HANYA BERSELANG TIGA TAHUN

 2,448 total views,  1 views today

RP. Benny Manurung, OFMCap

Refleksi Pribadi

Sudah ada kurang lebih 3 tahun aku berada di tempat ini (Roma). Kalau kulihat ke belakang, tokoh-tokoh penting dalam kehidupan beriman kita secara bertahap membentuk reuni spiritual di rumah Bapa dan menjadi pendoa untuk kita. Dalam rentetan waktu ini juga, ada beragam momen yang patut dikenang.

Kalau kuurutkan sejak awal saya tiba di sini, sejak 25 April 2018 hingga saat ini ada begitu banyak peristiwa yang pantas untuk kukenang secara pribadi:

Sekembali dari kursus bahasa Italia di Venezia, saya kembali ke Roma dan berjumpa beberapa saudara kapusin dari Medan yang ikut dalam kapitel General OFMCap pada 27 Agustus – 15 September 2018. Waktu itu, sudah santer berita di WA grup kapusin kalau Mgr. Ludovicus Simanullang,OFMCap sedang sakit keras dan dirawat di RS St.Elisabeth Medan. Hanya 5 hari berselang sesudah selesai Kapitel General itu, pada 20 September 2018 kami dikejutkan oleh berita meninggalnya Mgr. Ludovicus Simanullang,OFMCap. Beliau adalah Uskup di Keuskupan Sibolga dan pernah menjadi guru Fransiskanologiku di Nopis Kapusin Parapat tahun 2014-2015. Masih tergolong muda, 63 tahun.

Sekitar 3 bulan berselang kejadian meninggalnya Mgr Ludovicus, pada 08 Desember 2018 ketika kelompok kami, religius Batak yang ada di Roma merayakan misa bersama, tepatnya pkl. 12.05 waktu Roma & saat Doa Syukur Agung, secara tak sengaja saya buka WA grup Kapusin dan membaca berita dari Mgr. Martinus Situmorang,OFMCap bahwa P.Kornelius Sipayung,OFMCap telah dipilih oleh Paus Fransiskus menjadi uskup di Keuskupan Agung Medan. Selanjutnya, pada 02 Februari 2019, diadakan acara pentahbisan uskup yang dihadiri ribuan umat.

Sebelum acara tahbisan uskup ini, kami dikejutkan oleh berita meninggalnya P. Arie van Diemen,OFMCap pada 23 Januari 2019. Beliau adalah salah seorang pastor kapusin yang sangat kukagumi. Di usianya yang menjalani 77 tahun sebenarnya P. Arie masih tergolong muda untuk kalangan orang Eropa. P. Arie adalah seorang saudara kapusin yang bersahaja dan rendah hati, ceria, disiplin, seorang pendoa sejati, dan saudara kapusin yang peduli kepada orang-orang miskin. Itulah mengapa aku sangat mengagumi beliau meskipun saya sering diejeknya.

5 bulan setelah itu, bulan Juni 2019, para uskup dari Indonesia datang ke Roma untuk kunjungan ad limina (kunjungan sekali lima tahun) dengan Bapa Suci P. Fransiskus. Keakraban yang tak terlupakan dengan beberapa uskup Indonesia, khususnya para uskup kapusin. Semua tampak sehat.

Hanya berselang 5 bulan kemudian, berita yang sangat mengejutkan datang lagi. Mgr. Martinus Situmorang,OFMCap meninggal dunia karena sakit pada 19 November 2019 di RS St. Carolus Borromeus Bandung. Saya mendengar kabar meninggalnya Mgr. Martinus Situmorang,OFMCap di WA grup kapusin sewaktu mengikuti mata kuliah sore hari di kampus kami (sekitar pkl 16.00 waktu di Roma atau pkl 22.00 WIB di Indonesia). Selebihnya pelajaran tak bisa lagi kuikuti dengan baik karena saya sangat terkejut dan sibuk membolak-balik pesan di whatsapp. Sangat sedih dan terkejut.

Pada 31 Desember 2019, China melaporkan secara resmi adanya virus corona kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di Indonesia, kasus positif COVID-19 pertama kali dideteksi pada tanggal 2 Maret 2020, ketika dua orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga negara Jepang. Inilah awal mula pandemi yang meresahkan seluruh dunia hingga saat ini.

