Sr. Seraphine: Menulis Cerpen Dengan Tangan yang Tak Patah

231 total views, 1 views today

Komsoskam.com – Medan, “Cerpen ‘Bangku Kosong’ yang dimuat di majalah Menjemaat adalah karya fiksi pertama saya. Saya sangat bahagia, bisa dimuat,” tutur Sr. Maria Seraphine Munthe KYM dalam satu kesempatan bincang dengan Komsoskam.com, Kamis (24 Oktober 2019).

Dia mengaku, belum pernah belajar keahlian literasi tersebut dalam pelatihan khusus. “Saya menyadari talenta menulis fiksi, saat guru menyuruh kami meresensi sebuah novel,” kenang alumni SMA Negeri 1 Tiga Baru, Sumbul.

Usai membuat resensi, Sr. Seraphine tergugah untuk menuliskan satu kisah percintaan. “Saya kemudian beri ke beberapa teman untuk dibaca. Dan mereka memuji. Wah, saya pun kembali tergerak menulis dengan tangan satu kisah lagi di buku catatan yang sama,” ujarnya, seraya menambahkan semakin banyak yang tertarik membaca cerita di buku tersebut. Hingga tidak pernah lagi kembali pada empunya semula.

Biarawati asal Paroki St. Dionysius Sumbul mengaku, dirinya mendapat ilham menulis cerpen lagi tatkala dimotivasi saudari satu kongregasi. “Sr. Laura Purba KYM mendorong saya dan sejumlah teman (saat itu) di komunitas Panti Asuhan milik KYM di jalan Sunggal, Medan. Dia mengatakan ada banyak manfaat yang bisa diperoleh jika rajin mengasah keahlian menulis,” katanya, sembari mengenang masa pemulihan patah tulang tangan kanan di komunitas tersebut.

“Saya sempat berkilah, tidak tahu mau menulis apa. Namun Sr. Laura memberi masukan agar saya menulis pengalaman pribadi yang menarik. Itu gagasan yang baik. Dan, kemudian saya menuliskan pengalaman masa pemulihan pasca kecelakaan beberapa waktu sebelumnya.”

Karena kondisi tangan kanan tak memungkinkan, Sr. Seraphine berjuang menuliskan cerpen ‘Bangku Kosong’ dengan tangan kiri. “Saat penulisan naskah awal rampung, saya langsung beri ke Sr. Laura. Dia memberi sejumlah masukan, dan meyakinkan saya agar karya tersebut dimuat ke media Menjemaat. Dan benar, akhirnya Redaksi menilainya layak muat.”

Di sela peran sebagai pengasuh di Panti Asuhan Putri Sta. Lucy Filipini – Tanjung Selamat, Sr. Seraphine mengaku, dirinya butuh lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan menulisnya. “Semoga kelak saya bisa menuliskan buku karya sendiri,” ujar biarawati yang tengah menempuh pendidikan Psikologi di Universitas Medan Area (UMA).

(Eva Susanti Barus)

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *