
Tentara Burkina Faso berpatroli di Jalan Gorgadji di daerah Sahel, Burnikan Faso
Oleh Linda Bordoni dan Nathan Morley
VATIKAN, — Pope Leo XIV menyerukan penghentian segala bentuk kekerasan serta mendorong upaya perdamaian dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Sahel, Afrika. Seruan itu disampaikan dalam doa Regina Coeli di Vatikan, Minggu (11/5/2026).
Paus mengungkapkan keprihatinannya atas meningkatnya aksi kekerasan di wilayah Sahel, terutama di Chad dan Mali, yang dalam beberapa waktu terakhir dilanda serangan teroris.
“Saya berharap segala bentuk kekerasan dapat dihentikan, dan saya mendorong setiap upaya demi perdamaian dan pembangunan di tanah yang terkasih itu,” ujar Paus Leo XIV sehari setelah bertemu dengan perwakilan Yayasan Yohanes Paulus II untuk Sahel di Vatikan.
Ia juga menyampaikan doa bagi para korban serta solidaritas bagi masyarakat yang terdampak konflik dan krisis kemanusiaan di kawasan tersebut.
Kawasan Sahel Dilanda Krisis Berkepanjangan
Sahel merupakan wilayah yang membentang dari pesisir Atlantik hingga Laut Merah di bagian selatan Gurun Sahara. Selain memiliki peran ekologis penting sebagai zona peralihan antara sabana Sudan dan Gurun Sahara, kawasan ini juga menjadi salah satu titik geopolitik paling rawan di Afrika.
Selama beberapa dekade terakhir, kawasan Sahel menghadapi kombinasi persoalan serius, mulai dari lemahnya institusi negara, kemiskinan, perubahan iklim, hingga meningkatnya aktivitas kelompok ekstremis bersenjata.
Krisis iklim menyebabkan kekurangan pangan dan air bersih semakin sering terjadi. Di sisi lain, korupsi dan ketidakstabilan politik memicu kudeta militer, pemberontakan, serta aksi terorisme di sejumlah negara.
Serangan Teroris di Mali Tewaskan Puluhan Orang
Di Mali, lebih dari 30 orang dilaporkan tewas dalam dua serangan yang terjadi di wilayah tengah negara itu pada Kamis (8/5/2026). Serangan tersebut diklaim oleh kelompok Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), jaringan yang berafiliasi dengan al-Qaeda.
Jaringan pemantau keamanan Sahel, WAMAPS, menyebut jumlah korban kemungkinan mencapai lebih dari 50 orang, sementara sejumlah warga lainnya masih dinyatakan hilang.
Gelombang kekerasan ini terjadi di tengah melemahnya kerja sama keamanan regional dan berkurangnya operasi kontra-terorisme internasional dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai memberi ruang bagi kelompok bersenjata untuk memperluas pengaruh mereka, terutama di wilayah pedesaan.
Ancaman Krisis Migrasi dan Stabilitas Regional
Sahel juga dikenal sebagai jalur utama migrasi dari Afrika sub-Sahara menuju Afrika Utara dan Eropa. Para analis memperingatkan bahwa meningkatnya kekerasan berpotensi memicu gelombang pengungsian baru yang dapat menekan negara-negara pesisir Afrika maupun kawasan Eropa.
Situasi keamanan yang terus memburuk membuat komunitas internasional didorong untuk kembali memperkuat dukungan kemanusiaan, pembangunan ekonomi, serta stabilitas politik di kawasan tersebut.(VATICAN NEWS,10 Mei 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr