TALENTA: KARUNIA DAN TANGGUNG JAWAB

6,485 total views, 1 views today

RP. Hubertus OSC.

Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa semua manusia mendapat KARUNIA DAN KEBAIKAN dari Tuhan. Karunia yang dimiliki itu, UNTUK KEBAIKAN DAN MERUPAKAN SUMBANGAN KHAS dari pribadi yang bersangkutan. Sisi lain sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang Tuhan percayakan kepadanya, UNTUK KEBAIKAN BERSAMA. Bekerja dengan tangannya, kata Kitab Amsal. “Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengannya. Tangannya ditaruh pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal.” Kerja dengan tangannya, mendatangkan kebanggaan dan memberikan sukacita kepada yang lain, secara khusus suaminya. “Isteri yang cakap siapakah yang mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya. Suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.” Dalam konteks kehidupan yang lebih luas, bekerja dengan tangannya, kita menterjemahkan dalam prinsip-prinsip seperti: KEMANDIRIAN, BERDIKARI.

Talenta atau kemampuan dasar yang ada pada tiap orang, kalau dikembangkan secara maksimal sedang menunjukan kematangan dari pribadi yang bersangkutan. Dengan kata lain tidak ada kegelisahan, karena hidupnya selalu diisi dengan hal-hal yang baik. Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Tesalonika menggambarkan sebagai; SEORANG PRIBADI YANG TENANG, DAN SUKACITA MENYAMBUT DATANGNYA HARI TUHAN. “Tetapi kamu saudara-saudara, kamu tidak hidup dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang.” Dalam arti ia sudah siap untuk mempertanggungjawabkan kepercayaan yang dilimpahkan Tuhan kepadanya.

Tuhan tidak mempersoalkan berapa banyak kemampuan, bakat, potensi dasar yang anda miliki dan sejauhmana pengembangannya. Bagi Tuhan yang penting adalah: UPAYA MAKSIMAL DARI SETIAP PRIBADI. “Say no to mentalitas minimalis”. Tanggapan Tuhan sama bagi setiap orang yang mempertanggungjawabkan karunia Tuhan. “Baik sekali perbuatanmu hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.” UPAYA MAKSIMAL YANG ANDA TUNJUKKAN MERUPAKAN TOLOK UKUR, bahwa layak melangkah ke tahap berikut yang lebih besar dan berat. Apapun alasannya, Tuhan tidak membenarkan orang tidak berupaya maksimal. Orang macam ini dikatakan, jahat dan malas kata Tuhan. “Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan dalam tanah: ini terimalah kepunyaan tuan. Maka jawab tuannya itu: hai kamu hamba yang jahat dan malas…”

Sebagai bahan permenungan, mari kita berefleksi dari sepenggal Kisah Inspiratif ini:  Waldemans dan Amelia tergolong keluarga “Yang berada.” Mereka mampu membeli apa saja yang berkaitan dengan kebutuhan hidup; bahkan bisa berfoya-foya. Dalam kesibukan sehari-hari, mengurus beberapa perusahannya, Waldemans dan Amelia memutuskan agar keluarga mereka, MENGKONSUMSI SAYUR DAN BUAH-BUAHAN HASIL KEBUN OLAHAN WALDEMANS DAN MENIKMATI MAKANAN HASIL MASAKAN AMELIA DI RUMAH MEREKA. Suatu saat: “Waldemans mengapa kau dan istrimu masih menyibukan diri dengan hal-hal tambahan seperti itu. Kamu bisa memperkerjakan beberapa UKL (Urusan kesejahteraan Keluarga) mengurus kebun, masak dan lain-lain. Kamu toh orang kaya,” komentar teman-temannya. “Oh ya bakat dan kemampuanku bertani merupakan hasil didikan dari keluargaku. Ayahku seorang petani. Ia seorang pekerja keras dan sukses mengurus tanah-tanah warisan keluarganya dan kemampuan Amelia mengolah makanan merupakan hasil belajar dari keluarganya. Ibunya seorang Chef terkenal di kota itu. Kami bersepakat mendidik anak-anak, dengan memaksimalkan potensi dasar yang sudah ada dalam keluarga, apalagi hal ini mendatangkan sukacita, kegembiraan dan kebahagiaan bersama.” tanggap Waldemans. “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan.” (Hari Minggu Biasa yang ke 33-2020)   

Facebook Comments
Baca juga  BACAAN INJIL, KAMIS 17 SEPTEMBER 2020

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply