Paus Leo XIV: Jangan Instrumentalisasi Tuhan demi Kepentingan Militer, Ekonomi, atau Politik

Paus Leo XIV menerima delegasi komunitas Islam di Sinegal di Vatican (Foto: Vatican Media)

Oleh Deborah Castellano Lubov

VATIKANPope Leo XIV menyerukan agar agama-agama bekerja sama membangun perdamaian dunia dan menolak segala bentuk penyalahgunaan nama Tuhan demi kepentingan militer, ekonomi, maupun politik.

Seruan tersebut disampaikan Paus saat bertemu dengan perwakilan komunitas Muslim Senegal serta perwakilan Gereja Katolik di negara tersebut.

“Kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk mengutuk setiap bentuk diskriminasi dan penganiayaan berdasarkan ras, agama, atau asal-usul; menolak setiap instrumentalisasi nama Tuhan demi keuntungan militer, ekonomi, atau politik; serta menyuarakan pembelaan bagi setiap kelompok minoritas yang menderita,” ujar Paus Leo XIV.

Senegal Dinilai Jadi Contoh Hidup Damai Antarumat Beragama

Dalam pidatonya, Paus Leo XIV menyebut pertemuan itu sebagai simbol persahabatan dan komitmen bersama dalam membangun masyarakat yang inklusif, damai, dan penuh persaudaraan.

Ia memuji Senegal sebagai negara yang mencerminkan nilai keramahan dan solidaritas, sekaligus menjadi teladan hidup berdampingan secara damai antara umat Kristen, Muslim, dan pemeluk agama lainnya.

Menurut Paus, semangat persaudaraan tersebut merupakan fondasi penting bagi dialog antarmasyarakat yang berbeda latar belakang agama maupun etnis.

“Harta persaudaraan ini harus dijaga dengan penuh perhatian. Ini bukan hanya berharga bagi bangsa Senegal, tetapi juga bagi seluruh umat manusia,” katanya.

Paus Soroti Konflik dan Ekstremisme di Afrika

Meski demikian, Paus Leo XIV juga menyoroti berbagai tantangan yang masih dihadapi benua Afrika. Ia menyebut konflik bersenjata yang terus berlangsung telah memicu krisis kemanusiaan dan ketimpangan sosial yang mendalam.

Selain itu, Paus menyinggung meningkatnya ekstremisme kekerasan, arus migran dan pengungsi, maraknya ujaran kebencian, melemahnya ikatan keluarga, hingga lunturnya nilai etika dan spiritual, terutama di kalangan generasi muda.

Dalam situasi tersebut, Paus menilai semangat “teranga” — nilai keramahan khas Senegal — serta dialog antaragama menjadi instrumen penting untuk meredakan ketegangan dan membangun perdamaian berkelanjutan.

“Dengan mendorong dialog antaragama dan melibatkan para pemimpin agama dalam mediasi serta rekonsiliasi, politik dan diplomasi dapat memanfaatkan kekuatan moral untuk meredakan ketegangan, mencegah radikalisme, dan mempromosikan budaya saling menghormati,” ujar Paus.

Dialog dan Diplomasi Harus Berlandaskan Perdamaian

Paus Leo XIV menegaskan bahwa dunia saat ini membutuhkan diplomasi dan dialog keagamaan yang berlandaskan perdamaian, keadilan, dan kebenaran.

Ia menekankan bahwa umat Kristen dan Muslim sama-sama percaya setiap manusia diciptakan oleh Tuhan dan memiliki martabat yang tidak boleh dirampas oleh hukum maupun kekuasaan apa pun.

Karena itu, menurut Paus, agama-agama harus bersatu menolak penyalahgunaan nama Tuhan, mengutuk diskriminasi dan penganiayaan, serta melindungi kelompok minoritas yang tertindas.

Paus juga mengutip pernyataannya saat berada di Bamenda, Kamerun.

“Celakalah mereka yang memanipulasi agama dan nama Tuhan demi keuntungan militer, ekonomi, atau politik mereka sendiri, sehingga menyeret sesuatu yang suci ke dalam kegelapan dan kenajisan,” tegasnya.

Seruan untuk Terus Membangun Persaudaraan

Menutup pesannya, Paus Leo XIV berdoa agar Tuhan menumbuhkan kembali semangat untuk saling memahami, mendengarkan, dan hidup bersama dalam rasa hormat dan persaudaraan.

Ia juga berharap komitmen bersama demi perdamaian, keadilan, dan persaudaraan dapat menghasilkan kerja sama yang semakin erat demi kebaikan umat manusia.(VATICAN NEWS, 09 Mei 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com