Gereja Paroki St. Petrus Paulus – Parongil “Berbuat Banyak Dengan Sedikit Yang Dimiliki”

17 total views, 4 views today

Parokus bersama Umat Paroki Parongil

Tunas pertumbuhan Gereja Katolik di Parongil bermula pada tahun 1940, yang bermula dengan pembangunan Gereja darurat. Sementara pada tahun 1939, telah dibentuk Paroki Sidikalang. Namun sejak tahun 1937, pastor CL.Hammers OFM.Cap. telah memulai Karya Misi ke daerah luar Parongil, tepatnya di desa Tuntung Batu. Demikian dituturkan Pastor Paroki St. Petrus Paulus Parongil, RP Marselinus Monang Sijabat, O. Carm kepada Menjemaat, pada Jumat (27/11/2015).

“Akan tetapi gerakan misi ini kurang mendapatkan respon. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduk desa Tuntung Batu adalah suku Batak Pakpak, yang mayoritas telah menganut agama Islam. Desa Tuntung Batu sebenarnya masuk dalam wilayah Kecamatan Silimapunggapungga.  Karena kondisi itu lalu diarahkan ke daerah Parongil, yang kemudian mendapat respon positif. Maka pada 10 Juni 1939 menjadi awal karya misi, sebab pada tanggal itulah terjadi baptisan pertama di Parongil,” kata Pastor Monang.

Pada tahun 1940 jumlah umat semakin bertambah, telah terdapat 30 KK (Kepala Keluarga) umat Katolik. Pada tahun yang sama ini juga dibangunlah rumah singgah untuk pastor bersama dengan bangunan Gereja darurat. Bangunan ini bertahan sampai tahun 1950, dan akhirnya roboh karena diterpa angin.

Pemulihan bangunan gereja dan rumah pastor ini kemudian dilakukan pada tahun 1951, dengan bangunan yang sederhana. Kemudian pada tahun 1956, dibangunlah Pastoran semipermanen dan sampai saat ini masih ada. Demikian halnya dengan Gereja telah dibangun semi permanen dan bertahan samapai tahun 2004, dan tahun ini diadakan pembangunan Gereja Baru yang ada sampai saat ini.  

Pada masa pelayanan Mgr. A.H.F. Van Den Hurk sebagai Vikaris Apostolik Medan, yakni tepatnya tanggal 1 Mei 1954 Parongil disahkan menjadi Paroki yang terpisah dari Paroki Sidikalang. Nama pelindung paroki yang dipilih adalah St. Petrus dan Paulus. Paroki St. Petrus dan Paulus menjadi paroki kedua di Dairi. Pastor Paroki pertama saat itu yakni, Pastor A. Kampof OFM.Cap, yang melayani 18 stasi. Pastor Kampof OFM.Cap, melayani paroki Parongil sampai tahun 1965.

Menurut Pastor Monang, sosok tokoh awam yang masih dapat diketahui yang secara langsung terlibat langsung dalam perkembangan sejarah paroki Parongil adalah:

  1. Bapak L. Siringo-ringo, terlibat aktif pada masa pelayanan Pastor A.Kamphof Ofm.Cap. tidak diketahui sampai berapa lama bapak ini tinggal diparoki parongil sampai beliau pindah ke daerah Tiga Lingga.
  2. Bapak Lase (data tahun tentang beliau kurang begitu lengkap)
  3. Bapak Muliono (sampai tahun 1971).
  4. Kemudian pada tahun 1973 masuklah bapak S.K. Sitanggang (ayah dari Pastor Danrisman Sitanggang O.Carm). Bapak ini bertugas awalnya sebagai penjaga Paroki dan bertugas dibidang Administrasi Paroki.

“Dari penuturan beberapa orang para tokoh ini sangat berperan dalam perkembangan kehidupan paroki, mereka memberikan pelayanannya lewat talentanya masing-masing dalam membantu pelayanan para imam yang bertugas di paroki parongil,” katanya.

Parokus RP Monang Sijabat OCarm bersama umat Paroki Parongil

 

Tantangan dalam Pelayanan Gereja Paroki Parongil

Dalam pengamatan Pastor Monang O.Carm, tantangan pelayanan iman di Paroki Parongil sangat berkaitan dengan kesejahteraan ekonomi umat setempat. “Tingkat ekonomi umat di Paroki Parongil ini boleh dikatakan ekonomi yang paspasan,” ujarnya. “Jika diporsentasekan hampir 80 persen umat petani sisanya Pegawai Negeri dan Pedagang kecil.”

Pertanian umat di Paroki Parongil mayoritas bercocok tanam jenis tanaman keras, seperti kopi, coklat dan sekali setahun durian. Beberapa umat mencoba menanam tanaman kacang-kacangan, jagung dan padi darat.

“Namun karena hampir rata-rata lahan pertanian umat berbatasan langsung dengan hutan-hutan register, tidak jarang umat sering mengalami gagal panen karena gangguan binatang-binatang hutan, seperti monyet (istilah kami Sijaluk) dan Babi Hutan (wakka). Jika tidak dijaga maka dalam sekejab tanaman yang masih muda dan baru berbuah bisa habis dalam waktu yang singkat,” katanya.

Dia melanjutkan, beberapa umat pernah bercerita pengalaman gagal panen karena tanamannya diserang hama Sijaluk. Dalam waktu setengah hari jagungnya habis setengah hektar.

Maka dari situasi pertanian yang cukup keras ini sangat mempengaruhi kehidupan menggeraja. Ada cukup banyak umat yang harus tinggal di ladang untuk menjaga tanamannya, meskipun hari minggu. “Inilah sebabnya kehidupan meng-Gereja kaum bapak sangat rendah. Hampir setiap kunjungan stasi tidak banyak kaum bapak yang hadir di Gereja,” ujarnya. “Pengetahuan tentang iman yang masih sangat minim. Masih banyak umat yang tidak tahu doa-doa pokok Katolik, dan ajaran-ajaran dasar Gereja.”

Bagi Pastor Monang, kedua hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam merancang cara bersama DPP untuk memajukan kehidupan pengetahuan iman dan ekonomi umat.

Pastor Monang berkata,”Impian saya bersama DPP adalah membuat Paroki Paroki Parongil semakin Percaya Diri, sebab selama ini selalu ada istilah baik yang memplesetkan Paroki Parongil Paroki yang mungil dan Paroki na ngilngil. Tidak salah memang untuk bermimpi tentang paroki ini, sebab kami ingin mengejar impian bersama.”

“Impian bersama itu mulai kami kerjakan dalam karya bersama lewat isi misi paroki yang kami coba bangun bersama sejak pertengahan 2014 yang lalu. Di samping itu, kepada DPP dan Pengurus Sstasi serta umat di Paroki Parongil saya sering berkata: Kita boleh Miskin dalam Ekonomi tapi Jangan Miskin dalam semangat. Mari kita berbuat banyak dengan yang sedikit yang kita miliki,” ia menandaskan.

 

(Ananta Bangun | Narasumber: RP Marselinus Monang Sijabat, O. Carm | Pustaka: parokimariapoksidikalang.blogspot.co.id )

INTERIOR GEREJA PAROKI PARONGIL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *