“Mata Setiap Orang Tertuju KepadaNya” Oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap.

 7,951 total views,  2 views today

Refleksi pada hari Pengudusan Imam 2022 

Setiap tahun di masing-masing keuskupan diadakan pemberkatan minyak Pengurapan Orang Sakit, minyak Katekumen dan pengudusan Minyak Krisma sekitar Hari Raya Paskah. Penentuan hari dan waktunya tergantung situasi keuskupan masing-masing.

Bisa saja sebelum, dalam atau sesudah Minggu Suci. Keuskupan Agung Medan (KAM) sudah sejak tahun 1992 merayakan momen ini dalam dan untuk memaknai Minggu Suci, di hari Senin dan Selasa, yang diadakan sekaligus dengan rekoleksi dalam rangka pengudusan imam.

Pada hari pengudusan ini para imam KAM berkumpul untuk mengadakan rekoleksi dan refleksi bersama. Tempat yang paling ideal untuk merayakan ekaristi pemberkatan dan pengudusan minyak tadi adalah gereja Katedral. Selama ini tempat pertemuan para imam lebih sering dikalsanakan di kota Pematangsiantar, mengingat kota ini sentral dari letak geografis. Dua tahun terkhir ini pertemuan dan misa stasional ini dilaksanakan di gereja Katedral dan pertemuan para imam dilaksanakan di Catholic Centre.

Hari pengudusan imam ditutup dengan perayaan Ekaristi yang di dalamnya diadakan pembaruan janji imamat. Hari di mana para imam merayakan dan mengenang Tahbisan yang telah diterima dari Allah. Dalam mengenangkan peristiwa tahbisan ini para imam hendak membarui janji yang mereka ucapkan ketika mereka ditahbiskan.

Dalam kesempatan membarui janji imamat ini para imam diajak untuk melihat pribadi yang memanggil mereka untuk ikut serta dalam karya penebusanNya.

Setiap tahun Injil yang dibacakan pada perayaan misa pengudusan imam diambil dari perikop Injil Lukas 4, 16-20 yang mengisahkan  pewartaan meriah tentang hidup dan misi Yesus. Lewat perikop Injil ini Yesus diperkenalkan kepada pembaca. Siapa itu Yesus dan apa misiNya datang ke dunia ini. Yesus itu adalah pribadi yang dalam dirinya hadir Roh Allah, dan yang diperkenalkan sebagai Anak yang dikasihi oleh Allah. Dia yang dikasihi oleh Allah ini menempatkan relasi dengan Allah menjadi hal pertama dan utama.

Ada satu hal yang sungguh menarik bagi saya setelah membaca dan merenungkan perikop Injil tadi. Hal yang menarik bagi saya adalah ekspresi lewat pandangan dari semua orang setelah Yesus membacakan Nas yang berasal dari nabi Yesaya itu. Apa itu?

Mata semua orang tertuju kepadaNya. Mengapa mata orang tertuju kepadaNya?

Semua orang yang hadir di sinagoga telah mengalami selama ini bahwa  Yesus sungguh sebagai pribadi yang betah tinggal di rumah Allah. Mereka menyaksikan bahwa orang muda ini setiap hari Sabat masuk ke rumah Allah.

Lukas mencatat: “Dia masuk ke sinagoga, sebagaimana biasanya Dia lakukan pada hari Sabath”. Untuk Yesus perjumpaan dengan Allah adalah hal yang pertama dan utama.

KepadaNya diberikan Kitab Taurat. Ketika Dia  membuka dan  membaca Nas yang berasal dari nabi Yesaya, pengharapan mereka akan kedatangan Mesias ditumbuhkan kembali. Mesias yang diharapkan oleh bangsa Israel adalah pribadi yang tugas utamanya: “Memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan”.

Baca juga  Paus Fransiskus Sambut Kehadiran Uskup Se-Indonesia

Ini artinya membuat dan menuntun orang dapat kembali kepada Tuhan, Mereka yang tadinya mempunyai status sebagai ‘tawanan’, artinya ditawan oleh kuasa kegelapan dan dosa baik dari luar maupun dari dalam diri, sekarang menjadi bebas sehingga dapat memandangi kehadiran-Nya, yang tadinya ‘buta’ sekarang mempunyai kemampuan untuk melihat.

Yang tadinya tertindas oleh persepsi dan pandangan yang sesat, kini memiliki hati dan pikiran orang lega. Mesias yang dinantikan itu adalah pembawa berita gembira bahwa ‘tahun rahmat sudah datang’.

Dalam tahun rahmat inilah Mesias tadi hidup di tengah-tengah orang banyak, memberitakan Kerajaan Allah, menghidupkan harapan, menyembuhkan, mengusir setan. Inilah Mesias yang diharapkan oleh bangsa Israel. Inilah yang diperdengarkan Yesus kepada orang yang hadir di Sinagoga itu.

Yesus setelah membacakan Nas nabi Yesaya tadi, kembali menggulung kitab itu dan mengembalikannya kepada petugas. Kitab Taurat itu setelah dibaca kemudian digulung kembali, artinya ditutup. Setelah peristiwa inilah terjadi bahwa mata semua orang yang ada di rumah ibadat itu tertuju kepadaNya.

Ketika saya merenung-renungkan teks ini, dan saya memposisikan diri hadir dan menjadi salah satu dari orang yang ada di Sinagoga itu saya melihat dan mengamati bahwa mata yang tertuju kepada Yesus ini bukanlah mata pesimistis, bukan mata curiga yang memata-matai, bukan pula mata cuek, sinis dan takut, apalagi mata keranjang.

Saya mengamati bahwa semua orang melihat Yesus dengan mata pengharapan. Mereka mempunyai pengharapan bahwa dalam pribadi yang sedang membacakan Nas dari Kitab nabi Yesaya ini ada kemampuan untuk membuka mata setiap orang akan realitas Allah, mereka melihat dalam diri Yesus ada potensi untuk membawa orang yang ditawan oleh kuasa kegelapan dan dosa kepada kelepasan dan kemerdekaan untuk memandangi kehadiran Allah.

Dalam permenungan penginjil Lukas harapan orang Jahudi tadi dijawab oleh Yesus dengan perkataan ini “ayat-ayat alkitab ini pada hari ini terpenuhi pada saat kalian mendengarkannya”. Secara implisit Yesus mengatakan kepada mereka yang hadir dalam sinagoga itu bahwa Dialah mesias yang dinantikan itu.

Jika kita melanjutkan membaca perikop-perikop berikut dari Injil Lukas nyata bahwa apa yang dikatakan Yesus sungguh terpenuhi. Yesus menyembuhkan banyak orang sakit, mengusir roh-roh jahat. Yesus memang menutup kita nabi Yesaya. Dengan demikian Yesus segera membuka Kitab baru dalam diriNya. Lembaran kehidupan Yesus menjadi Kitab baru. Injil yang kita baca dan renungkan adalah kitab kehidupan dari Yesus sendiri.

Peristiwa yang kita dengarkan tadi terjadi setelah Yesus dibaptis dan kemudian dicobai oleh iblis. Imam adalah alter Cristi. Sebagaimana dalam diri Yesus Roh Tuhan hadir, demikian juga berkat baptisan dan terutama tahbisan dan pengurapan suci Roh Kudus dicurahkan dan hadir dalam diri setiap imam.

Saya dan para imam telah diurapi dengan minyak Krisma pada hari pentahbisan. Sebagaimana Kristus adalah guru, imam dan raja demikian juga para imam mempunyai gelar, dengan pengurapan yang telah para imam terima, juga diangkat menjadi guru, imam dan raja. Roh Kudus telah mentahbiskan dan mengurapi para imam menjadi guru, imam, dan raja.

Mata semua orang yang ada di rumah ibadat itu tertuju kepadaNya. Mata semua orang juga tertuju kepada para imam. Mata yang tertuju ini adalah mata pengharapan. Umat Allah berharap banyak dari para imam para gembala.

Baca juga  KABAR SUKACITA DARI KISAH SENGSARA YESUS

Mereka berharap bahwa para imam sanggup membuat mata mereka melihat hal yang menakjubkan dalam peristiwa yang biasa, mereka berharap bahwa para imam sanggup mengkondisikan perjumpaan mereka dengan Allah, mereka berharap bahwa para imam sanggup melepaskan mereka dari belenggu dan dosa yang membutakan mereka akan kehadiran Allah. Mereka berharap akan kehadiran para imam yang berjalan bersama mereka, yang mengenal dan peduli dengan keprihatian dan kebutuhan mereka, yang mau berkunjung ke rumah mereka.

Umat Allah yang terkasih. Kami para imam di KAM ini  berusaha menjawab harapan umat tadi dengan sungguh seperti gembala berbau domba. Banyak dari antara kami para imam terlibat total dalam kehidupan menjemaat, mempunyai waktu hanya sedikit untuk diri sendiri, bahkan ada yang tidak sempat mengurus diri, wajah letih karena kerasulan.

Mempunyai agenda kerasulan yang padat. Hati dan pikiran para imam ini dipenuhi oleh sebanyak persoalah umat yang digembalakan.

Dalam satu hari emosi para imam bisa berubah sejauh peristiwa yang dihadapi, gembira ketika merayakan hari ulang tahun, pesta perkawinan, syukuran dan sedih ketika menghadapi kemalangan, pengurapan orang sakit. Dan peristiwa seperti ini bisa dihadapi para iman beberapa kali dalam satu hari.

Kami para imam juga menyadari bahwa mereka adalah pribadi lemah.  Para imam sering kurang memupuk relasi mendalam dengan Allah.  Mengatakan diri sibuk tetapi sibuk dengan diri sendiri.

Seharusnya para imam lewat aksi dan kata membuat banyak orang sanggup melihat kehadiran Allah, tetapi sering terjadi bahwa kata dan tindakan para imam menggelapkan mata banyak orang akan realitas Allah.

Para imam sering kurang kreatif, proaktif dan innovatif.

Kami sering menjadi penonton daripada pemain. Kurang sanggup melihat hal yang menakjubkan dari peristiwa biasa, sering lebih melihat nominal kolekte dari pada hati yang memberi kolekte tersebut.

Kurang menjadi sarana pengudusan umat karena bertindak semborono. Karena itulah pada hari pengudusan, para imam ingin membarui janji imamat.

Para imam sadar bahwa mata semua orang tertuju kepada mereka, menaruh harapan besar dari kami. Para imam tidak ingin bahwa umat Allah memalingkan mata dari mereka. Maka kami para imam mohon agar umat Allah mendoakan kami agar kami sungguh mampu menjadi Alter Cristi. Amin.

* Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

Facebook Comments

Leave a Reply