Menghitung Potensi Bank Tanpa Cabang

88 total views, 1 views today

Beberapa waktu yang lalu Indonesia menerapkan kebijakan konsep branchless banking untuk meningkatkan akses warga ke dunia perbankan, khususnya bagi mereka yang berada di pedesaan, jauh dari kantor bank. Walaupun dapat dikatakan terlambat, branchless banking akan sangat bermanfaat mengakomodir warga yang belum tersentuh layanan perbankan secara mudah dengan memanfaatkan telepon selular. Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA, BPTN dan Bank Sinar Harapan Bali adalah beberapa bank yang menjadi peserta program ini.

Branchless banking juga diselenggarakan dalam rangka program literasi keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK menargetkan penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang melek keuangan bertambah menjadi 3,1 juta jiwa hingga akhir tahun 2015. Jumlah itu setara dengan 2% dari jumlah populasi penduduk usia produktif sebanyak 157 juta jiwa. Hal tersebut menjadi target yang ditetapkan OJK guna meningkatkan literasi keuangan.

Sebelumnya, target utama OJK pada 2014 adalah ibu-ibu rumah tangga dan UMKM. Sedangkan pada tahun ini, OJK juga akan melaksanakan berbagai program edukasi yang menyentuh semua lapisan masyarakat di daerah pelosok. Sementara itu khusus di bidang perbankan, hasil penelitian Bank Dunia pada 2010 mengungkapkan berkisar 49% dari populasi Indonesia belum terlayani jasa bank. Negara-negara lain seperti Pakistan 85%, Filipina 75%, China 60% dan India 55%. Hasil riset OJK pada tahun 2013, hanya 21% masyarakat Indonesia yang paham terhadap produk dan jasa keuangan itu sendiri. Berbanding negara jiran, Filipina 27%, Malaysia 66%, Thailand 73%, dan Singapura 98%.

Selama ini warga pedesaan merasa untuk menjadi nasabah bank perlu banyak duit dan dengan peraturan rumit dan membingungkan. Belum lagi jarak dari tempat tinggal mereka menuju bank terdekat cukup jauh, sebab mayoritas bank berada di daerah perkotaan padat.

Di sisi lainnya, secara bisnis bank yang ingin membangun kantor cabang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dari hitung-hitungan bank, sebuah cabang baru memerlukan dana sekitar Rp1,5 miliar, dengan biaya per bulan Rp900 juta. Pertimbangan utama bagi satu cabang adalah bahwa di wilayah itu harus memiliki potensi transaksi yang tinggi. Maka, tidak heran di wilayah desa-desa yang jauh untuk melakukan transaksi, warga masih mengandalkan transaksi tunai, khususnya bagi pelaku bisnis usaha kecil menengah (UKM). Padahal seperti diketahui jumlah UKM di Indonesi sangatlah banyak dengan nilai ekonomi yang tinggi. Ia akan semakin tinggi, jikalau ditunjang oleh sistem pembayaran yang lebih efisien dan cepat. Terlebih lagi jikalau pihak UKM dan masyarakat biasa menggunakan layanan perbankan, tentu saja berpeluang mendapatkan pinjaman mikro untuk menunjang kebutuhan bisnis mereka ataupun untuk kemudahan mendapatkan KPR. Dalam hitung-hitungan Bank Indonesia, transaksi keuangan masyarakat kelas bawah mencapai Rp300 triliun setiap harinya!

Nah, pendekatan branchless banking memanfaatkan tingkat tinggi penetrasi telepon selular di desa-desa. Dengan mengoptimalkan perangkat itu, warga desa bisa melakukan transaksi sebagai nasabah. Mereka dapat menyetor dan mengambil uang layaknya menggunakan ATM. Dalam hal ini nasabah melakukan transaksi bersama agen yang telah ditunjuk dan dilatih oleh masing-masing bank peserta branchless banking. Setiap agen tersertifikasi tentunya harus melalui serangkaian ujian yang tidak mudah, karena ini urusannya mengelola duit masyarakat, apalagi sebagai seoarang agen dia mendapatkan imbalan berupa komisi. Di sisi ini, menjadi agen akan menjadi peluang mendapatkan pekerjaan di desa.

Peningkatan literasi keuangan melalui branchless banking akan mengubah pola pikir orang Indonesia agar memaksimalkan potensi menyimpan atau menggunakan layanan transaksi di bank untuk memaksimalkan nilai ekonomi uangnya dengan melakukan bisnis dan membuka usaha penting lainnya. Dengan kata lain, uang tidak semestinya di-spending begitu saja, tetapi diputar kembali atau meminjam uang dari bank dengan risiko minim. Menggunakan layanan perbankan sejatinya bukan hanya menyimpan uang kita di lembaga keuangan itu dalam bentuk tabungan. Bank menjual produk investasi seperti deposito, reksadana, jual beli saham dan lainnya. Produk itu memberikan peluang keuangan lebih besar, daripada sekadar mengharapkan bunga tabungan yang sangat kecil. Dengan memahami fungsi bank dan beragam produknya, maka uang di tangan akan lebih bernilai dan memberikan manfaat yang jauh lebih besar guna membiayai pendidikan anak, membeli rumah dan sejumlah kebutuhan lainnya.

VINSENSIUS G.K SITEPU | be_web2001@yahoo.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *