Penyanyi Lapo dan Matthew Effect …

11,267 total views, 1 views today

Mendengarkan dan menonton video lagu produksi lapo tuak sering sekali lebih nikmat dan seru. Perekam dan alat musik mereka seadanya saja. Terkadang terdengar udara yang menghempas dan suara bisik-bisik ‘mantap baen da’. Ada juga suara ngyeekk ngyuukk dari meja yang tak lagi siku. Hebatnya, dalam situasi serba terbatas dan kadang hiruk pikuk itu, perpaduan suara satu-dua-tiga tetap terdengar harmonis. Ada orisinalitas yang tak dibuat-buat dalam cara mereka menyajikan lagu.

Saya kadang berpikir dan merasa kalau para penyanyi lapo sering lebih keren daripada penyanyi yang wara-wiri di tv kelas nasional. Sebab, seperti kata orang bijak: koki handal mampu memasak enak dari bahan apa saja yang tersedia di kulkas. Yahhh … kalau tunggu belanja ini dan itu terlebih dahulu baru bisa masak enak, tentu saya juga bisa masak enak dong. Maksud saya, para penyanyi lapo tuak atau bar sering tidak kalah talent, sehingga dalam keterbatasan perkakas pun, telinga kita masih dimanjakan. Mereka punya kualitas, tapi mungkin minim atau belum punya peluang dan kesempatan mentas. Seperti kata Malcolm Gladwell (Outliers, 2008): talenta yang super sering sekali bukanlah faktor penentu utama dalam sukses tidaknya seseorang, tetapi sangat dipengaruhi oleh peluang dan kesempatan yang ada.

Ada sedikit pencerahan menyangkut bagaimana ‘peluang dan kesempatan’ itu bergulir dalam pola relasi manusia dalam tulisan klasik dari sosiolog Robert K. Merton (Science, January 5, 1968). Beliau memperkenalkan istilah Matthew Effect. Tanpa masuk ke detailnya, mari mencoba memahaminya dengan membaca Matius 25:29 yang menjadi pencetus istilah Merton: Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Ayat ini adalah bagian dari perumpamaan Yesus tentang Talenta. Tentu saja Merton tidak bermaksud memberikan tafsiran Kitab Suci, dia hanya mau menggambarkan sebuah fenomena sosial yang lajim terjadi.

Melalui matthew effect Merton mau mendeskripsikan bahwa, misalnya, orang yang sudah sukses akan memiliki peluang lebih besar untuk kesuksesan selanjutnya. Dalam ranah sains misalnya, Merton melihat bahwa orang yang sudah pernah mendapatkan penghargaan, akan berpeluang lebih besar untuk mendapatkan penghargaan selanjutnya. Selain karena popularitasnya, tetapi juga karena sebuah penghargaan akan membuatnya memiliki akses ke kantong-kantong ilmu pengetahuan yang lebih mumpuni.

Popularitas sering membuat sebuah nama memiliki nilai jual yang tinggi, tetapi juga sekaligus ‘mengurangi atau mengaburkan’ nilai jual nama lain yang disandingkan dengannya. Misalnya saja nama Albert Einstein disandingkan dengan Niels Bohr dalam tulisan tentang quantum theory. Saya yakin nama Einstein yang punya daya tarik lebih. Padahal, sebenarnya Neils Bohr juga mendapatkan penghargaan Nobel untuk kontribusinya dalam teori quantum itu. Bohr tak kalah hebat dari Einstein, tetapi nama Einstein jauh lebih akrab di telinga kita, sehingga seolah-olah segala sesuatu menyangkut fisika Einstein-lah jagonya, yang lain tenggelam. Ingat: apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Matthew effect-nya Merton menyadarkan saya bahwa popularitas tak selalu berbanding lurus dengan kwalitas/talenta, tetapi sering menyangkut akses dan kesempatan, dan di zaman google-facebook-youtube-twiter hal ini semakin nyata. Meskipun juga, kemudahan akses ke empat raksasa komunikasi itu membuat peluang dan kesempatan menjadi semakin merata dan terbuka lebar, semisal, bagi para penyanyi bertalent dari lapo. Kejar dan tangkap peluang …

RD. Irfantinus Tarigan
Facebook Comments
Baca juga  Tinggalkan Popularitas, Ratu Kecantikan Ini Memilih Menjadi Biarawati

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply