MENDENGARKAN DENGAN HATI

 281 total views,  2 views today

“Jika Mendengar dengan Hati Penuh Kasih, Hadirlah Tindakan Mencerminkan Nilai Roh Kudus”

 

Dalam dua tahun terakhir, Bapa Suci Paus Fransiskus selalu memilih tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia dengan kata-kata yang cukup sederhana. Tahun 2021 Bapa Paus memilih tema “Datang dan Melihat”, dan tahun ini dengan tema “Mendengarkan dengan Hati”. Kata melihat dan mendengarkan ini adalah kata yang sangat sederhana, tindakan dasar yang berasal dari tubuh kita karena melibatkan indra kita. Saya mencoba menelaah apa yang dapat diharapkan dari kedua tema yang disampaikan oleh Paus Fransiskus dalam Hari Komunikasi Sosial Sedunia.

Tindakan melihat dan mendengar ini adalah tindakan yang sangat sederhana namun sering disepelekan. Sedari lahir di dunia ini hal pertama yang kita lakukan adalah melihat dunia dan mendengar dunia, kemudian kita bersuara di dunia melalui tangisan pertama kita. Adapun maksud dari Bapa Paus dalam kedua tema ini adalah melalui hal kecil yang sangat sederhana kita dapat menandakan bahwa kita hidup, dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik kepada dunia.

Hal ini dapat kita aplikasikan dengan melihat kondisi pandemi yang sudah berjalan 2 tahun ini, maka sebagai orang-orang yang hidup kita perlu belajar lagi untuk melihat dan mendengarkan sekitar kita.

 

HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-56 : MENDENGARKAN DENGAN HATI

Pada tahun ini kita merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 56 dengan tema “Mendengarkan dengan Hati”. Tindakan mendengar ini merupakan tindakan dasar yang sangat sederhana, tidak membutuhkan tenaga ekstra, namun sering dianggap “biasa saja”. Dalam kehidupan sehati-hari, mendengar diperlukan sebagai jalan masuk dari sebuah informasi yang kemudian disalurkan ke akal budi kita sehingga kta tahu harus melakukan sesuatu. Mendengarkan ini sangat penting, bahkan ada pepatah yang mengatakan “alangkah baiknya lebih banyak mendengar daripada berbicara”. Hal ini dikarenakan dengan banyak mendengar membuat kita semakin bijaksana, siapapun yg bericara kepada kita akan merasa senang jika kita mendengarkannya dengan baik. Apalagi ditengah perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi saat ini, sering orang merasa sangat rindu untuk didengarkan. Bahkan banyak orang yang salah menempatkan pendengarannya, lebih dominan mendengarkan yang jauh di dunia maya dibandingkan mendengarkan yang dekat dengannya di dunia nyata. Bahkan tak bisa kita pungkiri bahwa banyak orang yang mengalamai stres saat ini karena kurang mendengarkan, salah mendengarkan bahkan kurang didengarkan. Tenyata hal kecil seperti ini memicu munculnya banyak penyakit dalam tubuh kita.

Baca juga  Paus Fransiskus: Orang Kristen Hendaknya Terbuka Atas Kemurahan Hati Tuhan

 

MENDENGARKAN SUARA TUHAN DENGAN HATI

Melihat realita yang terjadi saat ini, maka Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk “mendengarkan dengaan hati”. Cara mendengar seperti ini lebih dalam maknanya daripada mendengarkan dari telinga kita. Kita mendengar seruan Tuhan, mengolah rasa rendah hati dan belas kasih kita.

Tuhan ingin kita mendengarkan-Nya, St. Paulus dalam suratnya di Roma menyampaikan “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Ini mengartikan bahwa mendengar adalah jalan terbaik untuk membangun iman kita, yakni mendengar firman Tuhan. Mendengar firman Tuhan dengan hati membuat kita mampu utk menelaah firman itu dalam akal budi dan melaksanakannya. Dahulu Adam dan Hawa di Taman Eden juga mendengarkan apa yang dismapaikan oleh Tuhan, termasuk larangan untuk memakan satu jenis buah yang berada di taman itu. Namun dikarenakan hanya sekedar mendengar dan bukan mendengar dengan hati maka larangan itu diabaikan.

