
Kardinal Pietro Parolin dan beberapa pembicara pada konferensi di Casina Pio IV-Vatican
VATIKAN, KOMPAS — Sekretaris Negara Vatikan, Pietro Parolin, menegaskan bahwa krisis kesehatan mental yang dialami kaum muda saat ini merupakan keadaan darurat yang memerlukan respons struktural dan jangka panjang. Menurutnya, masyarakat modern sering kali menyediakan berbagai sarana bagi generasi muda, tetapi gagal memberikan tujuan hidup yang jelas.
Pernyataan tersebut disampaikan Kardinal Parolin dalam konferensi internasional bertajuk “Maps of Hope for a Regional Educational Agenda: Mental Health, Digital Technologies and Education” yang berlangsung di Vatikan. Acara itu dihadiri para menteri pendidikan, akademisi, dan pakar internasional yang membahas hubungan antara kesehatan mental, teknologi digital, dan pendidikan.
Kardinal Parolin menegaskan bahwa pendidikan tetap menjadi pilar utama pembangunan manusia yang utuh, kehidupan bersama yang damai, dan keadilan sosial. Namun, menurutnya, sistem pendidikan saat ini menghadapi tantangan baru yang tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, melainkan juga pembentukan pribadi secara menyeluruh, perkembangan sosial-emosional, perlindungan kelompok rentan, serta integrasi teknologi digital yang bertanggung jawab.
Perlunya Kerja Sama Global
Parolin menilai tantangan tersebut tidak dapat diatasi melalui kebijakan yang terpisah-pisah. Sebaliknya, diperlukan kerja sama yang terstruktur, multidimensional, dan berjangka panjang.
Ia mengingatkan kembali tentang Global Compact on Education yang diluncurkan oleh Pope Francis pada tahun 2019. Selain itu, ia merujuk pada surat apostolik terbaru dari Pope Leo XIV yang menyerukan terbentuknya sebuah “konstelasi pendidikan global” guna memajukan persaudaraan, perdamaian, dan keadilan.
Menurut Parolin, Paus Leo XIV menyoroti tiga prioritas utama dalam dunia pendidikan saat ini, yakni perhatian terhadap kehidupan batin manusia, pembangunan budaya digital yang berpusat pada manusia, dan pendidikan yang menumbuhkan perdamaian.
Dampak Pandemi terhadap Kaum Muda
Membahas kesehatan mental, Kardinal Parolin menyebut data mengenai kondisi generasi muda saat ini sangat mengkhawatirkan. Setelah pandemi Covid-19, angka kecemasan, depresi, dan berbagai bentuk tekanan psikologis di kalangan remaja serta dewasa muda meningkat secara signifikan.
Namun, ia memperingatkan agar persoalan kesehatan mental tidak dipandang semata-mata sebagai masalah medis yang hanya menjadi tanggung jawab sistem kesehatan.
“Gereja selalu mengajarkan bahwa manusia merupakan kesatuan yang tak terpisahkan antara tubuh, pikiran, dan jiwa,” ujarnya.
Karena itu, model pendidikan yang mengabaikan salah satu dimensi tersebut akan menjadi tidak lengkap dan tidak mampu menjawab kebutuhan manusia secara utuh.
Parolin menekankan bahwa pendidikan harus membantu kaum muda bukan hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memahami diri mereka sendiri, mengelola emosi, membangun relasi yang bermakna, serta menemukan tujuan hidup.
Peran Sentral Sekolah dan Keluarga
Menurut Kardinal Parolin, sekolah dan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan mental anak dan remaja.
Sekolah seharusnya menjadi tempat di mana setiap siswa merasa diperhatikan, didengarkan, dan didampingi. Sementara itu, keluarga tetap menjadi faktor perlindungan terkuat bagi anak-anak dan remaja, terutama jika mendapat dukungan yang memadai dari masyarakat dan negara.
Teknologi Digital Harus Dikendalikan
Parolin juga mengakui bahwa teknologi digital memiliki potensi besar dalam dunia pendidikan, terutama untuk mengurangi kesenjangan akses belajar di wilayah yang luas dan beragam.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa paparan berlebihan terhadap lingkungan digital tanpa pendampingan yang memadai dapat berdampak negatif pada kesehatan mental generasi muda. Dampak tersebut meliputi menurunnya kemampuan berkonsentrasi, ketergantungan pada layar, perundungan siber (cyberbullying), isolasi sosial, hingga paparan terhadap konten yang merugikan.
“Tantangannya bukan menerima atau menolak teknologi, melainkan mengelolanya dengan bijaksana,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan digital harus menggabungkan kemampuan teknis dengan pembentukan karakter dan kecerdasan sosial-emosional.
Krisis Makna di Balik Krisis Mental
Menurut Kardinal Parolin, akar terdalam dari krisis kesehatan mental kaum muda sebenarnya adalah krisis makna hidup.
Banyak anak muda merasa kehilangan arah bukan karena kekurangan informasi atau kesempatan, melainkan karena tidak memiliki kerangka makna yang membantu mereka memahami kehidupan, harapan, dan masa depan mereka.
“Masyarakat yang memberikan segala sarana tetapi tidak memberikan tujuan; menyediakan segala bentuk koneksi tetapi tidak menghadirkan relasi yang autentik; menawarkan segala jawaban tetapi tidak mengajarkan pertanyaan yang mendalam, pada akhirnya adalah masyarakat yang meninggalkan kaum mudanya,” ujarnya.
Investasi Jangka Panjang
Menutup pidatonya, Kardinal Parolin menyerukan agar pemerintah di berbagai negara menjadikan kesehatan mental generasi muda sebagai prioritas utama kebijakan publik.
Menurutnya, diperlukan investasi yang terkoordinasi dalam bidang pendidikan, layanan kesehatan, pelatihan guru, dan dukungan keluarga.
Mengutip seruan Paus Leo XIV kepada para guru agama untuk menjadi “koreografer harapan”, Parolin menegaskan bahwa pendidikan harus membantu kaum muda menemukan sarana dan cakrawala yang memungkinkan mereka menjalani hidup yang penuh, bebas, dan bermakna.(VATICAN NEWS,29 Mei 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr