Kotbah Uskup Mgr Kornelius Sipayung OFMCap Minggu, Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Kel 34:4b-6.8-9; Dan 3:52-56; 2Kor 13:11-13; Yoh 3:16-18

“Allah adalah Kasih yang Hadir,

Menyelamatkan, dan Mempersatukan”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari Raya Tritunggal Mahakudus sering kali dianggap sebagai salah satu misteri iman yang paling sulit dipahami. Bagaimana mungkin Allah satu tetapi tiga pribadi? Bagaimana mungkin Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah satu Allah? Sepanjang sejarah, para teolog telah berusaha menjelaskan misteri ini, tetapi pada akhirnya Tritunggal bukan pertama-tama sebuah rumus matematika yang harus dipecahkan, melainkan sebuah pengalaman iman yang harus dihayati. Hari ini Gereja tidak mengajak kita menghitung pribadi-pribadi Allah, melainkan mengenal siapa Allah yang menyatakan diri kepada manusia. Dan menariknya, ketiga bacaan hari ini memperlihatkan satu benang merah yang sangat jelas: Allah Tritunggal adalah Allah yang kasih-Nya selalu mengalir kepada manusia.

Dalam bacaan pertama, Musa mengalami Allah bukan sebagai penguasa yang menakutkan, melainkan sebagai Allah yang penuh belas kasih. Ketika bangsa Israel baru saja jatuh ke dalam dosa penyembahan anak lembu emas, Musa naik kembali ke gunung Sinai. Di sana Tuhan memperkenalkan diri-Nya:“Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia.” (Kel. 34:6)

Inilah salah satu pernyataan terindah tentang Allah dalam seluruh Perjanjian Lama. Allah yang dikenal Musa bukan Allah yang mudah marah dan menghukum, melainkan Allah yang tetap setia bahkan ketika umat-Nya tidak setia. Allah yang pertama-tama bukan menunjukkan kekuasaan-Nya, tetapi menunjukkan belas kasih-Nya. Dengan kata lain, inti terdalam identitas Allah adalah kasih. Musa menemukan bahwa di balik hukum-hukum, perintah-perintah, dan kuasa ilahi, terdapat hati Allah yang penuh belas kasih terhadap manusia.

Pemahaman ini semakin diperdalam oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Menjelang akhir suratnya kepada jemaat Korintus yang penuh konflik dan perpecahan, Paulus tidak menekankan aturan atau hukuman. Sebaliknya ia berkata:

“Hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu.” (2Kor. 13:11)

Perhatikan ungkapan Paulus: Allah sumber kasih dan damai sejahtera. Allah bukan hanya memiliki kasih; Allah adalah sumber kasih itu sendiri. Karena itu orang yang sungguh mengenal Allah harus menjadi pembawa kasih dan damai. Paulus mengajak umat Korintus untuk sehati sepikiran, hidup dalam persaudaraan, dan mengatasi perpecahan. Mengapa? Karena hidup dalam kasih dan damai merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menjadi anak-anak Allah. Tidak mungkin seseorang mengaku mengenal Allah Tritunggal tetapi hidup dalam kebencian, iri hati, permusuhan, atau perpecahan.

Puncak pewahyuan tentang Allah itu kita temukan dalam Injil Yohanes hari ini. Barangkali inilah ayat yang paling terkenal dalam seluruh Kitab Suci:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” (Yoh. 3:16)

Di sini Yohanes membawa kita masuk ke dalam jantung misteri Tritunggal. Allah bukan sekadar mengasihi; Allah adalah kasih. Dan kasih sejati selalu memberi diri. Karena itu Bapa mengaruniakan Putra-Nya. Putra menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia. Roh Kudus dicurahkan agar manusia dapat mengambil bagian dalam kehidupan ilahi itu. Seluruh karya keselamatan adalah gerakan kasih Allah yang terus mengalir keluar menuju manusia.

Jika dalam Perjanjian Lama Musa mengenal Allah sebagai penyayang dan pengasih, maka dalam Yesus manusia melihat kasih itu dalam bentuk yang paling nyata. Dalam perkataan-Nya, dalam mukjizat-mukjizat-Nya, dalam pengampunan-Nya kepada orang berdosa, dalam perhatian-Nya kepada orang miskin dan tersingkir, hingga akhirnya dalam wafat-Nya di salib, Yesus memperlihatkan wajah Allah yang sesungguhnya: wajah kasih.

Karena itu Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukan terutama perayaan tentang teori Allah, tetapi tentang kehidupan Allah sendiri. Allah yang kita imani bukan pribadi yang hidup sendirian dalam kesunyian ilahi. Allah adalah persekutuan kasih: Bapa mengasihi Putra, Putra mengasihi Bapa, dan kasih itu dipersatukan dalam Roh Kudus. Para Bapa Gereja sering menyebut Tritunggal sebagai communio amoris, persekutuan kasih. Maka ketika manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, manusia pun dipanggil untuk hidup dalam relasi kasih, bukan dalam egoisme dan keterasingan. Itulah sebabnya dosa selalu memecah-belah, sedangkan kasih selalu mempersatukan.

Pesan ini sangat relevan bagi dunia kita saat ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang semakin terhubung oleh teknologi, tetapi sering kali semakin terpecah secara sosial. Banyak keluarga kehilangan komunikasi. Banyak komunitas terbelah oleh perbedaan politik, suku, agama, atau kepentingan ekonomi. Bahkan media sosial sering menjadi tempat pertengkaran dan saling menjatuhkan. Dunia mengalami krisis relasi karena kehilangan sumber kasih yang sejati. Hari Raya Tritunggal mengingatkan kita bahwa manusia hanya menemukan identitasnya ketika hidup dalam kasih. Kita tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Kita diciptakan untuk membangun persekutuan, saling menerima, saling mengampuni, dan saling menguatkan.

Saudara-saudari terkasih,

Jika Musa mengenal Allah sebagai penyayang dan pengasih, jika Paulus mengenal Allah sebagai sumber kasih dan damai sejahtera, dan jika Yohanes mewartakan Allah yang begitu mengasihi dunia hingga mengaruniakan Putra-Nya, maka pertanyaan bagi kita adalah: apakah wajah Allah itu tampak dalam hidup kita? Apakah keluarga kita menjadi tempat kasih bertumbuh? Apakah komunitas kita menjadi ruang damai sejahtera? Apakah Gereja kita menjadi cerminan persekutuan kasih Tritunggal? Sebab orang tidak dapat melihat Allah secara langsung, tetapi mereka dapat melihat pantulan kasih Allah dalam hidup umat-Nya.

Maka pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, marilah kita memohon agar Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus membentuk hidup kita menurut citra-Nya sendiri. Semoga kita semakin menjadi pribadi yang penuh belas kasih seperti Bapa, semakin rela memberi diri seperti Putra, dan semakin menjadi pembawa damai serta pemersatu seperti Roh Kudus. Dengan demikian, melalui hidup kita, dunia dapat mengalami bahwa Allah yang kita imani sungguh adalah Allah yang hidup, Allah yang hadir, dan Allah yang adalah Kasih. Amin

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com