Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap Senin, Pekan Biasa XV 13 Juli 2026

Yes 1:10–17; Mzm 50; Mat 10:34–11:1

“Mempertahankan Simbol, tetapi Kehilangan Substansi”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberi kita damai dan kebaikan.

Ada satu dosa yang sangat dibenci Allah, bahkan membuat-Nya berkata, “Aku muak.” Dosa itu bukan pertama-tama penyembahan berhala atau penolakan terhadap ibadah, melainkan ketika orang mempertahankan simbol-simbol agama, tetapi kehilangan substansi iman. Itulah yang dilakukan bangsa Israel. Mereka tetap datang ke Bait Allah. Mereka tetap mempersembahkan kurban. Mereka tetap merayakan hari-hari raya keagamaan. Dari luar semuanya tampak saleh. Namun di luar Bait Allah mereka menindas orang kecil, memutarbalikkan keadilan, mengabaikan anak yatim, dan membiarkan para janda tanpa pembelaan. Mereka memiliki agama, tetapi tidak memiliki hati Allah. Karena itulah Allah berkata melalui Nabi Yesaya, “Aku muak terhadap kurban-kurbanmu.”

Mengapa Allah begitu keras? Karena bagi Allah, ibadah bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mengubah hati manusia. Persembahan di altar seharusnya melahirkan persembahan hidup. Orang yang sungguh berjumpa dengan Allah akan menjadi lebih jujur, lebih adil, lebih murah hati, lebih peduli kepada yang lemah. Sebaliknya, jika setelah berdoa seseorang tetap korup, tetap memfitnah, tetap memeras sesama, tetap menutup mata terhadap penderitaan orang lain, maka ibadahnya kehilangan makna. Allah tidak membutuhkan persembahan kita; Allah menghendaki hati yang dipersembahkan kepada-Nya.

Karena itu Yesaya mengungkapkan isi hati Allah dengan sangat jelas: “Belajarlah berbuat baik, usahakanlah keadilan, tolonglah orang yang tertindas, belalah hak anak yatim, perjuangkanlah perkara janda.” Inilah substansi iman. Allah selalu berpihak kepada mereka yang lemah. Ukuran kesalehan bukanlah seberapa sering kita berada di gereja, tetapi seberapa besar kasih Allah tampak dalam keputusan-keputusan hidup kita. Liturgi yang sejati selalu berlanjut menjadi kehidupan yang penuh belas kasih.
Injil hari ini membawa pesan yang sama. Yesus tidak mencari orang yang hanya mengaku percaya kepada-Nya. Ia mencari murid yang berani mengikuti-Nya, memikul salib, menerima para utusan-Nya, dan menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah. Menjadi murid Kristus berarti membiarkan Injil mengubah cara kita berpikir, berbicara, bekerja, memimpin, dan memperlakukan sesama. Jangan sampai kita memakai simbol-simbol Kristiani, tetapi hidup kita justru menyangkal Kristus. Salib yang kita kenakan harus tampak dalam kasih yang kita berikan; Ekaristi yang kita rayakan harus tampak dalam hidup yang kita persembahkan.

Saudara-saudari, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita melakukan pemeriksaan batin. Jangan-jangan kita juga sedang mengalami apa yang dialami Israel: rajin mengikuti Misa, tekun berdoa, aktif dalam pelayanan, tetapi masih menyimpan kebencian, berlaku tidak adil, menghakimi sesama, atau tidak peduli kepada mereka yang menderita. Marilah kita memohon agar Tuhan membebaskan kita dari agama yang hanya berhenti pada simbol. Semoga setiap kali kita datang ke altar, kita pulang dengan hati yang semakin menyerupai hati Kristus. Sebab yang dicari Allah bukan sekadar umat yang rajin beribadah, tetapi murid-murid yang menghadirkan kasih, keadilan, dan belas kasih-Nya di tengah dunia. Itulah persembahan yang sungguh berkenan kepada Allah.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com