Mengenang Kepergian Sosok Uskup Sibolga

3,433 total views, 4 views today

SELAMAT JALAN MONSIGNOR TERCINTA!

Rasanya Terlalu Cepat
Semua yang datang melayat Mgr. Ludovicus Simanullang OFMCap. mengungkapkan, rasanya beliau terlalu cepat pergi. Dari sisi kemanusiaan memang benar. Bahkan batasan usia tujuh puluh tahun atau delapan puluh jika kuat, yang disebut dalam Mzr 90:10, belum terpenuhi: baru memasuki usia ke-64 (Sogar, 23 April 1955) dan usia episkopat ke-12 (Sibolga, 20 Mei 2007). Namun makna hidup tidak terletak pada panjang pendeknya usia, seperti tertulis, “Usia lanjut adalah terhormat bukan karena waktunya panjang dan bukan karena tahunnya berjumlah banyak” (Keb 4:8).
Anak kelima dari sembilan bersaudara: tiga perempuan dan enam laki-laki, ini seolah-olah tidak sabar menunggu lebih lama lagi untuk menggabungkan diri dengan dua abang dan dua ito yang sudah lebih dulu menghadap Sang Pencipta, mengikuti jejak ayahanda: Paulinus Paunsol Simanullang (gelar Op. Polo Doli), yang meninggal tahun 1988 tanpa disaksikan beliau karena baru pergi ke Roma untuk studi. Sebenarnya di saat beliau berangkat ke Roma, ayahanda sudah dalam keadaan sakit. Namun sang ayah meneguhkan hati anaknya agar berangkat dengan tenang sesuai dengan rencana Ordo Kapusin yang mengutusnya untuk studi. Sang ayah rela meskipun harus meninggal tanpa disaksikan anak terkasihnya. Benar saja. Baru beberapa bulan di Roma, sang ayah menggabungkan diri kembali dengan sang ibunda: Tiolina br Tinambunan, yang wafat pada tahun kelahiran bapa uskup.

Pemimpin Yang Visioner

Setelah tahbisan episkopat oleh Mgr. Leopoldo Girelli, duta Vatikan untuk Indonesia, di Sibolga, 20 Mei 2007, Mgr. Ludovicus berpikir keras bagaimana melanjutkan karya pastoral yang telah dibangun dengan baik oleh para missionaris dan uskup pendahulu. Dua tahun setelah efektif menggembala, beliau mengundang sinode, yang didahului suatu penelitian serius mengenai keadaan sosio-ekonomis umat. Analisis sosial (ansos) yang memakan banyak tenaga dan biaya diadakan demi membangun pelayanan dan karya pastoral yang relevan sesuai perkembangan zaman. Sinode diadakan di Kompleks LPTK Mela, Sibolga, 12-16 Nopember 2009. Lahirlah visi yang menjadi motto ke depan, yakni: Mandiri, Solider dan Membebaskan. Rencana Strategi (Renstra) Pastoral disusun, kemudian komisi-komisi dan biro ditata ulang agar dapat menjawab Renstra yang telah digariskan secara baru itu.
Memasuki windu kedua episkopatnya, Sinode kedua diadakan di Gunungsitoli, 16-21 Juli 2015. Pelaksanaan Renstra Pastoral yang digariskan pada Sinode Pertama dievaluasi, Renstra selanjutnya dirumuskan. Pada sinode kedua ini, mengikuti model Gereja Perdana, Komunitas Basis Gerejawi mendapat perhatian serius. Untuk itu fasilitator-fasilitator dalam pelbagai bidang (katekese, Kitab Suci, Liturgi, analisis sosial, dsb.) disiapkan untuk setiap paroki.

Aku Telah Mengakhiri Pertandingan
Crux Spes Unica (=Salib Satu-satunya Harapan) adalah motto sang gembala yang sederhana ini. Memang dari masa bayinya, beliau telah dihadapkan dengan salib: kehilangan ibu yang melahirkan. Memang meskipun bayi yang diberi nama Pardame Lucius Simanullang ini kehilangan ibu, ia sama sekali tidak kehilangan kasih sayang, karena diasuh dengan sangat baik dan penuh kasih sayang oleh kakak kandungnya, Eleksia br Manullang, sampai ibu pengganti, yang adalah maen kandung dari mama yang melahirkan, datang. Dengan itu si Pardame sungguh tidak kehilangan kasih sayang seorang ibu. Tuhan berkenan mengganjari mereka berdua dengan pelayanan terakhir dari uskup yang mereka asuh semasa bayi: misa requiem dan pemakaman; sang kakak sekitar dua tahun lalu di Sihorbo, sedangkan untuk ibunda di Siramiramian, 17 September 2017.

Kamis dini hari, 20 September 2018, Mgr. Ludovicus Simanullang OFMCap. wafat di RS St. Elisabet, Medan. Lima perayaan Ekaristi diadakan di sekeliling jenazah beliau: Kamis pagi, Ekaristi pemberangkatan dari RS St. Elisabet; Kamis siang di STFT St. Yohanes, Pematangsiantar; Jumat dan Sabtu, masing-masing pukul 17.00 di gereja Katedral St. Theresia Liseaux, Sibolga, di mana beliau disemayamkan, serta Misa sekaligus pemakaman di Kompleks Seminari Menengah St. Petrus, Aektolang, Minggu, 23 September 2018, pk 14.30. Misa hari Jumat dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono (Uskup Tanjungkarang) didampingi oleh Mgr. Martinus Situmorang OFMCap. (Uskup Padang) dan Mgr. Antonius Bunyamin OSC (Uskup Bandung) serta semua imam yang hadir; Misa hari Sabtu dipimpin oleh Mgr. Aloysius Murwito OFM (Uskup Agats) didampingi oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono dan semua imam yang hadir, sedangkan Misa hari Minggu dan Pemakaman dipimpin oleh Mgr. Anicetus Sinaga OFMCap. (Uskup Agung Medan) yang didampingi oleh Mgr. Petrus Timang (Uskup Banjarmasin), Mgr. Nicolaus Adi Saputro MSC (Uskup Agung Merauke), Mgr. Aloysius Murwito OFM, Mgr. Samuel Sidin OFMCap. (Uskup Sintang) dan Mgr. Yohanes Harus Yuwono, serta puluhan imam yang hadir dari pelbagai keuskupan.

Mangondasi (=membunyikan gondang sabangunan) lazim dalam memberangkatkan seorang yang sudah saur matua: lanjut usia dan keturunan sudah berhasil. Walaupun kepergian bapa uskup tercinta benar masih menggoreskan kesedihan amat mendalam, namun sebagai pemimpin tertinggi keuskupan, beliau mesti diberangkatkan dengan sangat terhormat. Maka acara mangondasi dibuat dengan penyesuaian seperlunya. Kelompok pargonsi dari Sugasuga mengiringi acara pasahat ulos parpudi (saput) dari tulang Marga Tinambunan, yang dipandu oleh Op. Rindu Tambunan. Dengan ini semua, Mgr. Ludovicus Simanullang OFMCap. sekarang bersama Rasul Paulus dapat berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran…” (2Tim 4:7-8). Bonifasius Simanullang OFMCap. (Tulisan yang sama juga dimuat dalam Menjemaat Edisi Oktober 2018)

Jansudin Saragih

Carpe diem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *