KHOTBAH

Pemuliaan Yesus di Salib Membawa Keselamatan

Loading

RD M. Marihot Simanjuntak, Ketua Komisi Komsos KAM

10 Maret 2024 | Hari Minggu IV Masa Puasa – B | 2Taw 36:14-16; Ef 2:4-10; Yoh 3:14-21

Setiap orang pernah mengalami kekacauan dalam hidup. Kekacauan itu kadang perlu untuk menyadarkan kita bahwa tak selamanya jalan hidup ini mulus. Sering kekacauan mengawali sebuah perubahan jika dimaknai secara positif. Bila orang tinggal dalam kemapanan dan tidak peduli dengan orang lain, lama-kelamaan kehidupan akan terasa hambar dan kosong. Kehidupan menjadi kerdil karena hanya sekedar pemenuhan kebutuhan, bukan menjadi makna terdalam bersama dengan Allah yang penuh belas kasihan.

Kisah perjalanan bangsa Israel sebagai bangsa terpilih bukanlah kisah tanpa kekacauan. Sejak berada di tanah Mesir ketika mereka dijadikan budak, merasa merasa terancam. Setelah masuk ke tanah Terjanji mereka tidak luput dari peperangan dengan penduduk setempat. Mereka hidup makmur di tanah Terjanji tetapi mereka melakukan kejahatan di mata Tuhan. “Rumah di yang dikuduskan Tuhan di Yerusalem mereka najiskan ….., mereka mengolokolok para utusan Allah, menghina segala firman Allah, dan mengejek nabi-nabinya …” (2 Taw 36:34- 36). Tindakan bangsa terpilih itu menimbulkan murka Allah. Mereka telah melanggar perjanjian Sinai dan mengadopsi gaya hidup bangsa lain dengan menyembah dewadewa mereka. Akibatnya, bangsa itu dihukum dan dibuang ke Babel agar mereka merasakan getirnya hidup di tanah asing. Kekacauan mengakibatkan penghukuman.

Baca juga  APA MAKNA YANG KITA PAHAMI DARI KISAH “ZAKEUS” ?

Namun demikian, kekecewaan dan kemarahan Allah tidak selamanya. Mereka tidak dibiarkan dalam hukuman. Dengan penuh belas kasihan, Allah menyelamatkan umat-Nya. Allah itu maharahim. Dengan sedikit tanpa pertobatan saja pun, Dia telah mengampuni dosa umat-Nya. Hanya ada sedikit orang Israel yang masih setia di Babel, dan mereka hanya duduk dan meratap di pinggir sungai Babel, itu saja telah membuat hati Allah tersentuh. Kemurahan hati Allah itulah yang diungkapan oleh Yesus kepada Nikodemus yang datang kepada-Nya di malam yang sepi dalam Injil hari ini. “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan supaya semua orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah aka dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal …” (Yoh 3:14-16). Kisah ini diambil oleh Yohanes dari Kitab Bilangan untuk menggambarkan penyelamatan Yesus yang akan ditampilkan di salib.

Kekacauan dunia yang diakibat dosa telah membawa kematian bagi manusia. Itulah bisa ular. Dosa membuat manusia jauh dari Allah. Namun Allah datang menyelamatkan manusia. Dia mengutus Yesus, Putara-Nya yang tunggal membawa “obat” atas bisa ular. Dia disalibkan dan ditinggikan di antara langit dan bumi. Itulah ide Yohanes untuk menggambarkan penyaliban Yesus sebagai pemuliaan atau pengagungan. Yesus membawa penebusan dosa dan hidup kekal. Melalui iman akan Dia yang diutus dari atas, setiap orang memperoleh keselamatan. Dia ditinggikan di salib agar setiap orang yang melihatNya, membuka mata menyerahkan diri secara total dan percaya.

Baca juga  MENJADI SEMPURNA | Kotbah 23 Februari 2020

Setiap orang dipanggil untuk mengarahkan diri kepada Terang dan menyambutnya sehingga senantiasa hidup dalam kebenaran. Dengan demikian, keterbukaan pada rencana Allah dan percaya akan belas kasihan-Nya, memungkinkan kita untuk terus berproses dalam gerak pertobatan, menyatakan penyesalan, dan menguatkan keyakinan akan penyertaan-Nya. Amin

Facebook Comments

Leave a Reply