia menekankan pentingnya persaudaraan sebagai kunci mengatasi konflik global.
Namun, pesan tersebut tidak berhenti pada retorika. Paus secara tegas menyoroti pelanggaran hukum internasional dan kecenderungan neo-kolonialisme. Ia menegaskan bahwa negara-negara di “pinggiran dunia”, khususnya Afrika, harus menjadi aktor utama dalam menentukan arah masa depan global.
Dalam refleksinya di Monumen Syuhada, Paus menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak hanya berarti ketiadaan perang, tetapi harus dibangun di atas keadilan, martabat manusia, dan pengampunan.
Kamerun: Kritik Terhadap Perang dan Korupsi
Di Kamerun, Paus menyampaikan pesan yang lebih politis. Ia menyebut keberagaman sebagai kekuatan, bukan kelemahan.
Paus juga menyoroti konflik internal yang telah menimbulkan korban jiwa dan krisis kemanusiaan. Ia menyerukan “perdamaian tanpa senjata”, yakni perdamaian yang lahir dari dialog dan kepercayaan, bukan kekuatan militer.
Selain itu, ia mengkritik keras korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Menurutnya, kekuasaan seharusnya dijalankan untuk melayani, bukan mendominasi.
Dalam pertemuan di Bamenda, Paus mengecam para “penguasa perang” dan menyoroti paradoks global: dana besar tersedia untuk perang, tetapi tidak untuk pendidikan dan pemulihan masyarakat.
Angola: Harapan dan Sukacita sebagai Kekuatan Politik
Di Angola, Paus memperkenalkan gagasan bahwa harapan dan sukacita merupakan “kebajikan politik”.
Ia menggambarkan Afrika sebagai sumber harapan dunia karena masyarakatnya masih memiliki semangat untuk bangkit dan bermimpi. Namun, ia juga mengkritik model pembangunan berbasis eksploitasi sumber daya yang merusak lingkungan dan masyarakat.
Paus memperingatkan bahaya tirani yang melemahkan manusia melalui rasa takut, keputusasaan, dan manipulasi informasi. Sebagai tandingan, ia menekankan pentingnya solidaritas dan hubungan antarmanusia.
Guinea Khatulistiwa: Kritik Ketidakadilan Global
Di pemberhentian terakhir, Paus menyampaikan refleksi mendalam tentang kekuasaan dan keadilan.
Ia menyoroti ketimpangan ekstrem antara kelompok kecil yang kaya dan mayoritas masyarakat yang hidup dalam kekurangan. Ia juga mengkritik eksploitasi sumber daya alam yang sering menjadi pemicu konflik bersenjata.
Selain itu, Paus memperingatkan bahwa teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan, berisiko digunakan untuk kepentingan militer, bukan kesejahteraan manusia.
Dalam pertemuan dengan kaum muda dan keluarga, ia menekankan pentingnya kerja keras, komitmen, dan peran keluarga sebagai fondasi masyarakat.
Pesan Global untuk Politik Internasional
Secara keseluruhan, perjalanan ini membawa lima pesan utama:
- Penolakan terhadap perang dan seruan untuk perdamaian berbasis keadilan dan martabat manusia.
- Kritik terhadap neo-kolonialisme dan eksploitasi sumber daya.
- Penolakan terhadap tirani dan korupsi sebagai penyakit struktural kekuasaan.
- Dukungan terhadap hukum internasional dan kerja sama multilateral.
- Penegasan Afrika sebagai subjek penting dalam tatanan global.
Perjalanan ini juga berlangsung di tengah kritik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, Paus menegaskan bahwa pesannya tidak ditujukan kepada individu atau negara tertentu, melainkan kepada dunia secara keseluruhan.
Melalui kunjungan ini, Paus Leo XIV menegaskan arah kepemimpinannya: melanjutkan warisan pendahulunya dengan pendekatan yang berakar pada ajaran sosial Gereja, sekaligus relevan dengan tantangan global masa kini seperti krisis iklim, ketimpangan digital, dan konflik geopolitik.
Perjalanan ke Afrika pun menjadi penegasan awal bahwa kepausan Leo XIV akan berperan aktif dalam percaturan isu-isu dunia (UCA NEWS, 24 April 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr