Pastor Leo Joosten OFMCap. Kembali Menerima Anugrah Budaya

7,652 total views, 63 views today

Pemerintah Republik Indonesia Melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus berusaha menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan kebuayaan, dan salah satu yang dilakukan untuk pembangunan kebudayaan adalah meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang di seluruh bumi Indonesia. Demikian diungkapkan Dr. Nadjamuddin Ramly, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam kata sambutannya pada Malam Anugerah Kebudayaan 2018, Rabu 26 September 2018 di Gedung Insan Berprestasi, Jakarta.

Anugrah Kategori Pelestari Budaya

Pastor Leo Joosten Ginting Suka, OFMCap, dengan Uis Karo “Beka Buluh” di pundaknya, tampak antusias dan senang duduk berdampingan dengan 9 orang lainnya penerima anugerah itu dalam kategori pelestari, mengikuti acara demi acara bersama dengan penerima anugerah dalam kategori-kategori lain: 2 orang penerima dalam kategori Bintang Budaya Parama Dharma”, 8 orang penerima dalam kategori Satyalancana Kebudayaan, 10 orang penerima dalam kategori Pencipta, Pelopor dan pembaru, 5 orang penerima dalam kategori Anak dan Remaja, 5 orang penerima dalam kategori Maestro Seni Tradisi, 6 orang penerima dalam katergori Komunitas, 2 orang penerima dalam kategori Pemerintah Daerah dan 3 orang penerima dalam kategori Perseorangan Asing. Penerima anugerah budaya terlebih yang pada malam itu, terlebih yang dari daerah, rata-rata hadir dengan pakaian maupun identitas adat daerah masing-masing, sehingga tampak pula kesemarakan pesta nasional khas Indonesia: Bhineka Tunggal Ika.
Baik dari video singkat yang ditayangkan maupun dari buku pfofil penerima penghargaan yang dibagikan, diketahui bahwa appresiasi dan penghargaan yang ditujukan kepada Pastor Leo Joosten Ginting Suka, OFMCap., berhubungan dengan kiprahnya dalam mewujudkan rasa cintanya terhadap budaya Indonesia baik yang ditunjukkannya di Tanah Batak maupun di Tanah Karo. Disebut bahwa pastor yang lahir di Nederwetten, Belanda 9 September 1942 dan mulai bertugas di Indonesia sejak 1971 ini menulis buku-buku, antara lain: Tanah Karo Selayang Pandang (2014), Kamus Indonesia – Karo (2006), Kamus indonesia – Batak Toba (2003), Samosir, Silsilah Batak (1996), Samosir Selayang Pandang (1993), Samosir The Old Batak Society, edisi Bahasa Inggris (1992).

Pastor, yang telah dikabulkan permintaannya menjadi WNI pada 1994, dan secara resmi pula ditabalkan bermarga Ginting Suka dan bere-bere Sitepu oleh masyarakat Suka 1999 ini, dihargai dalam kegigihannya mendorong dan mendukung pendirian destinasi-destinasi budaya, seperti: Gereja Katolik Inkulturatif Karo di Berastagi (2005) dan Inkulturatif Toba di Pangururan (1997), Museum Pusaka Karo di Berastagi (2013), merestorasi Rumah Adat Karo (2013) maupun dalam jerih payahnya mendirikan Museum Batak Toba “Bona Pasogit” di Pangururan, Samosir (1997). Pastor Leo nampaknya dengan kerendahan hati tetap mempertanyakan mengapa ia yang terpilih. Sementara Panitia merasa faktanya sudah jelas terlihat dalam budaya Sumatera Utara

“Masih banyak orang lain yang telah berbuat banyak, mengapa saya yang diundang?” tanya beliau kepada Bpk. Binsar Simanullang, sekretaris panitia acara itu. “Waktu verifikasi Berastagi dua bulan lalu, sudah saya katakan kepada pengurus Yayasan Pusaka Karo, seturut data yang calon-calon masuk, kami tidak melihat siapa-siapa yang lebih pantas. Yang saya perlukan agar Pastor dapat pulang dari cuti tepat pada waktunya agar dapat langsung menerima penghargaan pada anugerah budaya ini.”, jawab Bpk. Simanullang yang sebelumnya merupakan koordinator tim ferifikasi wilayah Sumatera itu untuk hajatan ini. Memang, proses-proses pemilihan guna anugerah budaya 2018 ini tidak banyak dapat diberitahukan langsung kepada pastor Leo, berhubung karena email beliau ganti email ketika sedang cuti di Belanda, serta hanya 4 hari sebelum acara ini berlangsung, ia kembali dari cutinya.

Indonesia Tetap Ramah Seperti Dahulu

Tampak pula di waktu-waktu jeda acara anugerah budaya itu, Pastor Leo beberapa kali diwawancarai awak media, baik televisi, media cetak maupun media online dan selalu pula didekati penerima-penerima anugerah budaya maupun para pendampingnya. Mereka kelihatan cepat akrab. Kesederhanaan serta ketulusan hati pastor ini tampaknya merupakan bagian dari kharismanya, dan hal itu laksana magnet menarik banyak orang mendekatinya. Beberapa kali ia berdalih agar menanyakan orang yang mendampinginya mengikuti acara ini, namun mereka dengan tetap dengan sabar menunggu gilirannya berbicara langsung dengan sang pastor.

“Saya sangat senang dengan penghargaan ini. Walaupun ada harapan sebelum datang siapa tahu penghargaan langsung diberikan oleh Presiden dan saya juga berharap kalau dalam kesempatan ini dapat berjumpa dengan Romo Frans Magnis Suseso yang disebut pada tahun ini menerima anugerah Mahaputra di bidang budaya. Kalaupun penghargaan ini disampaikan oleh Menteri dan saya tidak bertemu dan tidak bisa bercakap-cakap dengan Romo Magnis pada kesempatan ini, tapi semuanya juga sangat berkesan bagi saya. Saya bisa bertemu dengan banyak orang yang mempunyai kecintaan yang sama terhadap budaya. Mereka semua ramah-ramah dan sangat baik, itu pun sudah cukup membuat saya sungguh bergembira”. Kata Pastor Leo Joosten.

“Ternyata dari perjumpaan ini juga, kesan buruk yang kita dapat dari media selama ini perihal situasi di Indonesia akhir-akhir ini tidak sesungguhnya seperti itu yang ditampilkan. Dari setiap sesinya acara ini saya merasakan Indonesia tetap seperti dulu, ramah dan kental adat budayanya. Orang-orang yang berbeda agama, berbeda latar belakang suku dan budaya datang dan berbincang hangat serta meminta berfoto dengan saya. Mereka menyapa saya, Romo terus.” imbuh Pastor Leo Joosten.

“Saya kira dua penghargaan besar telah saya terima, sudahlah cukup. Semoga pada kesempatan lain di masa datang semoga muncul orang-orang lain yang telah termotivasi dan dengan sabar bersedia menekuni bidang yang sepi dengan sungguh-sungguh.” harap pastor penerima Penghargaan Sastra Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage Bandung 2015 tersebut.

Betlehem Ketaren

Jansudin Saragih

Carpe diem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *