DISCERNMENT DALAM PENDAMPINGAN ORANG MUDA

 879 total views,  2 views today

RP. Benny Manurung, OFMCap

Discernment adalah sebuah proses yang menuntun seseorang dalam mengambil keputusan. Dalam Gereja Katolik, kemampuan discernment diterima dari Roh Kudus menuju kedalaman diri (hati Nurani) untuk bertindak secara bebas. Tujuannya adalah untuk melihat dengan jelas, mengenali motivasi dasar atau kemurnian semangat yang mendorong seseorang melakukan sesuatu, sambil mengarahkannya pada arah yang benar.

Pentingnya mendengarkan orang muda

Zaman orang muda ditandai oleh ambivalensi di antara nilai-nilai lama/tradisional dan peluang baru yang tak pasti tetapi menarik dan menggoda. Seumpama seorang pemabuk yang mencari kunci rumahnya di bawah lampu jalan. Seorang tetangga mendekatinya dan bertanya kepadanya: “apa yang kamu cari?” Pemabuk: “kunci rumah”. Tetangga itu bertanya kepada si pemabuk: “Apakah kamu benar-benar yakin kamu tersesat di sini?” “Tidak, saya kehilangannya di tikungan, tapi di sana gelap dan Anda tidak dapat melihat apa pun dan di sini malah ada lebih banyak cahaya!”.

Untuk mencari kunci ini, kaum muda harus dipahami secara penuh baik secara fisik, psikologis, afektif, relasional, kognitif. Namun pertanyaan-pertanyaan ini ada di dalam diri mereka: “Siapa saya?”, “Kemana saya akan pergi?”. Orang muda sedang “mencari tujuan yang dapat mereka perjuangkan, ide yang dapat mereka pegang teguh, tugas untuk dilakukan”. Mungkin mereka sedang mencari di tempat yang gelap, karena kurang menemukan figur yang cocok, situasi keluarga yang tidak mendukung, pekerjaan yang tidak sesuai harapan. Atau bisa jadi juga, konsep diri mereka yang lemah: pesimis, kurang percaya diri, kecemasan akan masa depan, dll.

Orang muda perlu mengambil waktu untuk berefleksi. Dia adalah pemain utama untuk masa depannya. Aspirasi harus memotivasi mereka untuk mencari makna menuju hidup yang penuh semangat. Untuk itu, mereka butuh ‘partner’ yang bisa dipercaya sekaligus kompeten.

Orang-orang muda memang terkesan rapuh dan minim wawasan. Bisa jadi mereka disepelekan, “Apa yang kau ketahui tentang hidup?” Tetapi, orang-orang muda adalah mereka yang memiliki banyak sumber daya dan potensi, khususnya saat mereka memiliki kesadaran untuk berkembang secara mandiri.

Di usia muda, upaya untuk memadukan antara impian dan kenyataan lebih jelas terasa. Kesenjangan ini terkadang menciptakan keragu-raguan orang muda untuk memilih. Mereka membiarkan ketakutan, ketidakpastian dan keraguan merajalela, terutama ketika mereka harus menghadapi kenyataan yang terus berubah. Inilah sebabnya mengapa discernment penting: memastikan apakah mereka sedang berada di jalur yang tepat.

Kemampuan melihat indikasi perkembangan dalam discernment adalah tugas pendidikan yang harus diiringi dengan kesabaran dan ketekunan. Indikator perkembangan secara konkrit dapat diamati pada konsistensi tindakan yang dilakukan anak muda setiap hari, seperti “sikap yang positif dan stabil atas identitas diri sendiri, kemampuan berkomunikasi dengan orang lain, bisa bekerja sama, antusiasme, keberanian untuk membuat keputusan dan setia atasnya, mengenal bakat dan keterbatasan, seksualitas yang matang dan terintegrasi, serta emosional yang sehat.”

 Belajar menerima risiko

Orang muda bertanya, “Bagaimana membangkitkan keberanian atas pilihan?” Orang muda hendaknya diajari menerima risiko dari sebuah pilihan. Saatnya beralih dari idealisme ke fakta konkrit. Pilihan hidup harus disesuaikan dengan situasi dimana dia hidup. Hiduplah hari ini! Ini bisa dijadikan motivasi: anda akan merasa lebih bersalah lagi jika anda memilih untuk diam dan tak berani memilih. Ketika anda capek dan anda merasa puas, anda sedang berada di jalur perjuangan yang tepat.

Melibatkan diri secara penuh

Discernment antara cita-cita ideal dengan pilihan nyata yang real selalu mengandung ketegangan pendidikan ganda. Di satu sisi, kemampuan untuk mengimplementasikan potensi terintegrasi dalam kenyataan di mana seseorang hidup. Di sisi lain, pengalaman ini membuka pemahaman yang lebih luas akan aktualisasi diri tapi tanpa terbelenggu olehnya.

Kalau seseorang dipisahkan dari kesulitan hidup, ia mengalami distorsi degeneratif: “cepat menua” padahal seharusnya masih potensial, lenyapnya keterlibatan dan keaktifan, dan kekakuan yang memunculkan ketakutan eksistensial. Ia menjadi acuh tak acuh terhadap kenyataan hidup yang dijalaninya. Akibatnya orang-orang muda menjadi dangkal, terkesan oleh hal-hal yang wah dan kasat mata. Hidup yang mendalam dan relasi dengan Tuhan dianggap sebagai klise.

Pembinaan integral yang bijaksana membutuhkan keterlibatan yang dinamis dan otentik. Hal itu hendaknya selaras dengan hasrat orang muda yang terbuka dan siap berisiko, bahkan ketika mereka takut melakukan kesalahan. Orang muda perlu mengenali diri sendiri: kekuatan dan kelemahan, ketakutan dan harapan. Selain itu, mereka harus menjadi pelaku aktif dalam pembinaan itu sendiri dan tidak gampang puas atas apa yang telah diperolehnya.

Berkomitmen dan melampaui diri sendiri

Jika aktualisasi diri adalah tujuan tertinggi kehidupan orang muda, mereka berisiko tersesat ketika menghadapi kegagalan dan kesulitan. Sebaliknya, kemampuan untuk membuka diri terhadap perspektif baru dan kemampuan untuk merendahkan diri akan membangkitkan semangat. Orang muda dipanggil keluar dari dirinya sendiri untuk mengabdikan diri dengan cinta pada tujuan hidupnya lewat:

  1. Transendensi diri: merupakan dimensi keterbukaan terhadap visi perencanaan kehidupan tanpa terlepas dari proses pertumbuhan dan transformasi yang menyertai perkembangan pribadi. Ada tujuan tertinggi yang hendak dicapai. Jika dimensi transendensi-diri ini sudah ditemukan, orang muda menemukan identitas mereka yang sejati. Dimensi somatik, psikis, dan spiritual adalah bagian utuh manusia, dimana dimensi spiritual sebagai hal fundamental. Dimensi spiritual tidak mengecualikan dimensi lain, melainkan menghidupkannya. Dalam aspek transenden orang muda menemukan kembali bahwa ia adalah totalitas yang terintegrasi dalam berbagai komponennya, terbuka untuk masa depan dan hal-hal baru.
  2. Keberanian mengambil keputusan: hidup adalah perjuangan terus-menerus untuk menghayati makna dalam bentukan hati nurani. Transendensi diri mengarahkan manusia pada kebijakan dalam berelasi dengan orang lain. Dalam pilihan-pilihan hidup yang konkrit seseorang dipanggil untuk terlibat, mengorientasikan dirinya dengan berani menuju makna hidup, mengaktifkan hasrat yang dalam ketika dia bersentuhan dengan kenyataan, terutama pada saat-saat krisis. Justru pada saat krisis itulah manusia menemukan kembali kebutuhan akan perubahan yang secara realistis sesuai dengan pilihan dasarnya, kebutuhan eksistensial yang memotivasinya membuka diri terhadap Yang Lain, Tuhan. Hanya sejauh seseorang mampu menjalani transendensi-diri dari eksistensinya, maka ia adalah manusia yang otentik dan menjadi dirinya sendiri. Semua ini mendorong setiap orang untuk membiarkan dirinya dibentuk dan menyelaraskan potensi dirinya dengan makna nilai dari situasi yang dia alami.
Prinsip-prinsip mengarahkan orang muda dalam pendampingan:
  1. Penyatuan antara idealisme dan realitas selain dipikirkan atau diinginkan, harus juga didesak (‘dipaksa’). Orang muda sendiri dapat menguji apakah peluangnya konsisten dengan harapannya, tidak cukup lewat niat baik tetapi juga harus lewat tindakan.
  2. Dalam bertindak, orang muda berinteraksi dan mencari makna dalam hubungan dengan lingkungan dan orang di sekitarnya.
  3. Situasi yang paling sulit sekalipun (krisis, kesalahpahaman, perubahan usia, konflik, dll) adalah momentum discernment yang paling baik. Bahkan ketika kita menemukan diri kita sebagai korban yang tidak berdaya dalam situasi tanpa harapan, hidup bisa penuh makna; karena dengan begitu kita dapat mencapai apa yang paling manusiawi dalam diri kita, dan pada saat yang sama menjadi kesempatan mengubah tragedi dan penderitaan menjadi sebuah kemenangan pribadi. Dalam situasi yang paling kompleks inilah generasi muda mengaktifkan energi dan motivasi psiko-spiritualnya untuk mendapatkan cara baru dalam menghadapi orang lain dan peristiwa yang mereka hadapi.
Antara kemandirian dan kolaborasi

Discernment tidak cukup hanya pada tataran kognitif dan intuitif. Discernment itu adalah usaha kompleks dan terencana. Motivasi setiap individu sangat menentukan dalam mencapai tujuan. Seseorang harus yakin bahwa mereka adalah pelaku utama untuk hidup mereka.

Pertama-tama, orang muda harus mengenal dirinya sendiri, mampu melakukan introspeksi diri. Lalu, mereka harus memiliki tanggung jawab atas pilihan dan mau dididik/diarahkan (fleksibel dan adaptif). Pembimbing menjadi ‘partner’ bagi orang muda di mana terjadi pertukaran pengalaman dan hubungan timbal balik. Pendidikan timbal balik ini memperkuat rasa memiliki dan saling bersyukur. Dalam relasi pendidikan sejenis ini seseorang belajar mengenali apa yang berharga dalam diri orang lain.

Kedua belah pihak (baik pendamping maupun yang dididik) harus saling terlibat. Melalui hubungan pendidikan yang otentik dan terbuka, baik pendidik maupun orang muda hendaknya merasa diterima dan dihargai dalam upaya pencarian makna baru kehidupan. Pencarian makna baru ini menjadi tugas terbuka dan penemuan kembali proyek kehidupan seseorang secara berkelanjutan. Setiap pilihan disadari sebagai anugerah untuk diterima dan dihargai secara terus-menerus.

Facebook Comments
Baca juga  PESONA KUNJUNGAN "PASTORAL" MAHASISWA KATOLIK UNIMED

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply