TERPUJILAH YANG DATANG ATAS NAMA TUHAN

 2,337 total views,  3 views today

RP. Hubertus Agustus Lidy, OSC.

Yes 50: 4 – 7, Fil 2: 6 -11, Mrk 14: 1 – 15:47

Perjalanan pewartaan atau pastoral Yesus, mulai dari Galilea ke Yerusalem. Hari Minggu Palem atau Dominggo de Ramos, kita merayakan peristiwa Yesus masuk kota Yerusalem. Tuhan Yesus merupakan seorang pribadi yang sangat terkenal karena perbuatan-perbuatan baik-Nya. Sehingga tidak mengherankan banyak orang yang senang kehadiran-Nya dan mencari untuk bertemu. Sisi lain banyak orang juga merasa terancam, dengan daya kritisi Yesus, terutama para “penjilat”, kaum munafik, dan para penindas. Ia tidak mengenal kompromi kalau berurusan dengan kebenaran. Singkat kata ada pro dan kontra.

Misi utama Yesus di dunia ini adalah: Mewartakan Kerajaan Allah. Bagi-Nya, Allah yang memimpin dan menuntun hidup manusia. Allah yang membebaskan dan menyelamatkan manusia dari dosa dan penindasan. Orang mati dihidupkan, sakit disembuhkan, orang lumpuh bisa berjalan. Mereka yang letih-lesu, dan berbeban berat berbondong-bondong mencari-Nya. Hal itu terjadi karena kasih dan kebaikan Allah. Pertobatan dan kembali ke jalan yang benar merupakan perbuatan terpuji. Sebuah misi yang menarik, sisi lain menantang dan penuh dengan resiko. Tidak mengherankan kala Yesus memasuki kota Yerusalem mereka meneriakkan yel-yel: “Hosana! Terpujilah yang datang atas nama Tuhan, Raja umat Israel.”

Hari Minggu Palem merupakan pembukaan Perayaan Pekan suci atau Semana Santa yang berpuncak pada hari Minggu Paskah Raya. Pada hari Minggu ini kita mendengarkan Kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus menurut santo Markus. Kisah sengsara Tuhan pada Minggu Palem  dari Injil-Injil Sinoptik (Mateus, Markus,dan Lukas) Hari Minggu ini dari Injil Markus karena Tahun Liturgi B. Kisah Sengsara Tuhan pada Jumad Agung dari Injil Yohanes.

Peristiwa Yesus masuk kota Yerusalem menunjukan totalitas pengorbanan-Nya, demi membebaskan manusia dari perbudakan dosa. Ia hadir sebagai Raja kemanusian. Pemimpin yang berjuang habis-habisan untuk umat-Nya. Raja yang rela menderita dan mati demi orang banyak. “Tuhan Allah membuka telingaku, dan aku tidak melawan pun tidak mundur, Punggungku kubiarkan dipukuli orang, daguku kuserahkan kepada yang mencabut janggutku, dan aku tidak memalingkan wajahku dari cercaan dan ludahan.”

Warna liturgis, pada Minggu Palem, merah. Waktu aku di Medan selalu menyaksikan bahwa pada hari Minggu Palem dan Jumat Agung, hampir semua umat yang hadir mengenakan busana yang berwarna merah.  Warna merah amat dominan dalam perayaan tersebut. Warna merah sebagai symbol kebenarian dan pengorbanan. Merah darah. Dalam hal ini keberanian Tuhan dan totalitas pengorbanan-Nya. Ia tak gentar ketika para “penjilat dunia” berteriak: “Salibkanlah Dia!” Salib Yesus dalam konteks Injil-Injil Sinoptik merupakan bentuk pengorbanan   Yesus yang tiada tara kepada manusia. Ia membiarkan diri-Nya, menahan sakit dan perih. “Yesus diberi anggur bercampur mur, tetapi ia tidak mau. Lalu mereka menyalibkan-Nya dan membagi-bagi pakayan-Nya dengan membuang undi.”

Saudara dan saudariku, mari kita memaknai pengorbanan Yesus ini dalam kehidupan sehari-hari, agar pengorbanan-Nya, tidak menjadi sia-sia. Pengorbanan kita tentu tidak sedahsyat pengorbanan Yesus. Utama bagi kita adalah: rela dan berani membaktikan hidup ini untuk kepentingan dan kebaikan sesama. “Sungguh Orang ini Putera Allah.” (Hari Minggu Palem – 2021)

Facebook Comments
Baca juga  INGIN BERTEMU DENGAN YESUS

Leave a Reply