Lebih dari 70.000 Umat Akan Hadiri Beatifikasi Imam Martir Vietnam

Perayaan 80 tahun Pastor Xavier Truong Buu Diep di Gereja Tac Say Church pada 12 Maret 2026.(Photo:Diocese of Can Yho)

Tan Tho, Vietnam – Gereja Katolik di Vietnam sedang mempersiapkan diri untuk menyambut lebih dari 70.000 peziarah yang diperkirakan akan menghadiri upacara beatifikasi Imam Martir Romo Fransiskus Xaverius Truong Buu Diep, yang wafat demi mempertahankan iman pada tahun 1946.

Upacara beatifikasi dijadwalkan berlangsung pada 2 Juli di Pusat Ziarah Tac Say, Keuskupan Can Tho, Vietnam Selatan.

Vikaris Jenderal Keuskupan Can Tho, Romo Petrus Vu Van Hai, menyebut peristiwa tersebut sebagai “tonggak sejarah yang penuh rahmat” bagi Gereja lokal.

“Perayaan agung ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat Katolik setempat, tetapi terbuka bagi semua orang yang ingin berdoa, bersekutu, dan berpartisipasi dalam suasana khidmat, tertib, dan penuh devosi,” ujarnya.

Upacara tersebut akan dipimpin oleh Kardinal Luis Antonio Tagle, Pro-Prefek Dikasteri Evangelisasi Vatikan, yang hadir sebagai utusan khusus Paus Leo XIV.

Untuk menampung membludaknya peziarah, keuskupan telah membangun area utama seluas lima hektar di seberang Gereja Tac Say dengan kapasitas sekitar 47.000 orang. Selain itu, area di sekitar gereja yang menjadi lokasi makam Romo Diep juga telah dilengkapi layar LED raksasa, sistem tata suara, serta tenda-tenda yang dapat menampung sekitar 25.000 peziarah tambahan.

Seluruh infrastruktur pendukung, termasuk pos kesehatan, pengaturan lalu lintas, dan fasilitas sanitasi, ditargetkan selesai pada 25 Juni. Sebuah orkestra tiup besar yang terdiri atas 535 musisi dari Keuskupan Bui Chu di Vietnam Utara juga akan turut memeriahkan perayaan.

Sebagai bentuk pelayanan kepada para peziarah, umat Katolik setempat telah menyumbangkan lebih dari 40.000 paket sarapan gratis agar para peserta tidak perlu meninggalkan lokasi sebelum Misa pagi dimulai.

Potret dan Patung Resmi Baru

Menjelang beatifikasi, Keuskupan Can Tho juga memperkenalkan potret dan patung resmi Romo Diep yang direkonstruksi berdasarkan data sejarah autentik. Gambar resmi ini akan menggantikan ilustrasi yang telah beredar luas sejak tahun 1997.

Romo Hai menjelaskan bahwa foto asli Romo Diep yang diambil antara tahun 1930 hingga 1940 berhasil ditemukan dari seorang imam lanjut usia di Keuskupan Long Xuyen setelah Vatikan mengumumkan tanggal beatifikasi pada tahun 2025.

Patung baru tersebut dipahat oleh seniman Bui Hai Son, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Romo Diep. Patung itu menggambarkan sang martir mengenakan busana imam khas Asia Tenggara pada era 1940-an.

Patung tersebut juga mengandung simbolisme teologis yang mendalam. Tangan kiri memegang Kitab Injil dekat dada sebagai lambang kehidupan yang berakar pada Sabda Allah. Sementara tangan kanan menggenggam daun palma, simbol tradisional kemartiran yang melambangkan kesetiaan total kepada Kristus dan kemenangan iman.

Pada 10 Juni lalu, keuskupan juga meresmikan ruang memorial tradisional dan toko buku di kompleks pusat ziarah. Sementara itu, umat Katolik setempat menjalankan novena persiapan sejak 20 hingga 28 Juni.

Imam yang Memilih Tetap Bersama Umat

Romo Fransiskus Xaverius Truong Buu Diep lahir pada 1 Januari 1897 dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1924. Ia melayani di berbagai daerah pedesaan di Delta Mekong dan berjasa mendirikan sejumlah paroki di Vietnam maupun Kamboja.

Ia dikenal luas karena kepeduliannya terhadap kaum miskin serta keberaniannya melindungi umat Katolik selama Perang Indocina Pertama (1946–1954) yang melibatkan pasukan Perancis dan kaum komunis Vietnam.

Ketika kekerasan melanda wilayah pelayanannya, Romo Diep berulang kali diminta meninggalkan paroki demi keselamatan dirinya. Namun ia menolak dan memilih tetap tinggal bersama umatnya.

Pada 12 Maret 1946, ia ditangkap, disiksa, dan dibunuh oleh tentara Jepang yang setelah Perang Dunia II membelot dan bergabung dengan pasukan komunis Vietnam. Setelah dibunuh, tubuhnya yang telah dimutilasi dibuang ke sebuah kolam.

Kesaksian hidup dan kemartirannya kemudian menyebar luas hingga melampaui batas-batas agama.

Devosi yang Menjangkau Semua Kalangan

Salah satu contoh datang dari Hong Quang Hoi (42), seorang tukang batu beragama Buddha dan ayah dua anak. Kepada UCA News, ia mengaku berencana menghadiri upacara beatifikasi untuk menghormati sosok yang ia sebut sebagai “bapa yang penuh belas kasih dan selalu mengasihi kaum miskin.”

Menurutnya, Romo Diep telah mengabulkan doanya setidaknya dua kali setelah ia melakukan ziarah ke makam sang imam pada tahun 2020.

Saat itu, setelah berbulan-bulan menganggur, ia memperoleh pekerjaan tidak lama setelah berziarah. Setahun kemudian, pada 2021, ia selamat meskipun sempat koma selama beberapa hari akibat terjatuh dari ketinggian sekitar 10 meter.

Bagi banyak orang Vietnam, baik Katolik maupun non-Katolik, Romo Fransiskus Xaverius Truong Buu Diep bukan hanya seorang imam martir, tetapi juga simbol pengharapan, belas kasih, dan kesetiaan kepada iman hingga akhir hayat.(UCA NEWS, 22 Juni 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com