Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Rabu Masa Biasa Pekan XXVII

 

Gal 5:18-25; Mzm 1; Luk 11:42-46

Ketika Kasih Melemah, Aturan Menjadi Beban

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Pernahkah kita memperhatikan bahwa ketika kepercayaan dan semangat kasih mulai melemah, aturan sering kali dibuat semakin banyak, semakin ketat, dan semakin rumit? Orang mulai menggantikan kepercayaan dengan pengawasan, tanggung jawab dengan ancaman, persaudaraan dengan prosedur, dan kebijaksanaan dengan peraturan yang kaku. Mengapa demikian? Karena ketika manusia tidak lagi digerakkan oleh kasih dari dalam hatinya, perilakunya semakin harus dikendalikan dari luar. Inilah bahaya yang disingkapkan Yesus dalam Injil hari ini. Ia mengecam orang-orang Farisi yang sangat teliti membayar persepuluhan sampai pada tanaman yang kecil, tetapi mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Mereka begitu sibuk mengurus aturan, tetapi melupakan tujuan aturan itu sendiri. Yesus tidak menolak hukum dan peraturan. Ia mengingatkan bahwa kasih harus menjadi jiwa dari setiap hukum. Sebab hukum dibuat untuk melayani kehidupan, bukan kehidupan dikorbankan demi hukum.

Saudara-saudari, aturan memang diperlukan. Dalam keluarga, sekolah, masyarakat, dan Gereja, aturan yang baik membantu menjaga ketertiban, melindungi yang lemah, dan menegakkan keadilan. Tetapi aturan sebanyak apa pun tidak dapat menggantikan kasih. Dalam keluarga, orang tua dapat membuat banyak larangan dan hukuman, tetapi jika anak-anak tidak mengalami kasih, mereka mungkin hanya taat karena takut. Dalam sekolah, guru dapat memperketat disiplin, tetapi tanpa perhatian dan keteladanan, murid hanya belajar menghindari hukuman. Dalam Gereja, kita dapat memiliki pedoman yang lengkap, prosedur yang terperinci, dan pengawasan yang ketat, tetapi jika semangat pelayanan dan persaudaraan hilang, umat justru merasa semakin terbebani. Itulah yang dikecam Yesus ketika Ia berkata bahwa para ahli Taurat meletakkan beban yang berat di atas bahu orang lain, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuh beban itu dengan satu jari pun. Aturan dapat memaksa orang untuk taat, tetapi hanya kasih yang dapat menggerakkan orang untuk berbuat baik dengan tulus. Karena itu, pertanyaan terpenting bukan hanya apakah aturan telah dilaksanakan, melainkan apakah melalui aturan itu manusia semakin mengalami keadilan, kasih, dan kebaikan Allah.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus menunjukkan jalan pembaruan yang sesungguhnya, yaitu hidup dalam bimbingan Roh Kudus. Buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Semua itu tumbuh dari hati yang diperbarui oleh Roh Allah. Roh Kudus tidak hanya mengatur tindakan manusia dari luar, tetapi mengubah hati manusia dari dalam. Orang yang dipenuhi Roh Kudus akan berlaku jujur bukan hanya karena takut dihukum, melainkan karena mencintai kebenaran. Ia akan bertanggung jawab bukan hanya karena diawasi, melainkan karena peduli kepada sesama. Ia akan menghormati orang lain bukan hanya karena diwajibkan, melainkan karena menyadari martabat setiap manusia. Inilah perbedaan antara ketaatan yang lahir dari ketakutan dan ketaatan yang lahir dari kasih. Ketika Roh kasih hidup, aturan menjadi sarana untuk melayani. Tetapi ketika kasih mati, aturan mudah berubah menjadi alat untuk menguasai. Karena itu, pembaruan kehidupan Kristiani tidak cukup dilakukan dengan memperbanyak peraturan; yang terutama dibutuhkan adalah pembaruan hati melalui Roh Kudus.

Karena itu, saudara-saudari yang terkasih, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa dikasihi atau justru merasa diawasi dan dihakimi? Apakah kita menggunakan aturan untuk membantu orang bertumbuh atau untuk menunjukkan kekuasaan kita? Apakah kita lebih cepat menghukum kesalahan daripada membantu orang memperbaiki kehidupannya? Mulai hari ini, marilah kita mengembalikan kasih sebagai jiwa dari setiap tindakan. Jika kita orang tua, tegakkanlah disiplin dengan kasih dan keteladanan. Jika kita guru, didiklah dengan ketegasan yang menghargai martabat anak. Jika kita pemimpin atau pelayan Gereja, jalankanlah aturan dengan adil, bijaksana, dan penuh belas kasih. Jangan mempermalukan orang yang bersalah, tetapi bantulah dia bertobat. Jangan menambah beban mereka yang lemah, tetapi bantulah mereka memikulnya. Ukuran keberhasilan kehidupan beriman bukanlah seberapa banyak aturan yang berhasil kita tegakkan, melainkan seberapa besar keadilan dan kasih Allah sungguh dialami oleh sesama melalui kehidupan kita. Sebab Gereja yang dipimpin Roh Kudus bukanlah Gereja tanpa aturan, melainkan Gereja yang menjadikan setiap aturan sebagai sarana menghadirkan kasih Kristus. Jangan sampai kita berhasil membuat semua orang taat kepada aturan, tetapi gagal membawa mereka semakin dekat kepada Allah yang adalah Kasih.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com