
Keb 12:13.16-19; Rom 8:26-27; Mat 13:24-43 / Hari Minggu Biasa XVI
Kerajaan Surga seumpama penabur yang menaburkan benih yang baik. Malam hari musuh menaburkan benih lalang. Keduanya tumbuh bersama. Hamba tuan itu minta izin mencabut lalang agar gandum bisa tumbuh baik, tetapi tuan itu melarang. Sikap hamba itu menggambarkan kekurangsabaran. Sikap tuan itu melambangkan kesabaran dan kemurahan hati Tuhan.
Kitab Suci adalah buku suci perihal kesabaran Allah kepada umat-Nya. Walau para nabi terkadang berbicara perihal kemarahan Allah, tapi pemarah bukanlah sifat Allah. Ia kaya akan rahmat, kesetiaan dan dengan senang hati menarik kembali apa yang telah diancamkan- Nya kala umat kembali ke jalan yang benar. Pengampunan Allah jauh melampaui dosa-kesalahan manusia. Allah memberi peluang sampai batas yang paling jauh. Ia tak pernah menutup pintu pertobatan. Ia sabar tapi juga adil. Ia tidak toleran dengan kejahatan. Ia memberi waktu yang cukup hingga saat panen.
Yesus datang untuk mewujudkan kesabaran ilahi. Dia tak pertama-tama bertindak selaku hakim yang memisahkan yang jahat dengan yang baik, tapi sebagai gembala yang baik. Yesus memberi waktu dan menuntun pendosa menelusuri jalan pertobatan. Tidak satu dosa pun bisa memutuskan hubungan dengan Allah. Semua diundang masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Setelah 12.000 percobaan untuk mengembangkan bola lampu listrik, Thomas A. Edison menyerahkan bola lampu yang sudah rampung pada asistennya. Orang itu membawanya dengan sangat hati-hati menaiki tangga langkah demi langkah. Pada langkah terakhir kakinya tersandung, bola lampu jatuh dan pecah. Seluruh tim harus bekerja 24 jam lagi untuk membuat bola lampu yang baru. Setelah selesai, Edison memandang sekeliling dan sekali lagi menyerahkan bola lampu itu kepada orang yang sama. Lebih dari sekedar sebuah bola lampu, Edison mempertaruhkan kepercayaan dan kesabaran kepada asistennya.,
Benih gandum dan ilalang hidup dalam hati kita. Pemisahan akan terjadi di saat kematian. Selagi hidup, peluang untuk berubah tetap ada. Kematangan hiduprohaniseringmelewatijalan berliku yang menuntut pertobatan terus-menerus. Allah menerapkan cinta kasih sebagai hukum tertinggi. Kita mesti meniru jalan Allah. Dalam menyikapi kesalahan dan kekurangan sesama, kita diajak belajar dari Tuhan, yang menampakkan kuasa-Nya dalam kesabaran, pengampunan, kelemah lembutan dan belas kasih.
Menyadari kelemahan dan kerapuhan kita, sebenarnya kita tidak pantas mengemis belas kasih Tuhan. Tapi Allah itu panjang sabar. Ia memberi kita peluang untuk berubah. Anehnya, kesalahan dan kesilapan kecil orang lain sering membuat kita marah hebat. Kita mengeluhkan orang lain, tapi maklum dan memaafkandirisendiri.Kitaperlu makin rendah hati dan sadar bahwa kita bisa menjadi skandal. Orang benar dan bijak ialah mereka yang sabar dan menyayangi manusia, tanpa dipengaruhi oleh baik atau buruknya perilakunya. Dalam Ekaristi, kita menyambut Yesus, sakramen pengampunan dan belas kasih Allah bagi umat manusia. Semoga kita mampu mengikuti Dia di jalan belas kasihan, kesabaran dan pengampunan. Amin.
RP Frans S. Situmorang OFMCap (Dosen Fakultas Filsafat UNIKA St. Thomas Medan)