NON MI PIACE

 3,036 total views,  2 views today

RP. Benny Manurung, OFMCap

Arti ungkapan bahasa Italia NON MI PIACE secara sederhana berarti: aku tidak suka atau aku tidak menyukainya. Kalau kita bedah sedikit struktur kalimat itu, bentuk “non mi piace” ini sebenarnya sangat aneh. Kalau dalam bahasa Indonesia kita biasa mengatakan: Aku tidak suka atau aku tidak menyukainya, subjek kalimatnya jelas yaitu kata yang langsung berada di depan: Aku. Sama seperti dalam bahasa Inggris kita katakan: I don’t like. Subjek kalimat itu juga secara langsung adalah kata pertama dalam susunan kalimat itu yakni I atau aku. Sementara dalam struktur bahasa Italia “non mi piace”; mi (bagiku; padaku) adalah objek penyerta, dan piace (menyenangkan, menyukai) adalah kata kerja yang mengandaikan ada orang/hal yang bertindak sebagai subjek sehingga cara menterjemahkannya begini: orang/hal itu tidak menyukakan atau tidak menyenangkan bagiku. Kalau dalam bahasa Indonesia “aku tidak suka/menyukai” dan bahasa Inggris: “I don’t like” urutan logika bahasa kita bergerak normal dari awal ke akhir yakni dari aku/I lalu kata kerja. Sementara dalam bahasa Italia arah terjemahan itu berawal dari sesuatu hal di luar diriku yang kusukai dan tak kusukai: hal itu atau orang itu tidak menyukakan bagiku. Inilah salah satu alasan mengapa logika setiap bahasa itu berbeda. Ini masih salah satu dari sekian contoh aplikasi dari kekhasan logika bahasa, sementara ketika kita terjun ke bahasa lain, kita harus memasukkan diri kita ke dalam logika bahasa itu. Karena itulah, seorang penerjemah bahasa yang baik adalah ketika dia berhasil masuk ke dalam konteks dan kultur di mana bahasa itu lahir, supaya makna sejati yang dikandung oleh bahasa yang bersangkutan pada akhirnya meng-kata-kan dirinya yang sebenarnya (bdk. filsuf Gadamer).

Namun, bukan itulah yang menjadi pokok pembahasan tulisan ini. Secara pribadi, ungkapan “non mi piace” adalah kesan pertama yang kualami di Italia yang lebih jauh justru membangkitkan kesadaran apa artinya sebuah pilihan. Di tempat ini, kalau orang-orang menyukai sesuatu akan sangat jamak kita dengar orang-orang mengatakan: mi piace questo/quello (aku suka ini/itu). Atau, kalau anda tidak suka cukup katakan saja: non mi piace questo/quello (aku tidak suka ini/itu). Dan, orang-orang di sekitarmu akan sangat menghormati pilihanmu. Anda tidak perlu takut dipersalahkan: kenapa? Atau tak perlu juga berdalih seperti biasa: ya, aku suka juga itu (padahal sebenarnya tidak). Karena soal rasa tidak perlu ada perdebatan. Bahasa Latin bahkan lebih menohok membahasakannya: de gustibus non disputandum est (soal rasa tak perlu diperdebatkan). Pilihan adalah sebuah previlege (dan hak) bagi seorang manusia dalam kapasitas eksistensinya yang tertinggi. Manusia mencapai taraf kedewasan ketika ia mampu memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Pernah suatu ketika saya tinggal di salah satu komunitas kapusin di tempat ini dimana para saudara di situ adalah orang-orang italia. Suatu ketika mereka meminta saya untuk memasak makanan khas Indonesia. Di samping tidak berbakat, saya juga kurang berminat memasak. Memang di era teknologi sekarang semua bisa dipelajari lewat internet termasuk dalam hal memasak. Hal lain yang kupikirkan ialah keterbatasan bahasa kalau mau spesifik bertanya untuk hal-hal yang dibutuhkan (bumbu-bumbu, instrumen masak, selera, dll). Namun, ini bukan juga alasan yang sangat dapat diterima. Hal utama ialah soal minat tadi. Itu saja saya katakan waktu itu: non mi piace a cucinare (saya tidak suka memasak). Dan, semua saudara waktu itu sangat menghormati pilihanku. Di pikiran mereka, ya, dia tidak berminat memasak. Bayangkan seandainya hal serupa saya katakan di Indonesia, bisa saja teman-teman justru menertawakanku, mengoceh, atau bahkan menghakimi: Apakah cukup hanya berkata saya tidak suka? Boleh rupanya suka-suka?

Barangkali Anda sedang berpikir mengenai individualisme yang berkembang subur di Eropa. Sekilas memang ada kesan hal itu beda-beda tipis saja: ini kumau, itu tidak. Tetapi saya mau menekankan bahwa menghormati pribadi orang lain adalah salah satu ciri sebuah peradaban dan kebudayaan yang lebih positif dari keberadaan kita sebagai manusia merdeka. Memang tidak untuk semua hal juga non mi piace bisa dimaklumi sebagai disposisi internal manusiawi, apalagi kalau sudah menyangkut skop moralitas. Ada kadar tertentu ketika intervensi dibutuhkan pada level koreksi atau negasi.

Setiap kultur mempunyai sisi ‘baik’ dan ‘buruk’: perhatikanlah tanda petik itu, baik dan buruk di sini bukan soal prasangka (prejudice) moral, yang satu positif sementara yang lain negatif. Di benak kita, sekurang-kurangnya kita insafi bahwa Dunia Timur menekankan kebersamaan dan Dunia Barat menonjolkan kebebasan. Namun, tidak bisa juga kita katakan bahwa Dunia Timur itu lebih positif dari Dunia Barat. Berkaitan dengan kultur, kita sama-sama menghidupi komitmen tertentu dan menghayati nilai-nilai dalam skala prioritas, meskipun kecenderungan tertentu yang lahir dari masing-masing kultur itu tetap tidak juga dapat disangkal. Hanya saya mau menekankan bahwa budaya kita juga bisa kita refleksikan sekaligus kritisi.

Saya ingat waktu saya berada di Seminari Menengah, saya menjadi bahan bullying teman-teman karena saya berbeda dari yang lain. Saya memilih tidak jalan-jalan ke kota dan lebih memilih untuk belajar secara pribadi di kelas. Padahal waktu itu memang karena uang tidak ada, tetapi saya bilang ke teman-teman karena saya suka belajar di waktu senggang. Meskipun, kadar pilihan itu rendah (terpaksa oleh keadaan), hal seperti: mentertawakan, menghina, menghakimi sebagaimana kualami saat itu, hampir tak pernah saya temukan di tempat ini apalagi kalau itu menyangkut pilihan. Pilihan tetap personal dan privat. Agak aneh kalau di sini Anda mengusik-usik (bahasa orang muda: kepo) dunia privat orang lain: jangan pernah menanyakan berapa umur (apalagi untuk perempuan), jangan pernah bertanya juga berapa gajimu kecuali kalau anda sudah sangat dekat dengan orang itu, jangan pernah bertanya apa agamanya karena iman adalah urusan personal dengan Tuhan, jangan merasa kecewa kalau orang lain tidak mau memberikan nomor kontak selular pribadi karena seketika diberinya itu berarti anda sudah dianggapnya masuk bagian privat dalam hidupnya, dll. Namun, ada benarnya juga sih sanggahan usil: terlalu banyak blok privat justru membuat hidup jadi kaku.

Bagi budaya kita bahkan hingga saat ini, seseorang berbeda dari yang lain dianggap seolah-olah ‘dosa’ karena lain dari yang lain, terkucil dari yang lain (sekelompok massa atau kumpulan). Meskipun sepele, hal ini ternyata berdampak juga bagi hidup beriman dan bahkan dalam panggilan hidup religius: apa arti sebuah pilihan. Apakah kita sungguh-sungguh berdoa atau pergi ke Gereja sungguh-sungguh didorong oleh motivasi pribadi yang murni untuk dekat dengan Tuhan? Jangan-jangan, aku ke Gereja karena intaian kontrol sosial yang ada di sekitarku: menghindari gunjingan orang lain. Meskipun, pada titik tertentu ada sisi baiknya juga. Dalam panggilan hidup religius juga hal ini menarik untuk dibahas. Cakupan mi piace dan non mi piace itu bisa Anda diterjemahkan sangat luas termasuk dalam hal motivasi dan kebebasan dalam memilih cara hidup ini. Pentingnya pilihan pribadi, filsuf Aristoteles bahkan mengaitkan sekat-sekat moralitas bertumbuh subur dalam sukma manusia justru ketika ia berani memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya itu.

Facebook Comments
Baca juga  “FRATELLI TUTTI” (Semua bersaudara)

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply