Perayaan Hari Komunikasi Sedunia ke 60: Bijaksana dalam Menjaga Suara dan Wajah Manusia

Komsoskam.com | Medan | Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia Komsos ke-60 di Keuskupan Agung Medan berlangsung meriah dan penuh makna. Perayaan tingkat Keuskupan Agung Medan ini dilaksanakan di Paroki St. Fransiskus Assisi Padang Bulan Medan yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap.

Perayaan hari komunikasi sedunia ke 60 ini menjadi momentum refleksi bersama bagi seluruh umat dalam merenungkan kemanusiawian ciptaan Tuhan yang agung dan mulia. Yang mana Paus Leo XIV memberi pesan penting dengan judul “menjaga suara dan wajah manusia”. Pesan Bapa Suci ini menekankan urgensi dalam menjaga keaslian manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang begitu massif.

Perayaan hari Komunikasi Sedunia ke 60 ini menjadi puncak perayaan yang mana sebelumnya Komisi Komunikasi Sosial KAM (Komsos KAM) sudah mengadakan sejumlah kegiatan pra hari Komsos yaitu berupa seminar AI bagi pengusaha Katolik (PUKAT KAM), dan pegiat Komsos yang berlangsung di Binus University Medan. Kemudian diadakan juga lomba Hari Komsos yang mengajak umat untuk merefleksikan Pesan Paus melalui Lomba Kreatifitas berupa Koreografi Theme Song Hari Komsos, Vidio Kreatif dan menulis opini. Selain itu Komsos KAM juga memberikan pelatihan bagi Komsos Paroki Padang Bulan agar semakin siap dalam mewartakan kegiatan pastoral di Paroki Padang Bulan Medan.

Dalam perayaan Ekaristi Hari Komsos ke 60, Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap. mengajak seluruh umat untuk ikut secara nyata mengindahkan pesan Paus Leo XIV untuk menjaga suara dan wajah manusia.

Suara dan Wajah sebagai Martabat Manusia

      Dalam homilinya, Uskup Kornelius Sipayung OFMCap. menegaskan bahwa manusia tidak boleh kehilangan jati diri. Demikian juga relasi personal dengan Tuhan harus tetapi dijaga apalagi di tengah kemajuan teknologi yang bisa mengaburkan kehadiran Tuhan. Menurutnya, menjaga suara dan wajah manusia hanya dapat dilakukan melalui kedekatan dengan Yesus Kristus. “Komunikasi yang sejati lahir dari hati yang dekat dengan Tuhan, tanpa relasi itu kita tidak bisa menjaga suara dan wajah manusia secara utuh” tandasnya.

Bapa Uskup memaparkan bahwa suara manusia itu sungguh berharga. Suara kita seharusnya digunakan untuk meneguhkan, menghibur, memberdayakan, dan memberkati, bukan untuk memprovokasi, menyebarkan kebencian, atau mempermalukan orang lain. Wajah dikatakan sebagai Martabat manusia. Wajah bukan sekadar fisik, melainkan lambang kehormatan, dan citra Allah. Bapa Uskup memperingatkan agar manusia tidak kehilangan “wajah” aslinya di balik topeng pencitraan, manipulasi, atau perilaku negatif di media sosial seperti mudah marah dan menghina.

Di tengah masifnya kemajuan kecerdasan buatan (AI) Bapa Uskup juga mengajak umat untuk semakin bijak dalam menghadapi perkembangan zaman. Menggunakan AI sebagai alat bantu atau tools yang mempermudah pekerjaan. Termasuk dalam membuat renungan atau homili bagi para pastor maupun pengurus gereja. Bapa Uskup menekankan pentingnya kendali manusia bukan sepenuhnya pada hasil AI. “Homili harus lahir dari doa, refleksi pribadi dan perjumpaan hati dengan Tuhan. AI bisa membantu kita merumuskan dan menyusun  tetapi tetap perlu verifikasi” jelas bapa Uskup.

Secara khusus bapa Uskup juga memberi perhatian bagi para pegiat Komsos dan umat di ruang digital. Ia menyapa dan memberikan mandat agar para komsos menjadi pewarta digital yang bijak. “Pegiat Komsos bukan sekadar operator media, melainkan pewarta Injil di ruang digital yang bertugas menghadirkan kemanusiaan dan harapan. Bagi umat pengguna, bapa Uskup mengajak agar menjadi pembangun persaudaraan. Menjadi pengguna media sosial yang bijak dengan tidak menyebarkan hoax atau kebencian, melainkan menggunakan teknologi untuk membangun jembatan persaudaraan dan perjumpaan yang manusiawi.

Secara istimewa, dalam kesempatan itu juga dilaksanakan peresmian Taman Yubileum Fransiskan yang berada di depan gereja. Taman tersebut menjadi simbol peziarahan 800 tahun spiritualitas Santo Fransiskus Assisi, teladan yang menjadi panutan dalam mengimani karya Kristus yang nyata.

Usai perayaan Ekaristi, para tamu yang meliputi seksi Komsos Paroki dan OMK Vikariat St. Petrus Rasul dan St. Yohanes Rasul, mahasiswa dan Tarekat Hidup Bakti, serta para undangan memasuki aula Paroki yang berada di belakang gereja. Di sini selebrasi Hari Komsos diadakan lebih meriah dengan santap siang bersama serta rangkaian acara yang menghibur dan mengedukasi.

Talkshow dan Podcast

Dalam sesi Talkshow dan Podcast  para narasumber kembali membahas pesan Paus Leo XIV dengan menghadirkan ahli teknologi sekaligus dosen di Universitas Binus Medan yaitu Jefri Junifer Pangaribuan, S.Kom., M.TI dan RD. Benno Ola Tage selaku ketua Komsos KAM dengan moderator Feby Grace Hutajulu.

Talkshow ini berlangsung santai namun mendalam. Para peserta yang hadir diajak memahami bagaimana AI kini hadir sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari media sosial, dunia kreatif, pendidikan, hingga pelayanan komunikasi Gereja.

Jefri Junifer Pangaribuan menjelaskan bahwa perkembangan AI sudah sangat masif dan tidak dapat dihindari. Ia mencontohkan penggunaan AI dalam pembuatan musik, manipulasi gambar dan video, hingga pelayanan virtual dalam dunia digital. Bahkan ia juga membagikan pengalamannya menyaksikan gereja AI. Gereja yang dipimpin oleh kecerdasan buatan.

Sementara itu, RD. Benno Ola Tage menegaskan bahwa Gereja tidak anti terhadap teknologi. Menurutnya, AI dapat digunakan sebagai alat bantu dalam pelayanan komunikasi, seperti yang dilakukannya di Komsos KAM antara lain penerjemahan berita Vatikan, pengolahan visual, dan pengeditan video. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa AI tidak boleh menggantikan perjumpaan manusiawi dengan refleksi iman yang personal.

Suasana Talkshow semakin hidup melalui penampilan bang Toyib dan mbok Ida yang menampilkan kisah ringan mengenai fenomena AI di media sosial. Dengan gaya humor yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, keduanya mengingatkan peserta untuk lebih bijak dan kritis dalam menerima informasi digital.

Kemeriahan acara juga semakin terasa dengan hiburan dari Lapendos Band yang selama ini dikenal aktif mengisi acara Opera Kobar KAM yang tayang setiap bulan melalui saluran YouTube Komsos KAM. Penampilan mereka bersama tim pengisi hiburan lainnya turut membangun suasana akrab, hangat, dan penuh sukacita di tengah seluruh rangkaian kegiatan.

Dalam kesempatan tersebut, panitia juga mengumumkan para pemenang Lomba Kreativitas Hari Komsos ke-60 yang diikuti berbagai sekolah, komunitas, dan paroki di Keuskupan Agung Medan. Panitia sungguh berterima kasih kepada seluruh peserta yang telah ikut memeriahkan dan ambil bagian dalam perayaan hari Komsos tahun ini. Karya peserta yang masuk ke panitia menunjukkan bahwa semua lapisan umat turut ambil bagian dalam menyebarkan pesan Paus Leo XIV untuk menjaga suara dan wajah manusia.

Hasil lomba Hari Komsos Sedunia ke 60 di Keuskupan Agung Medan:

Lomba Theme Song Kategori A (TK-SD-Sekami)

Juara 1         : SD Sint Yoseph Kabanjahe

Juara 2         : SD Santo Yosef Sidikalang

Juara 3         : Sekami Paroki St. Ignatius Tanjung Morawa Medan

Juara 4         : SD Santo Thomas 2 Medan

Lomba Theme Song Kategori B (SMP-SMA-Perguruan Tinggi-OMK)

Juara I         : SMA RK Bintang Timur Pematangsiantar

Juara II        : OMK Paroki Simalingkar B

Juara III      : SMP RK Bintang Timur Rantauprapat

Juara IV      : SMA Budi Murni 2 Medan

Lomba Theme Song Kategori C (Dewasa-Campuran)

Juara I         : Paroki St. Padre Pio Helvetia

Juara II        : PIK Paroki St. Ignatius Tanjung Morawa Medan

Lomba Video Kreatif

Juara I         : SMK Swasta RK Bintang Timur

Juara II        : OMK Paroki Onan Runggu

Juara III      : Komsos Padang Bulan

Juara IV      : SMP Katolik Cinta Kasih Tebing Tinggi

 Selamat kepada juara lomba. Seluruh pemenang mendapatkan apresiasi berupa piagam dan uang tunai untuk mendukung kreativitas dalam karya-karya positif lainnya.

Perayaan Hari Komsos ke-60 ini tidak hanya menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya menjaga suara dan wajah manusia di tengah perkembangan teknologi dan komunikasi, tetapi juga untuk menegaskan pentingnya komunikasi yang manusiawi, jujur, dan berakar pada kasih Kristus.  (Jansudin Saragih)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com