Anggota Parlemen Kristen Etnis Oraon Pertama di Bangladesh Picu Optimisme

 

 

Anna Minji menyampaikan pidato di sekolah SMU St.Philipus, utara Bangladesh, 03 Januari 2025 (Foto: Facebook)

Oleh Justin Gomes

Seorang anggota parlemen perempuan Kristen pertama dari kelompok etnis minoritas di Bangladesh dinilai menjadi peluang bersejarah bagi kemajuan komunitas yang selama ini terpinggirkan. Sejumlah pemimpin Kristen dan tokoh masyarakat adat menyampaikan harapan tersebut menyusul pelantikan Anna Minj sebagai anggota parlemen.

Anna Minj, seorang Katolik dari kelompok suku Oraon di wilayah utara Bangladesh, resmi diambil sumpahnya sebagai anggota parlemen pada 3 Mei 2025. Ia terpilih melalui salah satu dari 50 kursi khusus perempuan di parlemen nasional yang beranggotakan 350 orang.

Minj merupakan satu dari 36 kandidat anggota parlemen perempuan yang dinominasikan oleh Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), yang meraih mayoritas dua pertiga dalam pemilu nasional pada 12 Februari lalu. Selain itu, terdapat tujuh perempuan lain yang terpilih langsung dalam parlemen yang masih didominasi laki-laki di negara mayoritas Muslim tersebut.

Sebagai perwakilan kelompok minoritas etnis yang hanya mencakup kurang dari satu persen dari total 175 juta penduduk Bangladesh—yang mayoritas merupakan etnis Bengali—kehadiran Minj membawa harapan baru, khususnya bagi komunitas Kristen dan masyarakat adat di wilayah utara.

Uskup Rajshahi, Gervas Rozario, menyatakan harapannya agar Minj dapat menyuarakan kepentingan umat Kristen di parlemen. “Sebagai perempuan Kristen dan masyarakat adat, ia mewakili dua kelompok minoritas sekaligus. Kami berharap ia dapat memperjuangkan hak asasi manusia, hak atas tanah, dan keamanan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Theophil Nokrek, seorang pekerja pembangunan Katolik dari komunitas Garo di Dhaka. Ia menyebut pengangkatan Minj sebagai momen yang membanggakan. “Ini pertama kalinya perempuan adat dari wilayah dataran rendah mencapai posisi ini,” katanya.

Presiden Asosiasi Kristen Bangladesh, Nirmol Rozario, menilai keterwakilan politik sangat penting bagi kelompok minoritas, termasuk sekitar 500.000 umat Kristen di Bangladesh. Menurutnya, tanpa partisipasi politik, sulit bagi kelompok minoritas untuk memastikan pembangunan yang inklusif. Ia juga mendorong peningkatan keterlibatan umat Kristen dalam sektor pemerintahan, administrasi, dan penegakan hukum.

Sementara itu, pendeta Gereja Bangladesh, Immanuel Mithu Mallick, menyebut penunjukan Minj sebagai perkembangan positif. “Ketika kita memiliki perwakilan sendiri di parlemen, isu-isu kita akan lebih diperhatikan,” ujarnya.

Direktur Caritas di Mymensingh, Rosey Rongma, menilai Minj dapat menjadi inspirasi bagi perempuan adat. Ia menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi perempuan adat, seperti konflik lahan, keterbatasan akses pendidikan dan layanan kesehatan, serta kerentanan terhadap kekerasan.

“Perempuan adat masih tertinggal jauh, dan perjuangan mereka jarang terdengar di parlemen,” kata Rongma.

Diketahui, Minj merupakan seorang ahli pembangunan yang telah berkiprah selama puluhan tahun di berbagai organisasi non-pemerintah nasional dan internasional. Ia pernah memegang posisi kepemimpinan di Caritas Bangladesh, CARE Bangladesh, BRAC Bangladesh, dan BRAC International.

Pengalamannya mencakup berbagai bidang, seperti pengentasan kemiskinan, pembangunan terpadu, ketahanan mata pencaharian, pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, serta hak-hak masyarakat adat di 14 negara, termasuk Bangladesh. Ia juga pernah menjabat sebagai ketua Koalisi Nasional Masyarakat Adat Bangladesh.

Sebelumnya, Bangladesh juga pernah memiliki anggota parlemen dari kalangan Kristen, di antaranya almarhum Promod Mankin dan putranya Jewel Areng yang berasal dari komunitas Garo. Selain itu, Gloria Jharna Sarkar dan penyanyi Anima Mukti Gomes pernah menjabat sebagai anggota parlemen dari kursi khusus perempuan.(UCA NEWS,04 Mei 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com