Menyadari Kehadiran Kristus, Tanda Pertobatan

 7,329 total views,  5 views today

RENUNGAN KATOLIK HARI INI, Rabu 4 Maret 2020

Santo Kasimirus, Pengaku Iman
Yun. 3:1-10; Mzm. 51:3-4,12-13,18-19; Luk. 11:29-32.
Kel. 10:21-11:10.
Warna Liturgi Ungu

=====

Yesus menyebut nama Yunus saat dituntut untuk memberi tanda. Siapa dia ? Yang pasti, dialah sosok yang sempat tidak setia akan tugas perutusannya. Manakala diutus ke Niniwe, dia hendak melarikan diri, salah satu alasan bisa jadi minder, merasa tidak mampu melaksanakan tugas. Kota Niniwe adalah kota yang besar dan sekaligus menjadi musuh bangsanya. Maka pertanyaannya, siapa yang akan percaya kepadanya saat diutus untuk mewartakan pertobatan ?

Namun peristiwa tenggelam di laut dan menjadikan dirinya berada dalam perut ikan selama tiga hari, menjadi awal pertobatannya. Ia pergi ke Niniwe dan berseru kepada bangsa itu untuk bertobat. Seruannya didengar rakyat Niniwe dan juga rajanya. Mereka sadar sebagai sosok yang percaya kepada Allah, namun juga sadar telah melakukan perbuatan dosa. Mereka semua mau bertobat, yang ditandai dengan berpuasa, bahkan ternakpun ikut berpuasa.

Kiranya menarik pula, bila seseorang menyadari dosa-dosanya. Yang bersangkutan tahu dan sadar, bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah perlawanan terhadap ajaran dan cinta kasih Allah.

Namun pada saat tertentu, mereka juga sadar bahwa harus berbalik setia dan mencintai Allah. Manusia tidak perlu berpikir sulit untuk menjalankan tugas perutusan dari Allah; yang terbaik dari diri manusia dapat menjadi persembahan yang layak bagi Tuhan.

Tidak harus ada “tanda-tanda” istimewa yang harus diberikan kepada manusia untuk melakukan kebaikan; karena sudah ada tanda-tanda di sekitar hidup manusia untuk melakukan kebaikan. Misal tanda lalu lintas; tanda ini diberikan untuk kelancaran dan keselamatan para pengendara dan masyarakat lainnya. Namun banyak pula yang melanggarnya. Pelanggaran akan aturan inilah yang menyebabkan kusutnya lalu lintas, kecelakaan dan bahkan kematian.

Kehadiran Yunus di Kota Niniwe, hendak mengungkapkan harapan Allah akan adanya perubahan hidup semua orang, yang tidak mengenal status sosialnya. Semuanya diajak untuk berubah dari hidup yang jahat kepada kebaikan. Nubuat Yunus juga mengingatkan dosa sosial yang bisa jadi dilakukan manusia secara bersama-sama. Dosa yang tidak hanya dipikirkan dan dilakukan secara pribadi, melainkan dengan “gotong royong”, misalnya mencontek bersama, korupsi berjemaah, dan sebagainya.

Maka, tatkala Yesus dituntut untuk memberi tanda, maka yang Dia berikan adalah tanda nabi Yunus : pertobatan manusia. Maknanya tidak lain perubahan hidup baik pribadi maupun bersama, dari hidup yang jahat berubah hidup yang baik. Pertobatan inilah yang akhirnya juga membawa keselamatan kekal bersama.

Pertanyaannya adalah apa yang membuat aku susah berubah; dan pertobatan apa yang hendak kuwujudkan teristimewa pada masa pra paskah ini ?

(Pastor Antonius Eko Susanto OSC / aesosc)

Facebook Comments
Baca juga  MELIHAT DAN PERCAYA | Kotbah 12 April 2020

Jansudin Saragih

REDAKTUR ||"Carpe diem" || Youtube : 2share4life

Leave a Reply