PASTOR LEO JOOSTEN OFM CAP: SAYA TAK PERNAH BOSAN MENULIS

1,192 total views, 1 views today

Komsoskam.com – Sosok Pastor Leo Joosten, OFM Cap umumnya dikenal atas upayanya dalam pembangunan gereja inkulturatif, yakni di Paroki St. Mikael – Pangururan dan Paroki St. Fransiskus Assisi – Berastagi. Namun Imam Kapusin asal Negeri Kincir Angin ini juga dikagumi atas kegemaran dalam dunia menulis. Sebanyak 23 buku telah lahir dari ‘tangan dingin-nya’.

“Saya mulai tekun menulis buku sejak melayani sebagai Parochus di Pangururan, karena ada pertanyaan dari para turis yang berkunjung untuk melihat gereja inkulturatif di Pangururan dan menikmati pemandangan Danau Toba. Sampai sekarang, saya tak pernah bosan menulis,” akunya dalam satu bincang dengan Katolikana di Berastagi, Sabtu (21 November 2020). Dia mengaku dalam waktu dekat akan menulis sebuah buku berkenaan pesta jubileum salah satu paroki di Keuskupan Agung Medan.

Rekan Imam di Paroki Pangururan, (saat itu) Pastor Elias Sembiring, OFM Cap juga turut memberi dukungan. Buku mengenai budaya Batak dan gereja inkulturasi Pangururan tersebut lalu mendapat apresiasi besar. “Bahkan sempat dicetak dalam bahasa Inggris dan Jepang, karena jumlah peminat yang banyak,” tutur Pastor yang baru saja menapak Momen Emas Imamat (50 tahun).

Usai menulis buku mengenai budaya Batak, Pastor Leo lalu menerjemahkan beberapa buku berbahasa Belanda yang ditulis oleh Gentilis Aster (nama pena seorang Imam Kapusin asal Belanda). “Pastor Aster adalah penulis berbakat. Dia menuliskan dengan baik karya misionaris Kapusin di Sumatera dan Kalimantan,” terangnya.

Baca juga  Kunci Produktif Selama Bekerja dan Belajar di Rumah

Kamus Batak Toba  – Bahasa Indonesia dan Kamus Karo – Bahasa Indonesia adalah dua buku paling berkesan dalam benak Pastor Leo. “Saat mengerjakan Kamus Bahasa Indonesia – Batak, saya sekedar menerjemahkan Kamus Jerman – Batak yang telah dibuat seorang pendeta misionaris HKBP asal Jerman, Johanes Warneck,” katanya. “Kamus Batak Toba Indonesia ini diselesaikan oleh Warneck pada tahun 1905, ketika bertugas di Sipoholon (Sumatera Utara).”

Pastor Leo mengaku, Kamus Karo – Bahasa Indonesia adalah buku yang paling lama dia kerjakan di antara semua karya bukunya yang lain. “Hampir 7 tahun, saya mengerjakan Kamus Karo – Bahasa Indonesia sebab sering terganjal oleh kesibukan sebagai Pastor Paroki di Kabanjahe. Saking lamanya saya sempat merasa bosan, dan tergelitik untuk membatalkan saja pekerjaan kamus ini.”

Namun, keputusan itu urung dia lakukan karena nasehat dari sesama saudara Imam Kapusin. “Waktu itu seorang saudara Kapusin, Pastor Eduard Verrijt, OFM.Cap berkata: “Asal ditulis dengan baik dan teliti, semuanya akan berharga itu”,” ucapnya.

 

Verba Volant, Scripta Manent

Pastor Leo sering membuat catatan yang kelak bisa menjadi bahan untuk buku. Oleh sebab itu dirinya sering membawa kertas buram dan pena dalam saku . Kebiasaan sederhana ini telah dilakukan Pastor Leonardus Egidius Joosten OFMCap sejak Maret 1971, kala menjalankan misi di Paroki St Paulus Onanrunggu, Samosir.

Baca juga  Kelas Literasi Pacu Novis KSSY Hasilkan Karya Tulis

“Saya meyakini kata mutiara ‘verba volant, scripta manent‘; bahwasanya, hasil karya tulis akan selalu abadi. Kita juga mendapatinya dari sabda Allah yang ditulis oleh para Nabi dan Rasul. Jika mereka tidak membuat tulisan-tulisan dalam Alkitab, bagaimana kita bisa mengenal Tuhan?” terangnya.

Pendiri Museum Batak dan Museum Pusaka Karo tersebut juga menekankan, pentingnya kebiasaan membaca agar bisa mahir menulis. “Generasi muda sekarang lebih sering menghabiskan waktu untuk bermain gawai,” katanya. “Saya baru saja mendapat kabar dari keluarga di Belanda, bahwa di sana para pelajar diwajibkan untuk membaca buku dalam waktu tertentu selama jam sekolah. Itu adalah kebijakan yang bagus agar para anak muda tidak hanya memainkan hape saja.”

Dalam momen Pesta Emas Imamat, Pastor Leo menerbitkan buku teranyar tentang riwayat hidup dan karya misi di Sumatera. “Buku ini dibuat dari sejumlah surat yang saya kirim kepada keluarga di Belanda. Karena masukan dari beberapa saudara Kapusin, buku ini dibuat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Saya senang bahwa banyak yang memberi apresiasi atas buku ini,” ujarnya. “Bahkan keluarga di Belanda menyampaikan, melalui buku ini lah mereka dapat dengan jelas mengetahui semua karya saya selama misi di Sumatera.”

 

oleh: Ananta Bangun

Facebook Comments

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply