Sikap Bukan untuk Diri Sendiri

312 total views, 1 views today

Sikap kita sangat mempengaruhi orang lain, salah satu contohnya sikap egois. Egois adalah sifat di mana seseorang lebih mementingkan diri sendiri dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Orang egois biasanya tidak bisa memahami pikiran orang, perasaan orang dan selalu menuntut orang untuk mengikuti pendapatnya.

Perkembangan suatu negara sangat ditentukan oleh sifat warga. Terus bagaimana dengan Indonesia? Indonesia sendiri bisa dibilang salah satu negara yang warganya memiliki sifat egois tinggi. Bisa dilihat dari warga yang masih suka membuang sampah sembarangan, menerobos lampu merah, mendirikan bangunan tidak pada tempatnya, korupsi, dll.

Membahas tentang warga yang tidak membuang sampah pada tempatnya, terutama disungai atau di lahan kosong itu merupakan salah satu cerminan sikap egois. Membuang sampah di sembarang tempat adalah cara yang praktis dan tidak merepotkan. Namun, jangan pernah berpikir bahwa membuang sampah sedikit saja tidak berpengaruh. Jika banyak orang berpikiran seperti itu, maka sampah yang tadinya dianggap kecil, sedikit dan sepele bisa menjadi banyak dan menimbulkan masalah yang cukup besar seperti banjir, bahkan dapat menimbulkan berbagai penyakit karena lingkungan yang kotor.

Lihat juga karus kuruptor-koruptor di Indonesia tidak ada habis-habisnya, itu semua berawal dari sikap warga negaranya memiliki sifat egois. Sikap yang didasari keinginan yang praktis, tidak merepotkan diri sendiri, memuaskan diri sendiri, entah disadari atau tidak dapat merugikan orang lain.

Baca juga  Paus Fransiskus: Orang Kristen Hendaknya Terbuka Atas Kemurahan Hati Tuhan

Kasus yang benar-benar nyata saat ini dan mencerminkan Indonesia egois adalah bawah, di tengah wabah virus Corona (Covid-19), masih banyak yang tega memborong kebutuhan sehari-hari dengan membabi buta sebab mereka mampu. Tanpa memikirkan ada yang tidak bisa memborong seperti mereka yang mampu. Dan ada yang memborong APD seperti masker, hand sanitizer, sarung tangan tanpa memberi empati kepada mereka yang lebih membutuhkannya seperti pihak medis. Dan ada yang masih juga pergi melakukan perjalanan ke luar negeri dan tidak mempuanya inisiatif untuk mengisolasi diri sendiri. Bahkan langsung berkeliaran tanpa memastikan diri sendiri tidak terpapar Covid -19. Dan yang paling parah, tidak jujur. Padahal sudah banyak berbagai himbauan terkait penularan virus tersebut.

Seharusnya sebagai anak-anak Allah, kita sadar bahwa hidup kita, bukan hanya untuk kepentingan kita sendiri. Di dalam Galatia 2:20 dikatakan: ”Namun aku hidup, bukan lagi untuk aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman  dama Anak allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Selagi belum terlambat, mari belajar untuk tidak mementingkan diri kita sendiri. Bacalah Alkitab untuk menolong kita sehari-hari. Setiap keputusan yang kita ambil hari ini akan sangat mempengaruhi esok hari.

(Eva Susanti Barus)

Facebook Comments

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply