MELIHAT DENGAN MATA IMAN

 2,077 total views,  1 views today

RP. Frans Sihol Situmorang, OFMCap Dosen STFT Pematangsiantar

Kis 4:32-35; 1Joh 5:1-6; Joh 20:19-31/Hari Minggu Paskah II

Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya

Murid-murid berkumpul di sebuah tempat yang tertutup. Mereka kuatir mendapat perlakuan buruk dari orang Yahudi. Tiba-tiba Yesus berdiri di tengah mereka. Mereka bingung, takut, sekaligus gembira karena berjumpa lagi dengan Yesus. Mereka mengira Yesus sudah berada dunia orang mati dan tak menduga akan bangkit. Yesus tidak menyinggung masa lalu, tetapi berkata, “Damai sejahtera bagi kamu.” Yesus menunjukkan luka-luka-Nya untuk menyatakan bahwa Dialah Guru yang selama ini mereka ikuti. Bekas luka itu menyingkirkan keraguan para murid. Yesus menghembusi mereka dengan Roh Kudus dan menugasi mereka sebagai utusan untuk membawa pengampunan.

Pada waktu itu, Tomas tidak hadir. Ketika Tomas datang, murid-murid berkata bahwa mereka telah melihat Tuhan. Tomas berkata, ia tidak percaya sebelum melihat dengan mata kepala sendiri. Delapan hari kemudian, ketika para murid -termasuk Tomas- berkumpul di ruangan tertutup, Yesus datang dan berdiri di tengah mereka serta memberi salam. Yesus tahu situasi hati Tomas. Ia meminta Tomas untuk melakukan apa yang dapat membuatnya percaya. Tomas tidak mengira Yesus akan datang untuknya. Ia menyembah, katanya, “Tuhanku dan Allahku.” Tomas tidak melakukan apa yang telah ia rencanakan. Yesus tidak mengecam Tomas juga tidak memuji pengakuan yang diucapkannya. Yesus justru menyampaikan berkat bagi mereka yang tidak melihat Dia bangkit namun percaya.

Di saat sedang putus asa, saya pergi melihat tukang batu yang memukulkan palunya berkali-kali pada batu. Meski sudah berkali-kali menganyunkan palunya, batu itu belum juga retak. Tapi, pada pukulan yang ke sekian puluh kali, batu itu terpecah menjadi dua. Saat itu saya sadar bahwa bukan pukulan terakhir saja yang memecahkan batu itu, tapi semua pukulan yang sudah dilakukan sebelumnya.

Derita dan wafat Yesus menjadi pukulan berat bagi para murid. Ia yang diharapkan membawa kebebasan malah wafat secara tragis di salib. Seperti Tomas, kita juga kerap merasa perjuangan kita sia-sia. Iman kita lesu. Kita bukan hanya sulit percaya, tapi mempertanyakan apa gunanya percaya. Kita disadarkan bahwa iman lebih dari sekedar keyakinan yang didasarkan pada bukti. Percaya berarti berserah diri kepada Allah dan menapaki hidup dalam keyakinan disertai Tuhan. Jalan yang ditunjukkan Tuhan kadang sulit kita pahami. Namun, rencana Tuhan pasti indah. Hal yang kerap sulit bagi kita bukan menggulingkan batu penutup dari makam, tapi membuang kekerdilan iman kita. Kita kerap lebih yakin pada kekuatan kita sendiri.

Yesus yang bangkit menyapa para murid-Nya dengan damai sejahtera dan menghembusi mereka dengan Roh Kudus kemudian mengutus mereka mewartakan kasih dan pengampunan dari Allah. Damai adalah kerinduan hati manusia yang terdalam. Kita yang merayakan Paskah diutus untuk membawa damai dengan saling mengampuni. Minggu Paskah II dinamai Minggu Kerahiman. Dalam Yesus yang menderita, wafat dan bangkit, Allah telah memperlihatkan belaskasih-Nya bagi kita. Kita diajak menjadi murid Kristus yang berbelas kasih, lemah lembut dan murah hati. Kita mendapat perutusan dari Tuhan untuk membawa damai dan pengampunan. Amin.

Facebook Comments
Baca juga  Semangat "Menjemaat" Keuskupan Agung Medan

Leave a Reply