Tahun Yubileum St. Fransiskus: Masa Berahmat untuk Membarui Gereja dengan Kembali ke Semangat Injil

*Ditulis oleh RP Paulus Silalahi, OFMCap.

Gereja mendedikasikan tahun 2026 sebagai tahun Yubileum St. Fransiskus Assisi yang bertepatan dengan delapan ratus tahun sejak kematian Sang Santo.[1] Penetapan Yubileum ini dilatarbelakangi oleh kemendesakan pembaruan Gereja pada gaya dan spiritualitas reformatif St. Fransiskus.  Yubileum ini mengajak seluruh Gereja mensyukuri benih-benih warisan spiritual Santo Fransiskus dan memperbarui komitmen panggilan hidup Injili. Inti panggilan injili ini adalah: mengikuti Kristus yang miskin dan tersalib dan mencintai Gereja.[2] Kemendesakan ini dapat dirangkum  dalam dua kata: “Injil” dan “Katolik”. Adalah semangat konsili Vatikan II yang menekankan  Injil sebagai pilar Gereja; Injil bagi Gereja adalah prinsip seluruh hidupnya sepanjang masa (bdk. LG 20). Konsili Vatikan II adalah pembacaan ulang Injil dalam terang budaya kontemporer. Ini menghasilkan sebuah gerakan pembaruan yang berasal dari Injil itu sendiri.[3] Gereja harus kembali ke Injil dan Fransiskus menjadi model utama yang paling sering dikutip menyangkut bagaimana kembali ke forma hidup injili (forma vitae evangelica).

Gereja yang Miskin dan Bagi Orang Miskin

Pada awal mandatnya, Paus Fransiskus mengatakan: “Betapa saya menginginkan sebuah Gereja yang miskin dan bagi kaum miskin.” Kerinduan akan “Gereja yang miskin dan bagi orang miskin” diungkapkan oleh Paus Fransiskus beberapa hari setelah terpilih sebai Paus pada Maret 2013, dengan terinspirasi oleh Santo Fransiskus dari Assisi. Konsep yang menjadi pusat masa kepausannya ini mengandaikan sebuah Gereja yang menanggalkan keduniawian, mendekati mereka yang tersisih, dan menempatkan di pusat perhatian mereka yang hidup dalam kebutuhan, sambil melawan “globalisasi ketidakpedulian.”[4] Hal ini pun kembali digaungkan oleh Paus Leo XIV dalam ensiklik pertamanya, Dilexit Te (2025): “Delapan abad yang lalu, Santo Fransiskus mendorong pembaruan injili […) pilihan yang mengutamakan kaum miskin merupakan sumber pembaruan yang luar biasa bagi Gereja.” (DT 7). Pembaruan Gereja pada saat ini menggaungkan apa yang diperintahkan Allah kepada Fransiskus: “Pergilah dan perbaikilah Gereja-Ku yang hampir rubuh ini.” Pembaruan ini mengarah menjurus pada Gereja yang miskin dan bagi kaum miskin sebagaimana dimodelkan semangat Fransiskus Assisi dan dalam bingkai pembaruan Konsili Vatikan II.

Fransiskus Vir Catolicus (Sang Katolik Sejati)

Bagi Fransiskus, Injil adalah Sang Sabda; Anggaran Dasar dan seluruh hidup hanyalah tanggapan terhadap Sabda itu. Injil menjadi norma segala peraturan, dan mengikuti Kristus adalah kesempurnaan hidup bagi semua orang. Fransiskus menghayati bahwa Kristus hadir dalam Injil dan selalu memanggilnya untuk mengikuti-Nya. Dan akhirnya Injil adalah Kristus sendiri yang mengundangnya untuk masuk ke dalam kehidupan yang sesungguhnya.  Pada saat yang sama, ia menyadari bahwa Kristus hadir dalam Gereja-Nya. Dari sinilah lahir sintesis hidup injili Fransiskus: taat kepada Yesus Kristus yang berbicara dalam Injil dan dihidupi dalam Gereja sebagai saudara minor.[5]

Salah satu intuisi religiusnya adalah sentire cum Ecclesia—merasakan (ber-phatos) dan berjalan bersama Gereja. Hal ini tampak dalam ungkapan-ungkapan kesukaannya: “Gereja kudus” dan “Bunda Gereja yang kudus”. Ungkapan-ungkapan ini ada dalam arus mentalitas ketika Gereja tidak dilihat sebagai “tidak kudus”. Pada saat itu Gereja ada dalam kemerosotan (jauh dari kekudusan) dan sedang akan rubuh. Ungkapan “Gereja kudus” dan “Bunda Gereja yang kudus” ditentang keras oleh gerakan-gerakan pada saat itu. Hal ini, misalnya diwakili oleh kelompok Katar yang mengatakan bahwa untuk menghidupi Injil dengan sungguh orang harus keluar dari Gereja. Dalam konteks inilah hidup Fransiskus dan para saudaranya justru menjadi hidup dalam kesetiaan total dan ketaatan tulus kepada Gereja, sebuah “hidup di dalam Gereja”. Dalam Anggaran Dasarnya ditegaskan sedemikian bahwa “Tidak seorang saudara pun boleh berkhotbah bertentangan dengan peraturan dan ketentuan Gereja Kudus” (AngTBul XVII 1). Semua saudara harus hidup serta berbicara secara Katolik:

Kepada semua orang yang mau mengabdi kepada Tuhan Allah di dalam Gereja yang kudus, katolik dan apostolik […]”

Semua saudara haruslah katolik, hidup dan berbicara secara katolik. Jika seseorang menyimpang dari iman dan cara hidup katolik, dengan perkataan atau perbuatan, dan tidak memperbaiki dirinya, maka ia harus dikeluarkan sama sekali dari persaudaraan kita.

Fransiskus putera yang taat dan setia dari Gereja yang pada saat itu dicemooh dan dipergunjingkan, justru menyebutnya “Bunda Gereja yang kudus” dan hidup di dalam Gereja Katolik. Kriteria kekatolikan sejati adalah pembaru di dalam Gereja itu sendiri dengan menghidupi Injil, bukan dengan mengkritik dan mengecam.

Fransiskus adalah figur dan model Katolik sejati yang membarui Gereja: ia tidak berdiri di luar untuk mencela dan menghakimi, melainkan berlutut di dalam membarui diri. Ia hanya menghidupi Injil dengan keyakinan bahwa Injillah satu-satunya yang mampu mengubah dan membarui. Dalam jejak tulisan-tulisannya tidak ditemukan maksud langsung Fransiskus untuk memperbarui Gereja (institusi). Dalam arti paradoks, ia bahkan tidak pernah berniat “memperbaiki” Gereja (institusi). Namun justru sintesis hidupnya menunjukkan bahwa pembaruan Gereja (hanya) lahir dari Injil yang dihidupi dan dari cinta yang taat kepada Kristus serta Gereja-Nya. Injil adalah Kristus sendiri, dan Gereja adalah Tubuh Mistik-Nya.[6]

Fransiskus Alter Christus (Sang Kristus yang Lain)

Fransiskus disebut sebagai Alter Christus yang serentak adalah “manusia Injil” dan “manusia Gereja”. Bagi Fransiskus, tiga ungkapan: “mengikuti Kristus”, “hidup menurut forma Injil suci”, dan “hidup menurut forma dan institusi Bunda Gereja kudus” adalah setara dan tidak terpisahkan (AngTBul XII,5). Ekspresi yang merangkum dengan baik isi hidup injili dalam mengikuti Kristus menurut Santo Fransiskus: “[…] Supaya kita senantiasa tunduk dan taat di kaki Gereja Kudus, teguh dalam iman Katolik, serta memelihara kemiskinan dan kerendahan serta Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus yang telah kita janjikan dengan sebulat hati” (AngBul XII 4). Ketaatan kepada Yesus Kristus, Injil, dan Gereja begitu mendasar sehingga “aturan dan hidup” lebih dari sekali disebutnya sebagai “ketaatan”. Akhirnya Hidup injili artinya ketaatan kepada Gereja Kudus (bdk. AngTBul XI 9.10.13). Ketiga ketaatan ini adalah satu: ketaatan kepada Yesus Kristus yang berbicara dalam Injil yang dihayati dalam Gereja.[7] Untuk taat kepada Yesus Kristus, mutlak taat pada apa yang Ia katakan dalam Injil (AngTBul 1,1; 11,14; III,1-2). Hidup menurut Injil Yesus Kristus perlu diizinkan dan diteguhkan oleh Paus, dan hubungan ketaatan terhadap Injil serta Yesus Kristus harus disertai ketaatan terus-menerus kepada Paus (AngTBul Prol. 3-4) dan kepada Gereja (AngTBul XI 12).[8]

Injil, hidup, dan Kristus adalah tiga kenyataan yang bagi Fransiskus saling terkait. Injil adalah cara hidup yang berarti taat kepada Kristus yang berbicara dalam Injil yang dihidupi dalam Gereja, sebagai saudara-saudara minor bagi semua orang. Cara hidup ini membuat Injil menjadi hidup: Injil menjadi jalan yang ditempuh, kebenaran yang bersinar, hidup yang dijalani. Cara hidup ini juga membuat Yesus Kristus hidup: inilah inkarnasi yang berlanjut dengan dua aspek dasarnya, yakni pewahyuan dan keselamatan. Di mana Injil dihidupi, di situ Injil dan Yesus Kristus hidup.[9]

Gereja yang Kembali ke Injil

Tahun Yubileum Fransiskus dari Assisi adalah momen awal dan konstan untuk kembali ke Injil. Hal ini lebih mendesak sejak masa Kepausan Fransiskus yang hendak menyalakan kembali dan terus semangat Konsili Vatikan II. Adalah di bawah abu tertutup bara api; cukup seseorang mengibaskan abu itu dengan sebatang ranting kecil, maka api akan membara dan berkobar kembali. Api itu adalah Injil yang kerap tertutup oleh debu Gereja. Injil harus kembali bernyala dan mengobarkan. Gereja yang miskin di tengah kaum miskin dan bagi orang miskin adalah Gereja Kristus yang adalah Gereja Injil yang harus membawa sukacita dan Syalom sepanjang zaman.[10] Dengan demikian Tahun Yubileum Fransiskus adalah masa intens untuk mendalami makna Injil dan memaknai kembali dan selalu evangelisasi.

 

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com