Tidak sampai satu tahun sejak pandemi ini ‘meresahkan dunia’, dari Keuskupan Sibolga, ada beberapa imam yang meninggal dalam waktu berdekatan (RD. Tola Harefa, RP.Servatius,OFMCap, RP.Teophil,OFMCap, RP.Barnabas Winkler,OFMCap) termasuk Mgr. Anicetus Sinaga,OFMCap. Mgr. Anicetus adalah uskup yang menahbiskanku menjadi imam. Hampir satu tahun setelah meninggalnya Mgr. Martin, pada 07 November 2020, Mgr. Anicetus Sinaga yang bahkan telah dinyatakan negatif covid-19, akhirnya menghembuskan nafas terakhir di RS St. Elisabeth Medan. Selain sebagai uskup, Mgr. Anicetus juga dikenal sebagai pakar Budaya Batak, seorang kapusin yang rendah hati, dan menurut kisah beberapa religius senior beliau tergolong kuat dan tak pernah sakit. Ketika Mgr Kornelius Sipayung ditunjuk oleh Vatikan menjadi Uskup Agung KAM pada 08 Desember 2018, beliau dengan ringan mengatakan: “Aku hanya mempersiapkan jalan”. Kalimat sederhana yang diungkapkannya pada saat wawancara dengan majalah Hidup di sela-sela pertemuan di gedung KWI, Jakarta ini, menunjukkan kerendahan hatinya.

Dan, yang terakhir yang masih sangat segar di ingatan kita di 2021 ini adalah berita meninggalnya P.Elias Sembiring,OFMCap (mantan propinsial kapusin) pada 14 Januari 2021 yang lalu dan terbaru P.Leo Joosten,OFMCap di RS St.Elisabeth Medan, pada 28 Februari 2021 (pkl.02.28 WIB).

P.Leo Joosten,OFMCap yang sebelumnya terpapar covid-19 bahkan sempat dinyatakan negatif, akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Beliau adalah seorang budayawan, kapusin pengabdi fakir miskin, penulis buku (sudah ada 23 buku yang ditulisnya). Beliau sangat dikenal karena merintis pembangunan Gereja inkulturatif budaya Batak Toba dan Karo. Ketika aku bertugas di Paroki St.Yohanes Pembaptis, Pakkat (2013-2015), CU Pardomuan yang dirintisnya dulu, berkembang sangat pesat hingga hari ini. Dan, CU itu memberdayakan masyarakat setempat.

Waktu berlalu begitu cepat. Dan hanya dalam hitungan hampir 3 tahun sejak aku berada di tempat ini, tak terselami misteri Tuhan menyapa dan kusadari hanya bisa ‘kulihat’ dari jauh. Waktu Tuhan memang tak terduga dan selalu misteri, justru karena itu Dia kita imani Mahakuasa. Kendati demikian, hati kecilku tak absen berbisik bahwa dalam waktu sesingkat itu begitu banyak jalan Tuhan tetap tak sanggup kumengerti. Justru karena itulah juga maka Dia kita imani Allah yang paling dekat dengan kita sekaligus tak terselami misteri-Nya.

Kata filsuf, keberadaan setiap orang dilipatgandakan ketika dia sudah tidak ada. Dan, jarak antara keberadaan dan ketiadaan menjadi sebuah tohokan yang mengundang refleksi juga ternyata bagiku pribadi: apa sebenarnya makna hidup. Sekian peristiwa berarti bisa sekadar berlalu dan direduksi menjadi bayang-bayang semata. Namun, seperti kata filsuf Aristoteles, hidup yang tak direfleksikan tak pantas dijalani justru karena hakikat kemanusiaan kita lebih dari sekadar berada secara fisik saja. Ada Tuhan yang bahkan jauh lebih dekat kepada kita dari pada kita pada diri kita sendiri (St.Agustinus).

Ada kerinduan bagi mereka yang telah mendahului kita, jelas. Dan kerinduan itu alih-alih sentimental, justru karena panggilan sejati yang sedang diperjuangkan. Ada sebuah nilai yang kami sebut karisma. Dan, bagi mereka yang sudah terdahulu itu layak dinamai pemberi teladan. Sekian lama, dalam setiap perjumpaan aku disadarkan ternyata Tuhan berbicara kepadaku (dan kita) dalam diri mereka: kumelihat Tuhan yang berkotbah dan menyapa penuh kebapaan, ada Tuhan yang tajam mengingatkan tapi serentak tulus mengidungkan Appanella bagi anak-anaknya, aku melihat Tuhan yang berjalan kaki di pelosok-pelosok jelata dan telah berusaha mengembangkan budaya dan mengusahakan bagaimana memberdayakan mereka yang terpinggirkan. Hidup sungguh tak sia-sia jika karisma sejati ini dihidupi. Karisma itu sungguh memberi hidup, menjadi sakramen serta “garam dan terang dunia” yang menghidupkan, & menunjukkan kepada kita siapa itu Tuhan dan bagaimana wajah-Nya. Ini bukan utopia. Mereka telah menunjukkanya.

Facebook Comments
Baca juga  Gereja Katolik Indonesia & BNPB Sepakati Langkah Penanganan Corona

Leave a Reply