Menyingkap Figur Uskup Kornelius Sipayung, OFMCap. menurut Ayah-Ibunya

5,286 total views, 1 views today

Komsoskam.com – Simalungun– Pagi itu saya menuju Desa Bandar Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupten Simalungun tempat kelahiran Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Saya agak ragu rumah orang tua Uskup Agung tersebut, walaupun saya sering melintasi daerah ini. Akhirnya saya berhenti didepan satu toko menjual pupuk dan obat-obatan pertanian. Seseorang laki-laki kira-kira berumuran lima puluhan tahun lewat. Kakek menggunakan baju berkerah bergambarkan “Oppung Dolog”. “Pung mau bertanya.. rumah orangtua Uskup Kornelius Sipayung yang mana?” tanyaku seraya menjabat tangannya, namun oppung itu membalas dengan bahasa isyarat (bisu) sambil menggelengkan kepala lalu menunjuk ke toko sebelah saya parkir, mungkin dia bisu. Saya pun tidak perpanjang dan langsung ke toko tersebut untuk bertanya. Pemilik toko juga langsung mengatakan dan menghunjuk rumah tersebut tidak jauh dari tempat saya berhenti tadi.

Orangtua Uskup Kornelius Sipayung OFMCap (Fransiskus Hotman Sipayung – Hongmailim Rosa Tamsar (Purba)

Saya parkirkan sepeda motor saya di halaman rumah sederhana itu. Seorang ibu yang sudah tua saya temui dihalaman rumah berjalan-jalan dan seorang laki-laki hampir sebaya denganku hendak menyemprot sayuran. Ternyata kami hanya beda 2 tahun dan sempat pernah satu sekolah di SMA RK Van Duijn Hoven Saribu Dolog, dia adalah adik Uskup Kornelius Sipayung yang paling bungsu.  Ibu itu pun ku salam, “horas inang” sambil menjabat tangannya. “kurang saya kenal” balas ibu dengan berusaha kenal menatap saya. Aku pun memperkanlakan diriku dan mengatakan tujuanku. Kemudian Ibu itu mengajak saya masuk kerumah. “Masuk ma hubagas pah.. ijabu do bapa” ( masuk saja kedalam nak..dirumahnya bapak) kata ibu dengan ramah.  Saya  ketuk pintu dan bapak pun keluar dari kamar dan bertannya siapa saya. Saya pun langsung memperkenalkan diri serta mengatakan tujuan kedatangan saya. Bapak dari Uskup Kornelius Sipayung, Fransiskus H Sipayung (FHS) pun mempersilahkan duduk.

Kita  sebetulnya tidak sanggup jadi orang tua Uskup

Bapak FHS mengatakan “Kita tidak sanggup sebetulnya jadi orang tua Uskup, banyak kekurangan kita, kampung ini penuh noda dosa. Tidak sanggup saya rasa”, mengawali pembicaraan sembari bapak itu berlinang air mata, penuh haru dan bahagia membuat saya juga turut merasakan. Karena FHS tidak menyangka anaknya jadi uskup. “Kami selalu meneteskan air mata untuk menuliskan kenangan tentang Uskup ini. Awalnya saya tidak percaya beliau diangkat jadi Uskup. Sore itu anak laki-laki saya yang paling bungsu, adek dari Uskup Kornelius melihat di facebook banyak info tentang pengangkatan itu. Dia bercerita tapi saya tidak percaya. Baru  sesudah beliau menelpon kami perihal pengangkatanya, disitulah kami percaya, terharu, dan kami berdoa” ungkapnya lagi.

Nomor 3 Dari kiri, Kornelius sedang berliturgi di masa Natal

Kesederhanaan Keluarga

Uskup Agung Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. lahir dari keluarga yang sederhana, bapak pensiunan PNS sedangkan ibu hanya seorang petani.  “Dia lahir 26 Agustus 1970, pas jam sibuk orang- orang bekerja, kira-kira pukul 10:00 wib siang. Saya saat itu lagi sibuk “marharoan bolon”, (gotong royong gantian ke ladang orang). Dan mungkin ini juga membuat dia menjadi manusia kerja seperti program yang dicanangkan Presdiden Jokowi kerja.. kerja.. kerja.” Cerita FHS penuh semangat. “Kala pulang dari sekolah minggu dia selalu pergi keladang untuk memanen ubi atau apa yang bisa dipanen untuk dijual. Dia jarang bermain dengan seusianya. Sekolah minggu itu tidak boleh absen, saat Sekolah Dasar dan SMP dia lebih banyak berteman dengan perempuan”, tambah istri FHS ibu boru Purba Tanjung menimpali. Oppungnya juga rajin ke gereja jadi kami juga mengarahkan agar adek-adeknya ke gereja. Dia juga tidak mau malas-malasan, pulang sekolah langsung keladang dan saya membuat target yang harus mereka selesaikan. Jika tidak selesai tidak boleh bermain-main. Saya tidak pilih kasih mendidik mereka, saya mendidik dengan disiplin waktu. Jika ada pesta, saya telah membuat tugas kepada mereka. Jika tugas selesai terserah mereka. Uskup ini juga tidak mau nangis walaupun sakit, hanya air mata saja yang mengalir. Sesakit apapun yang dia alami dia tidak pernah memberitahukan kepada kami orangtuanya. Dia tidak mau membuat beban bagi orangtuanya. Dia baik sangat baik kepada adik-adiknya. Dia lah yang paling sulung dari  8 bersaudara, 5 laki-laki dan 3 perempuan. Dari lima laki-laki itu ada dua jadi imam, Uskup Mgr. Kornelius Sipayung  OFMCap. dan RP. Jonam sipayung OFMCap.

“Pengganti Uskup Pius Datubara OFMCap? ”

Waktu Kornelius kelas 2 SMP, saya membawanya ke Saribudolog untuk menemani saya meminta doa kepada Oppung Dolog untuk memberkati bibit sayur yang hendak ditanam diladang. Saya mau mencari pastor oppung dolog kala itu namun saya berjumpa dengan Uskup Mgr. A. G. Pius Datubara( kala itu). “Lao hudia ham ( mau kemana )” ? Uskup Pius bertanya sama saya ”mau menjumpai Oppung Dolog” sahut saya. lalu uskup pius berkata “Saya juga bisa mendokan” kata uskup Pius. “Ya boleh Oppung..terimkasih, lalu Uskup Pius  mendoakan bibit yang kami bawa. Selesai mendoakan bibit, Uskup menyapa sambil menepuk kaki Kornelius yang duduk disamping saya. “Apa cita-citamu anak ku? Kornelius menjawab dengan tenang “mau jadi Pastor Oppung”. Uskup pun berkata lagi  “Sangat baik itu.. biar ada nanti penggantiku” kata Uskup Pius Datubara. Kisah FHS mengenang beberapa puluh tahun silam

“Ujian-ujian yang kami lewati bersama Uskup ini selalu ada. Selesai tamat seminari menangah Pematang Siantar, walaupun rangkinya hanya  pas-pasan saat seminari. Kemudian dia memasuki masa Novisiat Kapusin di Parapat, saya dapat kabar dia akan keluar dari seorang mantan seminari yang pindah sekolah. Saya sangat terkejut dan penasaran, lalu kami bersama ibu berangkat ke Parapat untuk berjumpa dengan dia. Kami berbincang agak lama, namun dia hanya diam mendengarkan. Lalu datanglah seorang Pastor pembimbingnya bertanya” kapan jadi kaul perdanamu itu Kornelius”?. Kami pun terkejut, berarti tidak jadi keluar. Kami berterimakasih kepada Tuhan ternyata anak kami tidak jadi keluar.

Dayok Nabinatur

Kami selalu ingat ulang tahunnya, setiap ulang tahun kami selalu menyediakan “dayok nabintur/ ayam yang dipanggang” yang kami khusukan pada nya. Pernah dia sakit waktu diseminari karena main sepak bola, kakinya bengkak. Kami dapat kabar dari teman-temanya dan pas ulang tahunnya kami datang ke seminari. Lalu dia berkata “untuk apa nasiam (kalian) melihat saya lagi, saya sudah punya ibu dan bapak” mendengar itu hati kami sedih, tapi kami tak menunjukkan sikap sedih. Sesampai di kampung, kami menyadari dan teringat perkataan Yesus kepada Yusuf dan Maria yang mengatakan “mengapa kamu mencari aku? Tidak kah kamu tahu bahwa aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku”? Kisah yang begitu terharu dituturkan oleh Bapak FHS.

Masa tahbisan Diakonatnya  juga terbilang cepat, pada waktu itu masa Diakon nya di Kabanjahe. Hanya 4 bulan sesudah dia tahbisan diakonat, dia sudah ditahbis jadi Imam bersama dengan para Imam Conventual di Delitua. Dari teman seangkatannya Kapusin Medan, hanya dia yang ditahbis jadi imam. “Waktu dia ditahbis jadi pastor dalam hatiku apa salahku kepada anak ku” kenang ibu boru Purba. Bapak FHS juga berkisah banyak pada saat mereka pergi hendak ke Roma, untuk berjumpa dengan Uskup Kornelius yang saat itu study di Roma.

Tahbisan Imamat bersama Imam Conventual

Sungguh… Anaknya, Kornelius Menjadi Uskup

Ibu boru Purba mengatakan pernah terbersit dalam bayangannya, anaknya akan menjadi uskup tapi dalam hatinya selalu berkata “ahh..gak mungkin”. “Hati saya sangat senang, bangga, terharu mendengar berita bahwa Kornelius diangkat jadi Uskup Agung Medan. Uskup ini tidak pernah melawan, selalu mendengarkan perkataan, dan taat pada kami orangtuanya. Pernah saya mencubit dia tapi dia hanya diam tidak menangis, saya merasa bersalah saat itu” cerita Ibu bor Purba sambil meneteskan air mata. Ibu boru Purba berhenti sejenek bercerita mengingat kenangan itu. Uskup juga pandai “mangarsik ikan“, karena mulai Sekolah Dasar saya sudah mengajari dia “mangarsik”. Bila libur sekolah, jika pulang kekampung, pertama sekali yang dia periksa adalah makana yang didapur. Lalu dia akan mengarsik ikan.  Dia sangat rapi, pembersih, dirumahpun tidak pernah berkelahi, jika ada tamu yang datang mereka selalu pengertian dan bermain keluar”.

Hal senanda juga dituturkan oleh adik Uskup Kornelius yang nomor lima, Liemsiswati Sipayung. “Dari kecil kami sudah di didik orangtua disiplin yang tinggi. Kami  semua adik-adiknya juga merasakan itu. Beliau punya adik-adik yang banyak, membuat beliau juga punya tanggungjawab yang besar untuk melindungi adik adiknya. Gimana tidak, semasa beliau masih duduk di bangku SD dan SMP, Bapak tidak tinggal bersama kami karena tempat bapak mengajar di Sordang Raya, Mariah Nagur Kecamatan Tapian Dolog, Simalungun. Bapak  hanya pulang sesekali. Ibu kami orangnya pekerja keras. Anak- anak harus disiplin waktu, semasa dulu Pukul 04:00 Wib abang Kornelius sudah berangkat keladang bersama ibu untuk menyemprot tanaman. Bila sudah pukul 06:00 Wib  beliau baru di suruh pulang karena harus sekolah. Beliau sekolah di Saribu Dolog kurang lebih 3 km dari kampung tempat tinggal kami, Bandar Hinalang. Dulu angkutan umum pun belum ada, jadi beliau harus lari-lari ke sekolah supaya tidak terlambat. Apalagi bawa adik-adiknya, kadang suka pelan jalannya, karena ada manjanya dulu kakak kami Elisabet Sipayung. Saya adik beliau yang no 5 dari 8 bersaudara”. Cerita Liemsiswati Sipayung seolah bernostalgia dengan masa lalu saat masa-masa bersama Uskup.

Liem Siswati Sipayung, adik perempuan nomor 5

Pada bulan Maret 2016 saya di vonis dokter gagal ginjal dan harus cuci darah karena itulah jalan satu satunya untuk bisa sehat. Sungguh pergumulan dalam keluarga kami, suami dan anak kami yang satu tinggal di kampung.  Sedangkan saya dengan si bungsu tinggal bersama beliau di Nagahuta. Di tempat itulah saya merasakan kasih seorang abang yang luar biasa. Dia pandai membagi waktunya, dia yg mengantar dan jemput saya di waktunya yang begitu padat urusan biara kalaupun dia tidak berada di tempat dia menitipkan saya ke pastor yang lain. Tambah Liemsiswati Sipayung penuh haru.

Bapak dan Ibunda Uskup Agung Korenelius mengharapkan, kiranya uskup kelak sehat-sehat mengerjakan tugas kegembalaannya sebagai Uskup Agung Medan. Besar harapan kami, dia juga sama seperti Uskup Agung seniornya yang dua Mgr. A. G. Pius Datubara dan Mgr. Anicettus B Sinaga OFMCap.  OFMCap. sampai beliau Emeritus.

Andi Hotmartuah Girsang

Jansudin Saragih

"Carpe diem" | Youtube : 2share4life

One thought on “Menyingkap Figur Uskup Kornelius Sipayung, OFMCap. menurut Ayah-Ibunya

  • January 17, 2019 at 1:55 pm
    Permalink

    Pilihan Tuhan selalu tepat. Mgr.Kornelius Sipayung pasti menggembalakan umat Katholik di KAM agar menjadi umat yang terberkati. Proficiat Monsigneur….

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *