PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN MENTAL PEREMPUAN SAAT PANDEMI

1,651 total views, 2 views today

Berdasarkan penelitian yang dilakukan UK Longitudinal Study, perempuan mengalami lebih banyak masalah dengan kesehatan mental daripada pria selama wabah virus Corona. Sebagai contoh, jumlah orang yang melaporkan masalah kesehatan mental telah meningkat dari tujuh persen menjadi delapan belas persen selama pandemi. Untuk perempuan angka ini telah meningkatkan dari 11 persen menjadi 27 persen. Tulisan singkat ini mencoba memaparkan pentingnya menjaga kesehatan mental perempuan saat pandemi.

Perbedaan yang terjadi disebabkan oleh tuntutan yang lebih besar pada perempuan dalam hal pengasuhan anak, tugas rumah tangga, hingga tuntutan pekerjaan bagi perempuan karier. Studi ini menemukan bahwa lebih dari sepertiga perempuan (34  persen) yang menjadi responden melaporkan kadang-kadang merasa kesepian ketika kebijakan lockdown diberlakukan.

Hasil penelitian di atas memperlihatkan bahwa ada kerentanan bagi perempuan yang berkarir di luar selam pandemi Corona. Mereka yang biasa sehari-hari beraktifitas di kantor bercengkrama dengan sesama teman dan mengerjakan tugas kantor dengan tetap bercengkrama, kini kehilangan sentuhan interaksi tersebut. Mereka lebih banyak menghabiskan pekerjaan di rumah dengan interaksi melalui aplikasi pendukung. Kondisi ini tentu memangkas interkasi dan memberikan ruang bagi rasa kesepian. Hal ini menimbulkan kerentanan pada kesehatan mental perempuan. Hal ini ditegaskan ,melalui wawancara pada ibu Dewi (37 Tahun, Karywan Swasta) :

Biasa bekerja sambil cerita-cerita saling bantu pekerjaan, makan siang bareng, hang out bareng. Sekarang masa pandemi ini gak bisa kemana-mana. Pekerjaanpun dilakukan di rumah. Secara benan kerja sama saja sih, kita tetap koordinasi seperti biasa hanya bedanya biasa di kantor sekarang pakai aplikasi zoom. Yang beda itu interaksinya. Biarpun kita tetap bisa senang-senang dan ketawa bareng, tapi tetap ada rasa yang kurang, apalagi aplikasi zoom ini atau sosmed yang lainnya tidak bisa live lama-lama, habis livenya. Kita kembali pada kondisi semula, di rumahmatau di kos, dengan kondisi sepi.

 

Penggalan wawancara di atas memberikan gambaran bahwa efek lokdown memberikan ruang bagi interaksi yang semakin jauh meski coba dipangkas melalui kemajuan teknologi. Sensitifitas berkurang akibat hal tersebut.

Selain perempuan yang berkarir kerentanan pada kesehatan mental juga terjadi pada perempuan yang hanya bekerja di sektor domestik. Beban pekerjaan yang bertambah dengan menjadi pendamping dalam belajar anak. Disamping itu pekerjaan rumah dan pemenuhan kebutuhan pada suami juga tidak berkurang. Kondisi seperti ini meberikan kerentanan pada kesehatan mental ibu-ibu rumah tangga dimana, waktu-waktunya untuk beristirahat atau sekedar menyapa dengan tetangga menjadi berkurang. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Siska (38 Tahun, Ibu Rumah Tangga) :

Kadang kita merasa stress sendiri, waktu istirahat sangat mahal sekarang. Kita ngajari anak-anak sekolah yang biasanya kita bebankan kepada guru sekolah, capek sih, kita jadi belajar lagi, walupun isis baiknya kita jadi semakin dekat dengan anak. Tapi kadang suka palak kalau pas mood anak juga gak banget, malah kerjaan rumah belum siap, suka emosi kadang-kadang.

 

Penggalan wawancara di atas memperlihatkan kerentanan pada kesehatan mental perempuan yang bekerja di sektor domestik pada masa pandemi. Pada kondisi yang biasa hanya terjadi keluhan-keluhan stress saja, namun pada kondisi ekstrim dapat terjadi kekerasan seperti membentak, memukul bahkan membunuh. Kerentanan ini akibat beban kerja yang semakin bertambah tanpa adanya support atau dukungan dari suami selaku kepala rumah tangga.

Putri Yuanita Pane, SKM, M.Kes seorang akademi Universitas Prima dalam penjelasannya menyatakan bahwa banyak wanita yang kadang dia stress sendiri. Pekerjaan menumpuk dan ditambah anak juga kita yang ajarin. Sebagian stress sampai memukul anak tanpa dia sadari. Hal ini akan buruk. Jadi pandemic Corona ini memang buat kita makin terbebani sebagai perempuan.

Oleh karena itu, kesehatan fisik, mental, dan sosial sama pentingnya. Dalam kondisi pandemi saat ini, perempuan memainkan banyak sekali peran sosial. Peranan sebagai anak, istri, ibu dan pekerja dengan tugas yang tidak pernah selesai, perempuan sering mengalami tekanan.

Praktisi kesehatan mental di Kota Medan, Frans Frans Judea Samosir, S.Psi., M.P.H. menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya. Kesehatan yang baik adalah keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, dan sosial, yang diperoleh lewat gaya hidup yang benar. Hidup yang sehat diawali dari pikiran dan jiwa yang sehat.

Jadi, memenuhi tuntutan tiap peran dan menjalani kehidupan yang sehat sekaligus bukan sesuatu yang mudah. Selain kesehatan fisik, perempuan perlu pula memperhatikan kesehatan mental mereka untuk dapat menikmati hidup dengan kualitas diri yang optimum.

Facebook Comments
Baca juga  Jaringan Katolik Melawan Covid-19 Membuka Pendaftaran Relawan

Sri Lestari Samosir

Ibu Bahagia. Freelance Writer. Womanpreneur.

Leave a Reply