KAMI TELAH MELIHAT TUHAN

 2,177 total views,  1 views today

RP. Hubertus Agustus, OSC

Kis 4:32 -35, I Yoh 5: 1 -6, Yoh 20: 19 -31

Damai adalah tanda Tuhan hadir. Dalam konteks para rasul, sebagaimana kisah Injil hari Minggu ini, damai berarti bebas dari rasa takut, merasa aman dan nyaman. “Karena takut akan orang Yahudi, lagi pula hari sudah malam, maka pintu-pintu rumah dikunci.” Bukan hanya pintu yang ditutup, juga mulut dan hati. Orang lagi ketakutan dan sedang bersembunyi, cenderung diam dan fokus pada keamanan dirinya. Tidak mengherankan Thomas mencari tempat di luar yang mungkin lebih aman, sehingga saat kunjungan Yesus yang pertama, ia tidak berada bersama teman-temannya.

Ketika melihat Tuhan, para rasul sangat bahagia, serasa damai, dan kenyamanan sedang menyelimuti kelompok itu. Mereka tidak berteriak hantu, sebagaimana pengalaman sebelumnya. Mereka semakin mengenal dan merindukan kehadiran Tuhan. Hantu atau orang jahat apapun wujud, walaupun sudah memolesnya sedemikian rupa, tetap saja menakutkan dan mengancam kedamaian.  Pada saat yang sama mulut dan hati rasul-asul  terbuka, mereka berani berbicara, bercerita, bahwa Yesus bangkit. Begitu Tomas muncul mereka mengatakan, “Kami telah melihat Tuhan.” Berita yang menggembirakan dan mengejutkan bagi Tomas.

Peran Yesus bagi para rasul, berbeda, sebelum kebangkitan dan sesudah kebangkitan. Sebelum kebangkitan para rasul: melihat, belajar, dan membantu Yesus. Sesudah kebangkitan para rasul menjadi pelaku utama, Yesus hadir dan menyertai. “Terimalah Roh Kudus. Jika kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jika kamu mengatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada. Yesus menyertai misi rasul-rasul dengan spirit dan semangatnya.

Tipikal peran Yesus yang baru, inilah yang diwartakan para rasul, untuk memberi semangat kepada orang-orang yang percaya. Mereka berkumpul sebagai saudara-saudari saling membantu dan memperhatikan sesama. spirit kebersamaan. “Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah.”  Bagi orang-orang percaya persaudaraan merupakan prioritas, materi atau hal duniawi bermanfaat untuk memaknai nilai persaudaraan atau kemanusiaan. Tidak sebaliknya, materi dan hal duniawi membuat manusia menjadi rakus dan buas sehingga tidak segan mengorbankan sesamanya. Yohanes menekankan bahwa  identitas orang-orang yang percaya akan kebangkitan Kristus adalah “lahir dari Allah,” menjadi bagian dari keluarga besar Allah karena Kristus yang adalah Tuhan dan saudara para beriman.

Saudara dan saudariku!  Misi rasul-rasul dan orang-orang percaya, sesuai dengan penugasan Yesus adalah mengampuni. Pertanyaannya, siapa orang yang pertama, yang dosanya diampuni? Jawabannya: Diri, atau pribadi dari yang mendapat penugasan itu. Contoh rasul-rasul, mereka mesti mengampuni diri sendiri, karena masih menyimpan marah dan kesal kepada orang-orang yang menyalibkan Yesus. Kita mengingat kembali doa Yesus dari atas Salib: “Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu akan apa yang mereka lakukan.” Pengampunan kepada diri sendiri akan membuka pintu pengampunan kepada orang lain. Tuhan hadir dalam kasih dan pengampunan.

Mari kita bertemu Tuhan yang bangkit dalam kasih, persaudaraan, saling mengampuni damai satu dengan yang lain. Biarlah kerahiman Tuhan merajai hidup kita. “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Hari Minggu II Paskah, Minggu Kerahiman (misericordia) – 2021)

Facebook Comments
Baca juga  BACAAN INJIL, SABTU 19 SEPTEMBER 2020

Leave a Reply