Pandemi covid-19 yang sudah berjalan 2 tahun ini cukup memukul banyak pihak dan dampaknya masih terasa sampai saat ini. Seruan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56 ini tampaknya sangat relevam dengan kondisi saat ini. Kita semua bertelinga tetapi sering lalai untuk mendengarkan orang lain secara batiniah. Bahkan Bapa Suci kita menyampaikan saat ini banyak orang yang tidak mendengar, malah menguping dan memata-matai demi kepentingannya sendiri. Mendengarkan dengan hati membuat kita semakin bijaksana dan menjadi berkat untuk banyak orang. Tidak hanya menerima kata melalui telinga, namun baiknya kita mampu mengolahnya dalam hati untuk dijadikan sebuah rasa. Paus menyampaikan sebuah contoh bagaimana kita pada awal pendemi menghadapi ketidakpercayaan atas berbagai informasi mengenai covid-19 ini sehingga dunia informasi harus berjuang lebih keras untuk menjadi informan yang transparan dan dapat dipercaya oleh publik. Padahal kita perlu mendengar lebih dalam dengan kerendahan hati kita begitu banyaknya permasalahan sosial, kesehatan dan ekonomi akibat pandemi ini.

Dalam pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56, Paus bertanya kepada kita mengapa kita harus berjuang untuk mendengarkan? Hal ini dapat disimpulkan dengan satu jawaban, yaitu demi mendapatkan suatu kebaikan. Sebagai anak-anak Allah, kita perlu mendengarkan dan mengasihi. Begitu kompleksnya permasalahan yang ada di dunia, akan lebih berkualitas pendengaran kita jika dibarengi dengan tindakan-tindakan kasih.

Baca juga  Paus Fransiskus Serukan Umat Manusia Doa dan Puasa Bersama Pada 14 Mei 2020

Pandemi covid-19, bencana alam, kekerasan kemanusiaan, hingga perang antar negara tidak akan pernah berhenti tanpa adanya kemauan untuk mendengarkan dan mengasihi. Sebagai anak-anak Allah yang juga adalah anggota dalam Gereja-Nya yang kudus, alangkah baiknya kita dapat mewujudkan harmoninya mendengarkan dengan hati dan selalu mengasihi dengan tulus.

 

PENGALAMAN SEBAGAI DOKTER RSDC WISMA ATLET

Saya bertugas sebagai sebagai seorang dokter di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran sejak Oktober 2020 sampai Mei 2022, tentu banyak tantangan yang harus dihadapi terutama perihal “mendengarkan dengan hati”. Menyaksikan ribuan pasien dengan riuhnya suara kepanikan, banyaknya pasien yang harus “berpulang”, suara sirine yang lalu lalang. Namun tampaknya karena rasa ego yang menutupi pendengaran dan hati, membuat orang-orang diluar tidak peduli dengan keadaan yang ada. Berbagai himbauan dari pemerintah mengenai penerapan protokol kesehatan dan pembatasan kegiatan sosial tidak diindahkan. Semua berkutat pada rasa ego dan rasa tidak siap untuk mendengarkan dengan hati.

Kekeliruan ini dapat dibuktikan dengan setiap akhir pekan maupun hari besar tertentu, pasien selalu membludak. Saya dan rekan-rekan medis hanya bisa bersabar dan selalu sigap mendengarkan setiap keluhan, melayani setiap yang sakit dan memberi penghiburan di setiap kesedihan. Tentu sebagai manusia, ada pilihan tersendiri utk keluar dari dunia pelayanan ini, tetapi sebagai anggota Gereja-Nya yang kudus, tentu kita harus mampu menikmati setiap proses ini. Inilah bentuk pelayanan kita. Seturut dengan salah satu pesan yang disampaikan oleh Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56, pendengaran dari hati membutuhkan keutamaan kesabaran, bahkan menjadi “martir atas kesabaran”.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana saya dan rekan-rekan medis membangun komunikasi yang baik, memberikan jalan keluar dan menjadi pendengar yang ramah pada kondisi pasien maupun keluarga pasien. Saya menyadari bahwa pada kesempatan ini dibutuhkan kemampuan mendengarkan, memperhatikan dan memahami. Jika hanya sekedar mendengarkan maka tidak hadir solusi, namun jika mendengarkan dengan hati yang penuh kasih maka hadirlah tindakan-tindakan yang mencerminkan nilai-nilai Roh Kudus.

 

oleh dr. Betsheba Elisabeth (umat Keuskupan Agung Medan)

Facebook Comments

Ananta Bangun

Pegawai Komisi Komsos KAM | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply