KASIH MEROBOHKAN TEMBOK PEMISAH DALAM PERBEDAAN

276 total views, 1 views today

Malu Tapi Bersyukur

Sekitar satu tahun yang lalu, saya mendapat tugas perutusan di wilayah Tangerang-Banten yang mayoritas muslim. Situasi komunitas yang jauh dari tempat karya membiasakan kami pergi atau pulang dengan naik angkot maupun ojek. Tetapi ada kalanya kami jalan kaki dengan maksud sekalian olah raga. Dalam perjalanan menelusuri lorong-lorong perkampungan, kami berjumpa dan menyapa masyarakat sekitar. Mereka menyambut sapaan kami dengan ramah.

Tetapi satu hal yang tak pernah lupa mereka tanya ialah, “ibu Bernadet/ Sr. Bernadet sekarang dimana? suster itu dulu sangat baik. Dia sering berkunjung ke rumah-rumah masyarakat. Ibu bernadet ramah dan obat-obatnya juga murah”.

Pengalaman lain, ketika saya naik ojek. Bapak tukang ojek itu pun tidak mau menerima ongkos dari saya. Lantas katanya,  itu sebagai ucapan terimakasihnya kepada Sr. Bernadet yang pernah menolong keluarganya dulu ketika sakit.

“Sekarang suster-susternya sudah bedayah, ga ada lagi yang saya kenal. Dulu ibu Bernadet sering berkunjung ke rumah-rumah masyarakat, sangat akrab dengan kami”, tandasnya dengan wajah apa adanya.

Mendengar pernyataan itu, sebenarnya hatiku malu sebab tersirat nada membandingkan seakan suster-suster yang sekarang tidak sebaik dan seramah sosok suster yang mereka rindukan itu. Akan tetapi saya juga turut bersyukur dan kagum dengan kehadiran dan pelayanan suster senior kami yang pernah menabur kasih di hati masyarakat yang mayoritas muslim itu.

Peristiwa sederhana di atas mengingatkan saya dengan pepatah yang mengatakan “Kenal maka sayang, tak kenal maka tak sayang”. Akan tetapi untuk sampai saling kenal tentunya tidak lepas dari perjumpaan. “Perjumpaan” tak jarang akhirnya mengubah cara pandang kita terhadap seseorang. Perjumpaan  juga membuat kita lebih obyektif dalam menilai dan mengenal orang lain.

 

Terinspirasi dari sosok St. Fransiskus Asisi

Dari pengalaman di atas, saya teringat dengan sosok St. Fransiskus dari Assisi. Kisahnya berdialog dengan kaum muslimin sangat unik. Dikisahkan bahwa, Fransiskus yang sedang melanjutkan perjalanannya dari Damietta, tanpa senjata, menuju perkemahan Sultan dengan tujuan ingin menjalin perdamaian dengan Sultan. Namun, di tengah jalan Fransiskus ditangkap dan dibawa ke hadapan Sultan Melek-el-Kamil. Sementara itu, Fransiskus melangkah maju dengan pasti dan matanya tetap memandang dengan terbuka ke arah mata yang tajam sang Sultan. Fransiskus gemetar ketika wajah Sultan itu merengut. Namun ketika Fransiskus mendekat, ekspresi Sultan perlahan berubah menjadi suatu pandangan lembut menyenangkan. Singkat kata, Sultan tampak terpesona dengan sosok Fransiskus, hingga akhirnya terjadi relasi yang sangat baik.

Baca juga  Rekoleksi Asrama Sehat Putera dan Puteri Tiga Binanga

Dialog Fransiskus dan Sultan merupakan sebuah perjumpaan antara dua kepribadian yang saling menghormati. Pertemuan antar kedua orang tersebut menjadi awal pertemuan roh, satu penghormatan timbal balik akan identitas orang lain, tak peduli apapun keyakinan religius yang dimiliki orang lain. Penghormatan seperti ini memiliki arti bahwa apa yang muncul dalam pertemuan tersebut bukanlah sikap permusuhan yang arogan juga bukan sikap terlalu merendahkan diri. Melalui peristiwa ini, Fransiskus semakin mengenal agama Islam. Ia mampu melihat kebaikan dalam agama lain/Islam. Namun bukan berarti ia goyah dalam imannya. Sebaliknya, justru dengan mengenal agama Islam, ia semakin giat untuk mendalami imannya.

Pribadi Fransiskus yang mengesankan itu memang tidak langsung memetik buahnya. Misinya untuk mengubah keyakinan Sri Sultan tidak tercapai, dan perdamaian antara orang Kristen dan Islam yang begitu ia perjuangkan dalam situasi menegangkan saat itu tidak tercapai juga. Bahkan gagasan barunya tentang perang salib tanpa pedang tidak terwujud. Tetapi meskipun Sultan tetap seorang muslim yang taat, ia memiliki rasa cinta terhadap Fransiskus – suatu rasa cinta yang konon membuatnya berkata bahwa “Jika saja ada lebih banyak orang Kristen seperti Fransiskus, ia mempertimbangkan untuk juga menjadi Kristen”. Bagi kita umat kristiani, pernyataan Sri sultan ini tentu menjadi sebuah tantangan sekaligus juga peluang dalam pewartaan dan perwujudan iman kita.

live in di Pesantren

St. Fransiskus Asisi, dengan semangat kasih bermisi dan berdialog

Gereja melalui  Ensiklik Paus Paulus VI, 1964 Ecclesiam Suam menyatakan; Ada tiga jalan Gereja Katolik dalam melaksanakan tugasnya di dunia zaman ini; 1. Kesadaran Diri; Usaha untuk mengenal kembali asal, identitas, kodrat, misi dan tujuan peziarahan di dunia ini. 2. Pembaruan Diri; Perjuangan untuk membawa anggota Gereja sampai pada realisasi diri sesuai dengan kesadaran diri Gereja. 3. Dialog; Tindakan konkret masuk dalam dunia sebagai salah satu wujud pembaruan diri Gereja.

Kendati demikian, tentu bahwa cara yang Fransiskus gunakan ketika menghadap Sri Sultan merupakan awal suatu perkembangan baru, suatu tanda kenabian dan sikap yang baru. Fransiskus menghayati tuntunan Injil yaitu mengembangkan sikap toleransi dan keterbukaan dengan tak henti-hentinya mewartakan Injil. Maka bagi Fransiskus, bagaimanapun kita harus tetap bertahan, hadir dalam kebencian dengan cintakasih. Sebab katanya, jika kita lari dari kenyataan itu, maka sama saja kita hanya membiarkan situasi berkembang lebih jauh menuju jalan hitam. Tetapi kita harus yakin bahwa benih yang kita tanam dalam hati orang lain – entah itu benih cinta, pengampunan, iman, harapan, terang atau kegembiraan – akan bertumbuh menjadi sesuatu yang baik.

Kasih sejati ialah kasih yang mampu menembus sekat-sekat yang menghalangi persatuan serta persaudaraan antar umat manusia. Sekat tersebut dibuat manusia karna adanya perbedaan satu sama lain. Perbedaan yang seharusnya diterima untuk semakin melengkapi serta menyempurnakan kehidupan bersama, malahan dijadikan alasan utuk memisahkan diri satu sama lain. Masyarakat tanpa kasih tak mungkin memuliakan nama Tuhan melainkan memuliakan diri, kelompoknya sendiri betapapun  itu mengatasnamakan agama. Teresa dari Kalkuta, melalui pelayanannya yang mencintai semua orang yang membutuhkan kasih, merobohkan tembok-tembok pemisah. Ia dengan hati yang tulus membagi kasih tanpa memandang perbedaan.

Baca juga  Perayaan 800 Tahun Pertemuan St. Fransiskus Assisi dan Sultan Malik Al Kamil

Orang tidak akan dapat memaklumkan perdamaian dengan mulut tanpa keluar dari lubuk hati terdalam. Sebab, untuk menjadi pembawa-penggerak perdamaian pertama-tama perlu menerima anugerah ilahi akan perdamaian dan memiliki rasa damai dalam diri sendiri, damai dengan Allah dan sesama saudara. Hanya orang yang memiliki rekonsiliasi, yakni harmoni dan keseimbangan, bisa menjadi pelaksana sejati perdamaian dalam Gereja dan dunia. Kadamaian batiniah mereka terkonkretkan dalam suatu misi perdamain dan rekonsiliasi. Oleh karena damai itu menjiwai hati Fransiskus maka orang yang berjumpa dengannya juga merasakan kedamaian.

Dengan keyakinan bahwa umat manusia mempunyai asal dan tujuan yang sama (bdk NA 1-2), maka menjadi kewjiban kita untuk saling mengasihi dan memperjuangkan manusia itu supaya semakin manusiawi. Adalah lebih relevan ketika kita hadir, berjumpa dan melakukan yang baik apa yang bisa kita perbuat/ berikan kepada semua orang tanpa harus membeda-bedakan. Dengan sendirinya walau perlahan namun pasti, orang akan merasakan, mengalami dan akhirnya mengenal iman yang mendorong kita melakukan hal-hal baik tersebut. Dengan kata lain, untuk mewujudkan tugas Misi Gereja saat ini mau tidak mau kita harus kreatif dalam praksis  namun tetap setia dalam iman.

 

Kasih merobohkan tembok pemisah dalam Perbedaan

Belajar dari semangat Fransiskus Asisi, kiranya membantu kita berdialog dengan baik dan benar pada zaman ini. Tanpa harus memamerkan ajaran/ dogma agama mana yang paling benar, tetapi kita hadir memperjuangkan kehidupan dan kebenaran itu melalui praksis hidup dengan semangat kasih yang tulus. Biarlah iman itu kita wartakan melalui sikap dan tindakan kita yang dengan penuh kasih kepada semua orang yang kita jumpai. “Perjumpaan dengan semangat kasih menjadi pintu gerbang bagi kita untuk berdialog dengan baik dan benar, sebab Kasih mampu merobohkan tembok-tembok pemisah dalam perbedaan”.

 

(Sr. M. Egidia Sitanggang, SFD)

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *