
Komsoskam.com|| BAUCAU, TIMOR-LESTE – Pemerintah Timor-Leste bersama dua badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Dana Anak-anak PBB (UNICEF), menggelar lokakarya untuk mengevaluasi perkembangan program bersama yang bertujuan mengatasi kerawanan pangan di negara tersebut.
Lokakarya bertajuk Mid-Term Program Reflection Workshop berlangsung selama dua hari, pada 3–4 Agustus, di Kota Baucau, kota terbesar kedua di Timor-Leste. Kegiatan ini menjadi ajang meninjau capaian program sekaligus menyusun langkah-langkah strategis untuk dua tahun terakhir pelaksanaannya.
Menurut FAO, program tersebut dirancang untuk mendorong transformasi sistem pangan Timor-Leste agar menjadi lebih berkelanjutan, inklusif, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan.
Program ini diluncurkan pada Juni 2025 dan akan berlangsung hingga Juni 2027. Pendanaannya berasal dari UN Joint Sustainable Development Goals (SDG) Fund, sebuah mekanisme pendanaan bersama PBB yang mendukung kebijakan terpadu dan pembiayaan strategis guna mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Program tersebut dinilai sangat penting mengingat Timor-Leste masih menghadapi tingkat kemiskinan dan kerawanan pangan yang tinggi. Berdasarkan data Program Pembangunan PBB (UNDP), sekitar 42 persen dari sekitar 1,43 juta penduduk Timor-Leste hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara itu, Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan sekitar 27 persen penduduk mengalami kerawanan pangan yang serius.
Menteri Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan Timor-Leste, Marcos da Cruz, yang hadir pada hari pertama lokakarya, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari jumlah laporan atau dokumen yang dihasilkan.
“Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya bukanlah banyaknya laporan yang kita buat, melainkan sejauh mana kita mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui rantai nilai pertanian yang lebih kuat, pendapatan yang lebih tinggi, sistem pangan yang lebih tangguh, serta terbukanya lebih banyak peluang bagi perempuan dan kaum muda,” ujarnya.
Koordinator Residen PBB di Timor-Leste, Funmi Balogun, menyebut program tersebut sebagai inisiatif yang memiliki nilai strategis bagi masa depan negara itu.
Menurut Balogun, program ini tidak boleh dipandang sebagai proyek biasa, melainkan sebagai pendekatan yang mampu mendorong transformasi sistem pangan nasional melalui penguatan tata kelola, peningkatan investasi, serta kerja sama berbagai pihak dalam mewujudkan visi pembangunan nasional.https://komsoskam.com/?s=pangan
Sementara itu, Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, mengatakan lokakarya tersebut menjadi kesempatan penting bagi seluruh mitra untuk menilai kemajuan program secara bersama-sama, merefleksikan pengalaman selama pelaksanaan, sekaligus memperkuat koordinasi pada sisa masa implementasi hingga 2027.
Program Transformasi Sistem Pangan Timor-Leste merupakan hasil kerja sama FAO dan UNICEF dengan Pemerintah Timor-Leste melalui dukungan Joint SDG Fund. Program ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sistem pangan yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan.
(UCA NEWS, 04 Agustus 2026)