
Hos 11:1-4.8c-9; Mzm 80; Mat 10:7-15
“Ketika Murka Allah Berbelok Menjadi Belas Kasih”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Nabi Hosea memperlihatkan wajah Allah yang sangat mengharukan. Tuhan mengenang Israel seperti seorang ayah mengenang anak kecil yang dicintainya. “Akulah yang mengajar Efraim berjalan. Aku mengangkat mereka di tangan-Ku. Aku menarik mereka dengan tali kasih dan ikatan cinta. Aku membungkuk untuk memberi mereka makan.” Betapa indahnya gambaran ini! Sayangnya, Israel justru melupakan kasih itu dan berlari kepada berhala. Mereka menikmati berkat Tuhan, tetapi melupakan Sang Pemberi berkat.
Yang paling menggetarkan hati adalah saat Allah berhadapan dengan pengkhianatan umat-Nya. Secara manusiawi, jika pengalaman seperti itu kita hadapi, kita akan berkata, “Sudah cukup! Mereka pantas dihukum.” Namun Allah justru berkata, “Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasih-Ku bangkit serentak.” Inilah puncak pewahyuan hari ini. Murka Allah bukanlah kata terakhir. Belas kasih-Nyalah yang menang. Allah tetap membenci dosa, tetapi Ia tidak pernah berhenti mengasihi pendosa. Mengapa? Karena Tuhan berkata, “Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia.” Manusia sering membalas luka dengan dendam, tetapi Allah membalas pengkhianatan dengan kesempatan baru untuk bertobat. Inilah perbedaan antara kasih manusia dan kasih Allah. Kasih manusia sering berhenti ketika dikhianati, sedangkan kasih Allah justru semakin mencari ketika manusia tersesat.
Injil hari ini menunjukkan bahwa hati Allah yang penuh belas kasih itu kini diteruskan kepada para murid. Yesus mengutus mereka sambil berkata, “Pergilah, beritakanlah bahwa Kerajaan Surga sudah dekat.” Lalu Ia menambahkan: “Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati, tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan.” Artinya, para murid diutus bukan pertama-tama untuk menghukum, melainkan untuk menghadirkan hati Allah sendiri. Gereja dipanggil menjadi tempat di mana orang mengalami pemulihan, bukan penolakan; mengalami pengampunan, bukan penghakiman; menemukan harapan, bukan keputusasaan. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Belas kasih tidak boleh diperjualbelikan. Kasih yang telah kita terima dari Allah harus mengalir tanpa syarat kepada sesama.
Sabda ini juga menjadi cermin bagi Gereja dan bagi kita masing-masing. Sebagai imam, diakon, biarawan-biarawati, katekis, orang tua, maupun pelayan umat, kita perlu bertanya: apakah orang yang datang kepada kita merasakan hati Allah yang hangat, atau justru menghadapi wajah yang dingin dan mudah menghakimi? Jangan sampai kita lebih cepat menghukum daripada mendengarkan, lebih suka mengkritik daripada menguatkan, lebih pandai menunjukkan kesalahan daripada menyembuhkan luka. Dalam perjalanan Sinode Keuskupan Agung Medan, kita belajar bahwa di balik setiap kritik umat ada kerinduan untuk dicintai, di balik setiap keluhan ada harapan agar Gereja sungguh menjadi rumah belas kasih. Gereja yang sinodal bukan hanya pandai berbicara, tetapi terlebih dahulu memiliki hati yang mampu mendengarkan dan menggendong mereka yang terluka, sebagaimana Allah menggendong Israel.
Saudara-saudari terkasih, Hosea hari ini mengajarkan bahwa pertobatan bukanlah lari dari Allah yang murka, melainkan pulang kepada Allah yang kasih-Nya tidak pernah padam. Sebesar apa pun dosa kita, Tuhan tetap menunggu dengan hati yang “hangat dan lembut.” Ia tidak pernah lelah mengajar kita berjalan kembali. Maka jangan takut datang kepada-Nya dalam Sakramen Tobat, jangan malu mengakui kelemahan kita, dan jangan pernah menutup pintu belas kasih bagi orang lain. Marilah kita menjadi perpanjangan tangan kasih Bapa: menghadirkan pengampunan di dalam keluarga, membawa pengharapan di tengah masyarakat, dan menjadikan Gereja sebagai rumah tempat setiap orang dapat mengalami pelukan Allah. Sebab pada akhirnya, Allah boleh menilai dosa, tetapi hati-Nya tidak pernah berhenti pada murka. Kasih-Nya selalu ingin menyembuhkan, memulihkan, dan membawa setiap anak-Nya pulang.
Amin.