
Paus Leo XIV menyambuat raja tradisional Mankon, Fon Fru Asaah Angwafor IV (foto:Vatican Media)
Oleh Joseh Tulloch-Bamenda
BAMENDA-KAMERUN — Pada hari keempat perjalanan apostoliknya di Afrika, Pope Leo mengunjungi wilayah barat laut Kamerun yang dilanda konflik, dan menegaskan bahwa waktu untuk perubahan adalah “hari ini, bukan besok; sekarang, bukan nanti”.
Kunjungan tersebut berlangsung di Bamenda, kota yang menjadi pusat konflik berkepanjangan yang dikenal sebagai krisis Anglophone. Sejak 2016, kelompok separatis dari komunitas berbahasa Inggris di Kamerun terlibat bentrokan dengan pasukan pemerintah, dengan tujuan membentuk negara merdeka di wilayah barat laut dan barat daya.
Seruan Perdamaian di Tengah Konflik
Setibanya di Bamenda, Paus Leo menghadiri pertemuan perdamaian bersama para pemimpin komunitas, termasuk tokoh agama dan pemimpin adat. Ribuan warga memadati area sekitar Katedral St. Joseph, menyambut kedatangan Paus dengan nyanyian dan tarian tradisional.
Dalam pidatonya, Paus menyoroti dampak kehancuran akibat perang.
“Para penguasa perang berpura-pura tidak tahu bahwa menghancurkan hanya butuh sesaat, sementara membangun kembali bisa memakan waktu seumur hidup,” ujarnya.
Ia juga mengkritik penggunaan anggaran besar untuk konflik bersenjata, sementara kebutuhan untuk pemulihan, pendidikan, dan pembangunan justru terabaikan. Bahkan, Paus memperingatkan bahwa dunia saat ini “dirusak oleh segelintir tiran”.
Harapan Baru di Tengah Keputusasaan
Dalam misa yang digelar di Bandara Bamenda, Paus mengakui bahwa konflik yang telah berlangsung hampir satu dekade itu dapat memicu rasa putus asa di tengah masyarakat.
Ia menilai harapan akan perdamaian di Kamerun kerap kandas akibat berbagai persoalan, seperti korupsi, kemiskinan, dan gelombang emigrasi.
Namun demikian, Paus menegaskan bahwa masih ada peluang untuk perubahan.
“Sabda Tuhan membuka kemungkinan baru, menggugah hati, dan menantang keadaan yang tampak tak berubah,” katanya.

Sejumlah dengan pakaian tradisional menyambut kedatangan Paus XIV (Foto:Vatican Media)
Momentum Menuju Perdamaian
Di tengah kunjungan tersebut, muncul secercah harapan. Aliansi separatis Anglophone dilaporkan объявkan gencatan senjata selama tiga hari sebagai bentuk penghormatan atas kunjungan Paus—langkah yang disebut sebagai yang pertama kalinya terjadi.
Uskup Buea, Michael Bibi, menilai momentum ini harus dimanfaatkan oleh semua pihak untuk mencari jalan keluar dari konflik.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah semua pihak duduk bersama dan bertanya: bagaimana kita melangkah ke depan dari sini?” ujarnya.
Masyarakat di wilayah barat laut dan barat daya Kamerun pun kini menaruh harapan besar bahwa kunjungan Paus dapat membuka jalan menuju perdamaian yang selama ini dinantikan (VATICAN NEWS,16 April 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr