Tantangan Mengajak Orang Muda Ke Gereja

716 total views, 1 views today

” Masalah moral

Masalah akhlak

Biar kami cari sendiri

Urus saja moralmu

Urus saja akhlakmu

Peraturan yang sehat, yang kami mau “

Penggalan lagu Iwan Fals itu dinyanyikan adikku setelah kuajak ia ke gereja. Kejadiannya sekitar tujuh tahun yang lalu, tetapi masih melekat jelas di otakku. Kenapa? Mungkin karena sejak ia menyanyikan itu untuk menanggapi ajakanku, aku berpikir keras untuk mencari jawaban yang tepat untuk tindakanku yang sering mengajak orang muda agar aktif di Gereja.

Bagiku itu sebuah tantangan, dan semakin seru karena di suatu waktu kita melakukan dua hal sekaligus : meyakinkan diri sekaligus mengajak orang lain.

Tidaklah mudah untuk meyakinkan diri sendiri atas apa yang akan kita lakukan. Mengenal diri sendiri saja, itu adalah pekerjaan sulit. Apalagi bagi seorang anak muda yang sedang mencari jati diri, banyak godaan yang terkadang malah membuat jalan menuju jati diri menjadi lebih rumit. Mengajak orang lain lebih sulit lagi. Makian, penghakiman, disisihkan adalah beberapa contoh yang kita terima sebagai imbalan tindakan kita. Bila ajakan dibalas dengan nyanyian, masih lebih baik. Bila dengan kalimat seperti ini :

“Halah…sok suci!”

“Urus diri sendiri dulu, baru urus lain!”

“Kayak kau aja yang betul yang beragama itu!”

Pernah mengalami hal yang senada? Kalau pernah, Jangan menyerah! Pengalaman akhirnya membawaku pada sebuah jawaban. Setiap kali dihadapkan dengan keadaan seperti itu, jawaban yang kerap membuat suasana tak menjadi lebih rumit adalah justru karena aku masih berdosa; justru karena aku merasa belum berbuat apa-apa, dan mengajak yang lain, siapa tahu suatu perbuatan yang berkenan padaNya.

Jawaban itu tak menunjukkan kita sebagai ‘orang suci’ atau orang yang lebih paham tentang agama. Ada ‘kerendahan hati’ dalam kalimat itu. Namun, jika jawaban itu masih tetap mendapat perlawanan, ada baiknya ‘berhenti’ sejenak dulu. Mungkin saja ada ‘tanah’ yang lebih baik yang perlu ‘digarap’, seraya mencari jawaban lain yang lebih tepat. Aku yakin setiap orang bisa menemukan cara yang lebih baik untuk menghadapi kondisi yang dialaminya.

Yang terpenting, kita harus yakin bahwa mengajak orang muda untuk aktif di gereja adalah sesuatu yang baik. Bila orang lain belum tertarik, mungkin dampak positifnya mengalir pada diri kita sendiri. Salah satunya, kita terlatih untuk mengajak orang lain.

Satu hal yang kusyukuri dari tindakan ‘mengajak’ ini, aku mau tak mau harus mempelajari lebih banyak tentang gereja, bertanya lebih sering ke beberapa Pastor, dan diskusi lebih banyak dengan orang-orang yang lebih dulu aktif untuk mempersiapkan diri. Dari semua kegiatan itu, aku mendapat ilmu dan pengalaman yang berguna di kemudian hari. Setidaknya, untuk selalu menyadari bahwa yang kita ketahui belum ada apa-apanya dibanding ilmu yang terbentang luas.

Berbagi pengalaman ini juga akan mendapat tanggapan miring dari sebagian pembaca. Bagiku itu adalah hal yang lumrah. Pilihan terletak pada kita : menyerah atau tetap berusaha. Bila menyerah, pengalaman itu hanya tersimpan dalam kenangan dan akhirnya terlupakan; bila tetap berusaha pengalaman itu akan menjadi inspirasi dan bisa saja menguatkan orang lain. Mikhael Natal Naibaho

Jansudin Saragih

Carpe diem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *