
Peringatan Pemberkatan Basilika St. Maria Maggiore
Yer 31:1–7; Mzm: Yeremia 31:10,11-12ab,13; Mat 15:21–28
Yesus Menyingkapkan Kualitas Iman: Maria, Bunda Gereja, Teladan Iman yang Dimurnikan
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Injil hari ini mengisahkan seorang perempuan Kanaan yang datang kepada Yesus dengan hati seorang ibu yang terluka. Ia memohon agar putrinya dibebaskan dari kuasa jahat. Namun, yang pertama kali ia terima bukanlah jawaban, melainkan keheningan. Yesus seolah-olah tidak menghiraukan permohonannya. Bahkan ketika Yesus berbicara, kata-kata-Nya terdengar seperti penolakan. Sekilas kita mungkin bertanya, mengapa Yesus tampak begitu keras terhadap seorang ibu yang sedang menderita?
Sesungguhnya, Yesus bukan sedang menolak perempuan itu. Ia sedang menyingkapkan kualitas imannya. Yesus mengetahui bahwa di balik permohonan itu terdapat iman yang besar. Keheningan dan kata-kata Yesus bukanlah untuk mengusir perempuan itu, melainkan untuk memurnikan dan menampakkan imannya di hadapan para murid. Perempuan itu tidak tersinggung, tidak mundur, dan tidak kehilangan harapan. Ia justru semakin merendahkan diri dan berkata, “Benar Tuhan, tetapi anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Kerendahan hati, ketekunan, dan kepercayaannya itulah yang membuat Yesus akhirnya berseru, “Hai ibu, besar imanmu!” Allah sering memakai keheningan-Nya bukan untuk menjauhkan kita, tetapi untuk memperdalam iman kita.
Hari ini Gereja merayakan Peringatan Pemberkatan Basilika St. Maria Maggiore, basilika pertama di Barat yang dipersembahkan kepada St. Perawan Maria setelah Konsili Efesus (431) menegaskan Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos). Peringatan ini mengingatkan kita bahwa kualitas iman seperti yang dimiliki perempuan Kanaan mencapai kepenuhannya dalam diri Maria. Ketika Malaikat Gabriel menyampaikan kehendak Allah, Maria belum mengetahui bagaimana semuanya akan terjadi. Namun dengan penuh iman ia menjawab, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Maria percaya bukan karena semuanya jelas, tetapi karena ia mengenal Allah yang setia.
Iman Maria kemudian terus dimurnikan sepanjang hidupnya. Ia mengalami penolakan di Betlehem, mengungsi ke Mesir, kehilangan Yesus di Bait Allah, hingga berdiri di bawah salib ketika Putranya wafat. Dalam semua pengalaman itu, Allah sering tampak diam. Namun Maria tidak pernah kehilangan kepercayaannya. Ia menyimpan segala perkara dalam hatinya dan merenungkannya. Karena itu, Maria menjadi teladan Gereja: iman yang tidak mencari jalan termudah, tetapi tetap setia berjalan bersama Allah, sekalipun jalan itu dipenuhi misteri dan salib.
Bacaan pertama dari Nabi Yeremia semakin meneguhkan pengharapan kita. Tuhan bersabda bahwa Ia akan mengumpulkan kembali umat-Nya dan memimpin mereka pulang dengan sukacita (Yer. 31:1–7). Di balik masa pembuangan dan penderitaan, kasih Allah tetap bekerja. Demikian pula dalam hidup kita. Ketika Tuhan tampak diam, sesungguhnya Ia sedang menyiapkan pemulihan. Ketika doa belum dikabulkan, bukan berarti kasih-Nya berhenti. Allah tetap setia pada janji-Nya, sebagaimana Ia setia kepada Israel dan sebagaimana Ia setia mendampingi Maria.
Saudara-saudari, perempuan Kanaan dan Bunda Maria mengajarkan kepada kita bahwa iman sejati bukanlah iman yang hanya bertahan ketika doa segera dikabulkan. Iman yang dewasa adalah iman yang tetap percaya ketika jalan Tuhan belum dapat dipahami. Maka, pada peringatan Basilika Santa Maria Maggiore ini, marilah kita memohon agar Bunda Maria mendampingi perjalanan iman kita. Semoga kita memiliki kerendahan hati perempuan Kanaan, kesetiaan Maria, dan kepercayaan yang teguh kepada Kristus. Ketika Tuhan tampak diam, janganlah kita berhenti berharap. Sebaliknya, marilah kita terus berkata seperti Maria, “Jadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Dan semoga pada akhirnya Tuhan pun berkenan berkata kepada kita, “Besarlah imanmu.”
Amin.