
Hos 10:1-3.7-8.12; Mzm 105; Mat 10:1-7
“Allah Tidak Mencari Kesalehan Semu, Tetapi Hati yang Kembali kepada-Nya”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan hari ini: Mengapa seseorang yang tampaknya sangat religius belum tentu dekat dengan Tuhan? Kita dapat rajin mengikuti Misa, tekun berdoa, aktif melayani di Gereja, bahkan mengetahui banyak ajaran iman. Namun semua itu belum tentu berarti hati kita sungguh hidup di dalam Allah. Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan kita akan bahaya terbesar dalam kehidupan rohani, yaitu ilusi kesalehan. Kesalehan yang hanya tampak di luar, tetapi tidak mengubah hati. Kesalehan yang kaya dengan simbol, tetapi miskin kasih. Kesalehan yang fasih berbicara tentang Allah, tetapi tidak mencerminkan wajah Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Nabi Hosea melihat keadaan seperti itu pada bangsa Israel. Mereka tetap mempersembahkan kurban dan membangun mezbah. Dari luar, mereka tampak sebagai bangsa yang religius. Namun Tuhan melihat sesuatu yang berbeda. Hati mereka telah menjauh. Mereka lebih mengandalkan kekuatan politik daripada penyelenggaraan Allah, lebih mengejar keuntungan daripada keadilan, dan lebih mencintai kenyamanan daripada kesetiaan. Karena itu Hosea menyerukan, “Menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan, menuailah menurut kasih setia.” Tuhan tidak meminta mereka memperbanyak ritual, melainkan memperbarui hati. Sebab akar dosa bukanlah kurangnya aktivitas keagamaan, melainkan hati yang berhenti mencintai Allah.
Injil hari ini menunjukkan bagaimana Allah menanggapi manusia yang hatinya telah tersesat. Yesus mengutus para rasul dengan satu tujuan yang sangat jelas: “Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Menarik bahwa Yesus tidak berkata, “Pergilah mencari orang-orang yang paling saleh.” Sebaliknya, Ia mencari mereka yang hilang. Inilah wajah Allah yang sesungguhnya. Allah selalu mengambil langkah pertama. Dialah Gembala yang mencari, bukan hakim yang hanya menunggu untuk menghukum. Ia mendatangi mereka yang lemah, memanggil mereka yang berdosa, mengangkat mereka yang jatuh, dan memulihkan mereka yang kehilangan harapan. Perutusan Gereja sejak awal bukanlah membangun kelompok orang-orang yang merasa paling suci, melainkan menghadirkan belas kasih Allah bagi mereka yang membutuhkan keselamatan.
Kalau kita jujur, sesungguhnya kita semua pernah menjadi domba yang hilang. Kita mungkin tidak tersesat secara fisik, tetapi pernah tersesat dalam hati. Ada yang tersesat karena dosa yang terus diulang. Ada yang tersesat oleh kesombongan sehingga merasa tidak membutuhkan Tuhan. Ada yang tersesat karena ambisi yang membuat pekerjaan lebih penting daripada keluarga dan iman. Ada pula yang tersesat oleh ketakutan, luka batin, kegagalan, atau keputusasaan sehingga kehilangan harapan. Bahkan tidak sedikit yang tetap datang ke gereja, tetapi hatinya dipenuhi kemarahan, iri hati, dendam, atau kebencian. Semua itu adalah bentuk-bentuk “domba yang hilang” yang sering kali tidak tampak dari luar.
Namun kabar gembira Injil adalah ini: Kristus tidak pernah berhenti mencari kita. Ia mengenal nama kita satu per satu. Ia tidak jijik melihat kelemahan kita. Ia tidak meninggalkan kita ketika kita jatuh. Seperti Gembala Baik, Ia masuk ke semak-semak dosa kita, menembus kegelapan hidup kita, lalu memanggul kita di atas bahu-Nya. Di kayu salib, Yesus menunjukkan bahwa kasih-Nya selalu lebih besar daripada dosa manusia. Ia memanggil kita kembali bukan dengan ancaman, tetapi dengan kasih yang memulihkan. Ia mengampuni, mengangkat, dan mengembalikan martabat kita sebagai anak-anak Allah. Inilah inti Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus: Allah datang bukan untuk menghancurkan manusia, melainkan untuk menyelamatkannya.
Karena itu Mazmur hari ini mengundang kita, “Bernyanyilah bagi Tuhan, bermazmurlah bagi-Nya.” Akan tetapi pujian yang dikehendaki Allah bukan pertama-tama suara yang merdu, melainkan hati yang telah disentuh kasih-Nya. Orang yang sungguh mengalami belas kasih Tuhan akan memuji dengan seluruh hidupnya. Kata-katanya menjadi penghiburan, tangannya menjadi penolong, kehadirannya membawa damai, dan hidupnya menjadi kesaksian bahwa Allah sungguh hidup. Santo Fransiskus dari Assisi pernah berkata, “Beritakanlah Injil setiap saat; bila perlu gunakan kata-kata.” Artinya, hidup yang dipenuhi kasih adalah pujian yang paling indah bagi Allah. Maka dari hati yang diperbarui lahirlah pujian yang tulus, dan dari pujian yang tulus lahirlah pelayanan yang menyembuhkan.
Saudara-saudari terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita melakukan pemeriksaan batin. Apakah iman kita hanya tampak dalam ritual, atau sungguh mengubah cara kita memperlakukan sesama? Apakah doa-doa kita membuat kita semakin rendah hati, semakin mudah mengampuni, semakin peduli kepada mereka yang menderita? Jangan sampai kita memiliki banyak simbol keagamaan tetapi kehilangan hati yang penuh belas kasih. Sebab Allah tidak menghendaki ilusi kesalehan, melainkan hati yang sungguh kembali kepada-Nya.
Marilah kita datang kepada Kristus Sang Gembala Baik dengan segala kelemahan kita. Biarkan Dia sekali lagi menemukan kita, memanggil nama kita, menyembuhkan luka-luka kita, dan memperbarui hati kita. Setelah ditemukan oleh kasih-Nya, janganlah kita berhenti pada rasa syukur pribadi. Marilah kita menjadi perpanjangan tangan Sang Gembala: mencari mereka yang jauh, menghibur yang putus asa, mengangkat yang jatuh, mengampuni yang bersalah, serta menghadirkan belas kasih Allah di mana pun kita berada. Sebab ketika hati diperbarui oleh kasih Kristus, hidup kita sendiri akan menjadi pujian yang indah bagi Allah dan menjadi tanda bahwa Kerajaan Surga sungguh sudah dekat.
Amin.