Ratnauli Gultom Wanita Pemberdaya Kawasan Danau Toba,Termasuk Lewat Wine Mangga

195 total views, 1 views today

Foto: Pizza Andaliman yang baru dimasak

“Saat musim Mangga puluhan ton buah yang jatuh itu terbuang dari pohon yang sudah berusia ratusan tahun itu” kata Ratna.  Apakah Mangga yang pecah itu tidak bisa digunakan atau tidak bermanfaat?” Begitulah awalnya yang mendasari penemuan Wine Mangga khas Silimalombu, Pulau Samosir ini.  Ratna bercerita, telah banyak orang khususnya para tamu manca Negara yang membantu menghasilkan Wine Mangga ini hingga bisa diekspor ke Jerman. “Gagal itu pasti pernah, namun kita terus berusaha” kata Ratna. Berkat kegigihan itu, setiap tahun sekitar 12 drum Wine Mangga ini dijual ke Jerman. Selain itu Ratna juga menghasilkan cuka Mangga dan produk alami lainnya seperti biji coklat, daun sirsak, kayu manis dan lainnya.

Kisah hidup dan perjuangan Ratna ini memang menarik apalagi setelah ia bertemu dengan Thomas Heinle yang akhirnya menjadi suaminya. Bersama pria asal Munchen ini mereka mengembangkan ecotourism, ecovillage, yang bertujuan mengenalkan dan memelihara budaya lokal dan kekayaan alam Danau Toba ke penjuru dunia.  Ia berpendapat mestinya setiap warga kawasan Danau Toba bersyukur dan berbangga, dengan menyadari pontensi alam luar biasa yang telah dianugrahkan Tuhan.

Ia menceritakan bagaimana alam bisa memenuhi kebutuhan merek.a “Belanja utama kami hanya minyak dan gula serta tepung” kata Ratna di hadapan ratusan peserta yang mengikuti pelatihan kursus memasak yang diadakan Caritas PSE baru-baru ini di PPU Parapat. Yaa, Ratna bisa menghidupi kebutuhan sehari-harinya dari tamanan-tanaman yang tumbuh di pekarangan dan ladangnya. “Saya tidak perlu repot-repot atau mengeluarkan uang untuk membeli sayur dan ataupun buah-buahan. Sayur Sawi itu ditanam sekali saja selanjutnya akan tumbuh terus seperti rumput katanya. Ratna memiliki prinsip bahwa setiap orang, khususnya di kawasan Danau Toba bisa mandiri dan maju dengan kekayaan alam yang telah tersedia.

Sehari-harinya Ratna menjala ikan di tepi Danau Toba, lalu berladang dan beternak. Namun Ratna juga aktif dalam melestarikan alam dengan mengajak warga membersihakan Danau Toba dari sampah plastik dan memberikan waktu untuk mengajari anak-anak mencintai lingkungan.

Ratna menjadi salah satu panutan dalam pemberdayaan dan pengembangan wisata Danau Toba dengan konsep soft tourism. Yang mana wisata yang ditawarkan adalah pengalaman menjadi warga lokal Danau Toba. Setiap tamu bisa ambil bagian dan merasakan atau mengerjakan apa yang dilakukan warga sehari-hari katanya.  “ Yang kami tawarkan bukan bangunan megah atau mewah, atau fasilitas modern. Semuanya sederhana dan alami kata Ratna. Ia menuturkan para tamu dari manca Negara seperti Jerman, Francis, Filipina dan Negara Eropa lainnya sangat senang berkunjung ke homestay  yang mereka kembangkan. Intinya mereka ingin merasakan bagaimana bertani, menangkap ikan, dan berinteraksi dengan warga tambahnya.” Bersama Thomas suaminya mereka juga mengembangkan Pizza Andaliman dan aneka roti yang dipadukan dengan rempah-rempah dan rasa lokal. Jansudin Saragih.

Jansudin Saragih

Carpe diem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *