Seoul Luncurkan “Barbed Wire Cross Project” Jelang World Youth Day 2027

Uskup Agung Seoul, Mgr. Peter Chung Soon-Taick (kiri) dan Mgr. Paul Lee mendemonsrasikan membuat “Barber Wire Cross” yaitu kawat-kawat yang dipakai dalam penyiksaan militer dan alat perang dibentuk menjadi salib perdamaian pada 12 April 2026 (Foto:Keuskupan Agung Seoul)

 

Seoul, Korea Selatan — Menjelang perhelatan World Youth Day 2027, umat Katolik di Korea Selatan meluncurkan sebuah inisiatif unik bertajuk Barbed Wire Cross Project. Program ini mengajak kaum muda mengubah simbol perpecahan menjadi lambang perdamaian, doa, dan harapan.

Proyek tersebut resmi dibuka pada 12 April 2026 di halaman Katedral Myeongdong, Seoul. Kegiatan ini digagas oleh Panitia Penyelenggara Lokal WYD 2027 bersama Path With You Foundation.

Dalam proyek ini, kawat berduri bekas yang dikumpulkan dari kawasan Garis Demarkasi Militer—perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara—akan diolah menjadi “Salib Perdamaian”. Selama satu tahun hingga 4 April 2027, para peserta, khususnya kaum muda, akan meluruskan dan membentuk kawat tersebut melalui proses penempaan.

Uskup Agung Seoul, Peter Chung Soon-taick, memimpin upacara pembukaan. Dalam homilinya, ia menyebut kawat berduri sebagai simbol menyakitkan dari perpecahan dan konflik di Semenanjung Korea.

“Sebagaimana salib yang dahulu merupakan alat eksekusi, namun melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi simbol perdamaian dan rekonsiliasi, saya berharap salib ini juga menjadi tanda perdamaian dan kasih bagi Korea,” ujarnya.

Dalam seremoni tersebut, Chung juga memberkati alat-alat yang digunakan, seperti palu dan landasan, serta bahan kawat berduri. Ia bersama Paul Kyung-sang Lee dan peserta lain turut mendemonstrasikan proses pembentukan kawat.

Secara historis, Semenanjung Korea terpecah setelah berakhirnya penjajahan Jepang pada 1945. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet memicu pembagian wilayah menjadi Korea Selatan dan Korea Utara. Konflik memuncak dalam Perang Korea yang berakhir dengan gencatan senjata pada 1953, tanpa perjanjian damai resmi.

Panitia menyebut, proyek ini tidak hanya melibatkan komunitas gereja, tetapi juga berbagai kalangan dari sektor sosial dan budaya. Diharapkan, pesan rekonsiliasi yang diusung dapat melampaui batas-batas keagamaan.

Sebagai informasi, World Youth Day merupakan pertemuan global umat Katolik yang pertama kali diperkenalkan oleh Pope John Paul II pada 1985. Acara ini diadakan setiap tiga tahun dan diisi dengan kegiatan doa, ziarah, serta perayaan iman lintas budaya.

Rencananya, Pope Leo XIV akan menghadiri WYD 2027 di Seoul yang berlangsung pada 29 Juli hingga 8 Agustus 2027. Puluhan ribu kaum muda dari sekitar 200 negara diperkirakan akan ambil bagian dalam acara tersebut (UCA NEWS, 15 April 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com