Yesus Dipersembahkan Di Kenisah

695 total views, 11 views today

Penulis: RP. Surip Stanislaus OFM Cap

(Dosen Kitab Suci di STFT St. Yohanes Pematangsiantar)

 

Thn.971-931 SM Salomo meraja dan memerintah kerajaan Israel. Thn.960 SM ia mendirikan sebuah Kenisah berukuran 60 hasta (27 m) x 20 hasta (9 m) dalam dua bagian, yakni ruang dalam berbentuk kubus (9×9 m) sebagai Tempat Mahakudus dan ruang luar (18×9 m) sebagai Tempat Kudus. Lantai dan dinding bangunan itu terbuat dari batu bertutup papan kayu aras yang dilapisi emas. Thn.587 SM Kenisah itu dihancurkan oleh pasukan Nebukadnezar bersamaan dengan kota Yerusalem dan orang-orangnya dibuang ke Babel. Thn.539 SM Raja Koresh dari Persia menaklukkan Babel dan tahun berikutnya orang-orang buangan itu dipulangkan ke Yerusalem.

Di bawah pimpinan Zerubabel, thn.537 SM orang-orang Yahudi itu membangun kembali Kenisah kedua di atas reruntuhan Kenisah Salomo, tetapi pembangunan itu dihentikan karena ulah orang-orang Samaria. Baru thn.520 SM pembangunan Kenisah dilanjutkan lagi dan selesai pada thn.515 SM. Namun thn.167 SM Raja Antiokhus IV Epifanes menajiskan tempat suci itu dengan mendirikan mezbah-mezbah kafir dan mengadakan persembahan hewan kurban haram. Tindakan itu menimbulkan pemberontakan keluarga Matatias pimpinan Yudas Makabe yang berhasil menyucikan dan mentahbiskan kembali kenisah itu dalam perayaan Hanukkah (Hari Raya Terang) thn.165 SM.

Sekitar thn.19 SM kenisah itu dipugar dan direnovasi demi motif politik oleh Herodes Agung untuk mengambil hati orang-orang Yahudi. Karena hukum dan peraturan Ibrani menyatakan bahwa pembangunan tempat-tempat suci peribadatan merupakan previlegi kaum imam, maka pembangunan kenisah itupun dilakukan oleh 1.000 imam dengan bantuan 10.000 budak dan 1.000 kereta. Pembangunan itu memakan waktu begitu lama dan baru selesai pada thn.64 M. Kenisah itu memiliki pelataran yang luas dan di sepanjang temboknya terdapat serambi-serambi dengan banyak tiang. Di tengah pelataran berdiri sebuah bangunan yang dikelilingi pagar tembok dengan sembilan pintu gerbang yang dapat dicapai melalui lantai bertangga. Di pagar tembok itu terdapat tulisan dalam bahasa Yunani yang melarang orang asing, non-Yahudi, memasuki pintu gerbang itu dengan terjemahannya sbb.: “Orang asing dilarang keras melewati tembok batas atau memasuki pintu gerbang bangunan ini. Barangsiapa yang kedapatan melakukan pelanggaran, bertanggungjawab atas hukuman mati yang akan dikenakan kepadanya”. Sebelah timur bagian dalam bangunan itu adalah tempat peribadatan khusus untuk wanita. Sedangkan di tengah pelataran berdiri mezbah atau altar berbentuk terompet, tempat diberlangsungkannya upacara persembahan kurban. Di pelataran tertinggi dari pusat bangunan itulah terdapat Ruang Kudus yang dihubungkan dengan palataran para imam oleh dua belas anak tangga. Di dalam Ruang Kudus itu terdapat satu pintu gerbang yang selalu tertutup kain korden, yang memisahkannya dengan Ruang Mahakudus. Di Ruang Mahakudus itulah imam agung dan hanya dia saja boleh masuk, satu tahun sekali, yaitu pada perayaan hari Penghapusan Dosa.

Kenisah Yerusalem itulah tempat Yesus dipersembahkan yang tahun ini dirayakan pestanya tgl.2 Febr. 2020. Kisahnya dilaporkan dalam Luk 2:21-40. Hari ke-40 adalah hari pentahiran bagi seorang ibu yang habis melahirkan. Upacara penyucian itu wajib demi menghapus kenajisan, sehingga ia dapat ikut kembali dalam peribadatan. Untuk upacara itu harus dipersembahkan kurban bakaran seekor domba dan seekor burung tekukur/merpati bagi yang kaya atau sepasang burung tekukur/merpati bagi yang miskin. Maria dan Yusuf pergi ke Kenisah atau Bait Allah di Yerusalem untuk upacara pentahiran dan mempersembahkan Yesus kepada Tuhan.

Baca juga  Menyingkap Kisah Natal Secara Teologis dari Kitab Suci

Simeon menyambut Anak itu, membopong-Nya dan memuji Tuhan, karena karya penyelamatan Allah yang telah dinyatakan melalui Yesus. Kakek tua Simeon yang menatang Kanak-kanak Yesus adalah gambaran dari dua generasi yang dipertemukan. Itu pun berarti, bahwa orang tua itu menatang masa depan dan kelanjutan hidupnya. Bahkan Simeon yakin, bahwa apa yang selama ini diharapkannya sekarang telah berada di tangannya. Maka, ia merasa segalanya telah terpenuhi dan tiada keinginanan lain dalam hidupnya: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera… . Alasannya: “Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Berkat imannya dan terang Roh Kudus, dalam diri Kanak-kanak Yesus itu Simeon melihat keselamatan yang dijanjikan Allah. Melihat Kanak-kanak Yesus, Simeon mengalami bahwa terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain itu sedang diwahyukan. Memang kemuliaan bangsa Israel dan terang bagi bangsa-bangsa itu belum terjadi saat itu, tetapi dalam diri Kanak-kanak Yesus itu Simeon telah melihat keselamatan itu. Keselamatan yang datang dari Allah dan membawa damai itu diberikan kepada umat pilihan-Nya. Lewat bangsa terpilih itulah keselamatan akan disalurkan kepada yang lain, sehingga mereka akan menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain. Keselamatan diberikan kepada bangsa pilihan dan melalui mereka disampaikan kepada semua bangsa.

Karya penyelamatan itulah yang dinubuatkan Simeon akan menimbulkan perbantahan dan perpecahan di antara orang-orang Yahudi: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang. Maka, mereka yang pro pada Yesus akan mendapat keselamatan dan yang kontra akan mengalami kejatuhan. Semua itu akan mendatangkan penderitaan untuk Maria. Karena itu Simeon mengatakan kepada Maria: “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri. Artinya, Maria akan ikut menderita menyaksikan perpecahan bangsa Israel itu. Dengan demikian nyatalah, bahwa iman Maria itu bukan tanpa pengorbanan dan penderitaan.

Hana pun berada di Kenisah pada waktu itu. Ia seorang janda yang sudah berumur 84 tahun. Di daerah Palestina, seorang janda dikenal sebagai kelas duanya dari kelas dua. Sebab kaum laki-laki adalah kelas pertama dan kaum wanita kelas duanya. Dari kelas dua itu wanita yang bersuami sebagai kelas satunya dan janda menjadi kelas duanya. Alhasil, seorang janda memang tak terhitung dalam masyarakat dan sangat menderita. Namun bagi Hana, kesengsaraan itu tidak menjadikannya sedih, marah dan berontak kepada Allah, tetapi malah sebaliknya membuatnya berserah sepenuh hati kepada Allah: “Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.” Karena itu ia pun bertemu dengan Kanak-kanak Yesus yang dipersembahkan ke Bait Allah oleh Maria dan Yusuf. Melihat Kanak-kanak Yesus itu ia mengucap syukur kepada Allah dan sebagai seorang nabiah ia berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Artinya, Hana melihat dalam diri Kanak-kanak Yesus itu Sang Pembebas yang dinanti-nantikan untuk membebaskan bangsa Yahudi. Ingat, saat itu wilayah Yehuda sedang dijajah oleh pemerintahan Romawi dan orang-orang Yahudi menantikan Mesias dari keturunan Daud, yang akan membebaskan mereka dari tirani penjajahan.

Baca juga  Stasi St. Paulus Hariantimur: “Rahmat Tuhan Yang Membangun Gereja dan Umat”

Bersamaan dengan penghancuran kota Yerusalem thn.70 M, Kenisah itu dihancurkan oleh pasukan Romawi pimpinan Titus. Sebagian kecil tembok sebelah baratnya sengaja ditinggalkan sebagai memory bagi generasi berikut akan kehebatan tentara Romawi. Tembok itu sekarang dikenal dengan Tembok Ratapan, sebab di tempat itulah orang-orang Yahudi meratapi hancurnya Kenisah Yerusalem. Namun thn.1948-1967 kebiasaan itu dilarang oleh orang-orang Yordania yang mengambil alih daerah itu di bawah kekuasaannya. Baru setelah Israel berhasil mengusir orang-orang Yordania dalam Perang Enam Hari thn.1967, Tembok Ratapan menjadi tempat luapan kegembiraan mereka. Di depan tembok itu dibangun sebuah pelataran luas bagai Sinagoga di alam terbuka, tempat mereka beribadat. Dalam bahasa Ibrani tembok itu disebut Kotel Hama’aravi (Tembok Bagian Barat).

Kini tembok itu tersambung dengan tembok yang mengelilingi Mesjid Omar dan El-Aqsa. Mesjid El-Aqsa, yang dalam bahasa Arab berarti “yang jauh” dari Tanah Suci Mekah, menurut tradisi Islam dikenal sebagai tempat perhentian terakhir Muhammad saat perjalanannya di malam hari ke Yerusalem dengan menunggang mulo putih bersayap. Mulo adalah sejenis hewan keturunan keledai dengan kuda. Mesjid El-Aqsa dalam bahasa Ibrani disebut Midrash Shlomo (Sekolah Salomo), sebab tempat itu dahulu berdiri istana Raja Salomo. Menurut sebuah tradisi Kristen kuno, mesjid itu dibangun di atas reruntuhan Basilika St.Maria bercorak Bizantium abad ke-6. Semula mesjid dibangun dari kayu oleh Kalifah Ommayyade Abdel el-Malek Ibn Marwan thn.693, tetapi antara thn.709-715 dipugar oleh anaknya, Kalifah Ommayyade al-Walid Ibn Abel. Alhasil, El-Aqsa merupakan mesjid terbesar di Palestina yang berukuran 80×55 m dengan 53 pilar marmer dari Carrara, hadiah dari Mussolini, penguasa besar Italia.

Sekitar 200 m dari Mesjid El-Aqsa terdapat Mesjid Omar. Dalam bahasa Arab mesjid itu disebut Qubbat el-Sakhra, yang dalam bahasa Inggrisnya The Dome on the Rock (Kubah di atas Batu Wadas), karena menurut tradisi Ibrani dan Kristen, mesjid itu didirikan persis di atas batu wadas, tempat dahulu Abraham mengurbankan Ishak, yang kemudian hari menjadi altar persembahan Kenisah. Sedangkan menurut tradisi Islam, di tempat itulah dahulu Muhammad naik ke surga setelah perjalanannya di malam hari ke Yerusalem. Mesjid itu diberi nama Mesjid Omar karena dibangun oleh Kalifah Omar thn.636, sewaktu orang-orang Arab merebut Yerusalem. Lalu mesjid itu dipugar oleh Kalifah Ommayyade Abdel el-Malek antara thn.685-691.

Mesjid hasil karya para arsitek Kristen yang didatangkan oleh Kalifah Abdel el-Malek itu 100% bercorak Bizantium dan hanya ornamen-ornamennya saja bercirikhaskan Islam. Mesjid berbentuk oktagonal dengan setiap sisinya berukuran 20,95 m dan tinggi 9,50 m. Sedangkan kubahnya yang berdiameter 20,20 m dan tinggi 20,48 m kini sangat indah berkilauan karena berlapiskan emas, hadiah Sultan Hussein, raja Yordania. Di dalam mesjid itulah terdapat batu wadas berukuran panjang 17,70 m, lebar 13,50 m, dan tinggi 3 m, yang di satu sisinya membentuk sebuah gua dengan 11 anak tangga. Dalam bahasa Arab gua itu disebut Bir el-Arwah (Lubang Tempat Jiwa-jiwa Orang yang Meninggal), karena menurut tradisi Islam di tempat itulah jiwa-jiwa orang yang telah meninggal berkumpul dua kali seminggu untuk bersatu dalam doa.

Facebook Comments

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply